Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial (Bagian 4 - Selesai)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 11 Juli 2016
Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial

Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial


Topik ini merupakan tulisan yang saya bawakan pada Diskusi Rabuan Gereja Komunitas Anugerah pada 22 Juni 2016. Saya bagi menjadi 4 seri secara bersambung..

Kategori Acak

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial (Bagian 4 - Selesai)

Transformasi Sosial

Terkait  dengan tranformasi sosial, semua ideologi atau filasafat sosial memiliki pertanyaan pokok yang sama yaitu bagaimana mengubah masyarakat dari tatanann yang sekarang menuju tatanan yang ideal sesuai dengan ideologinya masing-masing.Teori-teori sosial yang muncul karena pertanyaan tersebut memberikan gambaran empiris kondisi masyarakat saat ini dan sekaligus tawaran perubahannya. Begitulah Kuntowijioyo  (1994) mengasumsikan semua ideologi yang memliki target tranfomatif, kecuali teori sosial yang hanya berkepentingan untuk eksplanasi-ekspalanasi antropologis.

Sebagai sebuah ideology social, Islam juga menderivasi teori-teori sosialnya sesuai dengan paradigmanya untuk ransformasi social menuju tatanan masyarakat yang sesuai dengan cita-citanya. Oleh sebab itu, menjadi sangat jelas bahwa Islam sangat berkepentingan pada realitas social, bukan hanya untuk dipahami, tapi juga untuk diubah dan dikendalikan.  Hal ini justru bersumber pada misi ideologinya, yakni cita-cita untuk menegakkan amar makruf nahi munkar dalam masyarakat dalam kerangka keimanan kepada Tuhan. Sementara, amar ma’ruf berarti humanisasi dan emansipasi, sedang nahyi munkar merupakan upaya untuk liberasi, pembebasan. Oleh karena kedua tugas ini berada dalam kerangka keimanan, maka humanisasi dan liberasi merupakan dua sisi yang tak dapat dipisahkan dari transendensi. (Kuntowijoyo, 1994: 338).

Implementasi dari humanisasi dan liberasi ini dalam Islam sejatinya dapat digali melalui sejumlah aspek ritual seperti salat, puasa, zakat dan juga haji. Salah misalnya, selain mengajarkan keseimbangan hidup manusia, juga memiliki pesan moral agar manusia senantiasa memberikan keselamatan dan kedamaian bagi manusia lainnya. Ajaran ini tercermin dari ritual penutup dalam salat, yakni salam, menengok ke kiri dan ke kanan dengan mengucapkan assalamualaikum warahmatullah, keselamatan dan kedamaian serta rahmat bagimmu (yang di sebelah kanan maupun kiri).

Melalui ibadah puasa, kita dapat menggali pesan moral di dalamnya, yakni merasakan bilamana dalam kondisi lapar dan dahaga. Ini adalah symbol tentang keadaan hidup serba berkekurangan, terbatas atau sederhana. Dengan begitu, muncullah kepedulian social pada sesame, terutama terhadap mereka yang hidup dalam himpitan ekonomi. Dari situlah maka, medium sadaqah dan infak menjadi instrument bagi upaya untiuk meminimalisir kesenjangan social di tengah masyarakat.

Demikian pula dengan zakat. Perintah mengeluarkan zakat di dalam Islam merupakan instrument bagi upaya mengentaskan kemiskinan. Hal ini dapat dilakukan jika zakat dikembangkan tidak melulu sebagai pemenuhan kebutuhan konsumtif, melainkan menjadikannya instrument bagi gerakan filantropi produktif. Caranya adalah dengan menjadikan zakat sebagai upaya bagi penguatan masyarakat (community empowering) dan pengembangan ekonomi umat. Zakat tak sekadar ritual yang hanya berdampak sesaat, tapi memiliki kekuatan bagi upaya pengentasan kemiskinan.

Pun dengan ibadah haji, ritual tahunan dengan biaya besar ini tak akan memberikan dampak transformasi social jika hanya dinikmati sebagai wisata religi atau kepuasan spiritual bagi pelakunya. Haji mestinya harus memberikan makna social, yakni sebagaimana terekam dalam kisah sufi, dimana haji mabrur adalah ketika kita berani memberikan kekayaan yang kita miliki bagi mereka yang berkekurangan. Dengan begitu, ritual haji tak hanya memberikan dampak kebaikan bagi pelakunya, tapi juga orang-orang yang berada dalam kondisi lemah ekonominya.

Tentu saja masih banyak instrument-instrumen dalam Islam yang dapat dijadikan medium bagi upaya transformasi social, khususnya mengatasi kesenjangan social, pengentasan kemiskinan, dan juga bagaimana menghadapi dampak buruk dari globalisasi. Nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, termasuk dalam ibadah ritual senantiasa memiliki makna social yang tidak hanya mampu mengasah ketajaman spiritual dan sisi kemanusiaan seseorang, tapi juga memiliki daya pembebasan. [ ]

Ahmad Nurcholish, Cendikiawan Muslim

                                                                                                            

 

 

  • view 257