Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial (Bagian 2)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 23 Juni 2016
Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial

Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial


Topik ini merupakan tulisan yang saya bawakan pada Diskusi Rabuan Gereja Komunitas Anugerah pada 22 Juni 2016. Saya bagi menjadi 4 seri secara bersambung..

Kategori Acak

1 K Hak Cipta Terlindungi
Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial (Bagian 2)

Membangun Peradaban: Kontribusi Islam

            Dalam konteks dunia global, membangun  peradaban tak hanya bisa mengandalkan pada peran satu kelompok atau golongan saja. Kontribusi semua manusia dari berbagai latar belakang budaya, kebangsaan dan keyakinan justru mestinya akan memberikan peran penting bagi peradaban itu sendiri. Sebab kita menyakini bahwa setiap bangsa dan juga agama memiliki kekhasan nilai (value) dalam perannya membangun peradaban.

Selama 14 abad keberadaan Islam di dunia juga tak pernah absen dari perannya membangun peradaban. Memang ada dinamika di dalamnya. Pada saat tertentu Islam mencapai kemajuan peradaban yang juga menjadi inspirasi bagi bangsa lain. Pada saat yang lain, Islam juga tak segan belajar dari bangsa lain untuk sama-sama bertumbuh sehingga dapat terus berperan dalam membangun peradaban bersama.

Pada masa kegemilangan Islam di Andalusia (Spanyol, 711 – 1492M), di bawah kekuasaan Bani Umayah, peradaban Islam mengalami kemajuan luar biasa di berbagai bidang. Mulai dari filsafat, sains, sejarah, geografi, music, dan kesenian lainnya.

Spanyol adalah negara yang subur. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan) al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol. 

Di bidang filsafat,  Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd al-Rahman (832-886 M). Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama yang kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asa, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. 

Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Rusyd dari Cordova.  Pada abad ke 12 diterjemahkan buku Al-Qanun karya Ibnu Sina (Avicenne) mengenai kedokteran. Di akhir abad ke-13 diterjemahkan pula buku Al-Hawi karya Razi yang lebih luas dan lebih tebal dari Al-Qanun.

Di bidang sains, ada nama Abbas ibn Fama termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ia orang yang pertama kali menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umi al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan al-Hafidzh adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita. 

Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia.  Sedang  Ibn Bathuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudra Pasai dan Cina. Ibn Khaldun (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tum adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol yang kemudian pindah ke Afrika. 

Dalam bidang musik dan seni suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab. Setiap kali diadakan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai pengubah lagu. Ilmu yang dimilikinya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, sehingga kemasyhurannya tersebar luas. 

Di bidang bahasa dan sastra, Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Diantara para ahli yang mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa yaitu Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Alfiyah, Ibn Huruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Gharnathi. 

Beragam capaian peradaban Islam itulah yang kemudian mewarnai peradaban Barat yang dalam periode berikutnya Barat pun mengalami kemajuan luar biasa. Sebaliknya, karena satu dan lain hal,  kejayaan Islam di Spanyol mengalami kemunduran, bahkan kemudian runtuh sama sekali. Roda dunia berputar. Masyarakat Muslim pun terus mengalami ketertinggalan termat jauh. Baru dalam beberapa decade terakhirlah, dunia Islam mulai merangkak mengejar ketertingalannya.

 Bersambung..

Ahmad Nurcholish, Direktur Studi Agama dan Perdamaian ICRP

Dilihat 272