Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial (Bagian 3)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 24 Juni 2016
Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial

Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial


Topik ini merupakan tulisan yang saya bawakan pada Diskusi Rabuan Gereja Komunitas Anugerah pada 22 Juni 2016. Saya bagi menjadi 4 seri secara bersambung..

Kategori Acak

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial (Bagian 3)

Islam di Tengah Agama-agama Lain

Kehadiran Islam sama sekali bukan untuk menegasikan atau melenyapkan agama-agama yang telah ada sebelumnya, entah itu Kristen, Yahudi atau ajaran-ajaran lainnya di dunia. Keberadaan Islam justru hendak menandaskan bahwa di antara agama-agama tersebut memiliki kesejajaran dalam menyampaikan ajaran-ajaran universal. Karena itu, di dalam Islam terdapat satu ajaran inti yang menandaskan hal itu, yakni toleransi yang dalam bahasa Arab disebut al-tasamuh. Dengan al-tasamuh ini Islam sejajar dengan ajaran lain, seperti kasih (rahmat), kebijaksanaan (hikmat), kemaslahatan universal (maslahat ‘ammat), dan keadilan (‘adl).

Sejumlah ajaran inti Islam tersebut merupakan sesuatu yang – meminjam istilah ushul fikih – qath’iyyat, tak bisa dibatalkan dengan nalar apa pun, dan kulliyat, yakni bersifat universal, melintasi ruang dan waktu (shalih li kulli zaman wa makan). Singkatnya, prinsip-prinsip ajaran inti Islam itu bersifat transhistoris-ideologis, bahkan trans-keyakinan-agama.

Oleh karenanya, setiap Muslim wajib menyampaikan ajaran toleransi ke tengah umat sebagaimana kata Nabi, ballighu anni walau ayah, sampaikanlah dariku walau satu ayat. (Shahih Bukhari: 3461). Sebagai ajaran fundamental, toleransi ditegaskan al-Quran. Menurut al-Quran, perbedaan agama bukan penghalang untuk merajut tali persaudaraan antar-sesama manusia yang  berlainan agama. Nabi Muhammad sendiri diutus sebagai Rasul bukan un tuk membela satu golongan, etnis, dan agama tertentu saja, melainkan sebagai rahmat li al-‘alamin, rahmat bagi seluruh semesta alam.

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seorang Muslim membenci orang lain karena ia bukan penganut agama Islam. Membiarkan orang lain (al-akhar, the others) tetap memeluk agamanya adalah bagian dari ajaran Islam itu sendiri. Bahkan toleransi yang ditunjukkan Islam demikian kuat sehingga umat Islam dilarang memaki tuhan-tuhan yang disembah orang-orang Musyrik. (QS. Al-An’am [6]: 108).

Selain itu, Islam juga mengakui eksistensi agama-agama yang ada dan menerima beberapa prinsip dasar ajarannya. Namun, ini bukan berarti semua agama adalah sama. Sebab, setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, karakteristik yang membedakan satu dengan yang lain. Agama yang satu tak membatalkan agama yang lain, karena setiap agama lahir dalam konteks hidtoris dan tantangannya sendiri. Meski begitu, semua agama, terutama yang berada dalam tradisi abrahamik, mengarah pada tujuan yang sama, yakni kemaslahatan dunia dan kemaslahatan akhirat.

Dengan memperhatikan kesamaan tujuan ini, perbedaan eksoterik agama-agama mestinya tak perlu dirisaukan. Kesamaan tujuan ini pula yang menyebabkan Islam, disamping melakukan afirmasi terhadap prinsip-prinsip ajaran agama sebelumnya, sekaligus memberi pengakuan teologis mengenai keselamatan para pengikut agama lain itu. (QS. Al-Maidah [5]: 44, 46-47,  66 & 69; al-Baqarah [2]: 62).

Bersambung...

Ahmad Nurcholish, Direktur Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP

  • view 318