Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial (Bagian 1)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 22 Juni 2016
Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial

Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial


Topik ini merupakan tulisan yang saya bawakan pada Diskusi Rabuan Gereja Komunitas Anugerah pada 22 Juni 2016. Saya bagi menjadi 4 seri secara bersambung..

Kategori Acak

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Islam, Peradaban dan Transformasi Sosial (Bagian 1)

Islam sebagai ajaran agama tak sekedar mengatur bagaimana umatnya menjalankan ritual mahdhah (pokok, ritualistik) sebagai sarana habl min Allah (hubungan dengan Sang Khaliq), tetapi juga memberikan panduan bagaimana umatnya meniti kehidupan social dan kultural di tengah masyarakat yang plural. Termasuk tentunya bagaimana pola hubungan antar sesama manusia (habl min an-nas). Oleh karena itu, Islam diklaim sebagai ajaran yang kaffah (sempurna) karena mengatur ranah vertical sekaligus horizontal. Dari situ pula dapat dikatakan bahwa Islam mengandung tuntunan untuk menjalani kehidupan secara proporsional yang apabila manusia mematuhi rambu-rambu tersebut sesuai syara’ (syir’ah, manhaj), maka akan memperoleh kehidupan yang layak baik di dunia maupun di akhirat.

Jika disederhanakan, maka dapat kita pahami bahwa dalam ajaran Islam terdapat dua aspek utama, yakni ibadah dan mu’amalah. Aspek ibadah bertendensi pada aturan-aturan ilahiyah yang mengatur hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Sedang aspek mu’amalah menitikberatkan pada tatanan hidup antar sesama manusia, dimana jika kedua aspek ini terpenuhi akan terbentuk keseimbangan dalam hidup seseorang.

Konsep keseimbangan itu merupakan ajaran yang tertuang dalam al-Qur’an, di mana dijelaskan bahwa, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).

Ayat ini menandaskan bahwa manusia haruslah hidup seimbang antara upaya untuk mencari bekal bagi kehidupan di akhirat kelak tanpa harus meninggalkan kepentingan dan kebutuhan duniawiah. Dalam hal ini bahkan Rasulullah Muhammad pun menyampaikan sabdanya, “"Dari Anas ra, bahwasannya Rasulullah Saw. telah bersabda, "Bukanlah yang terbaik diantara kamu orang yang meninggalkan urusan dunianya karena (mengejar) urusan akhiratnya, dan bukan pula (orang yang terbaik) orang yang meninggalkan akhiratnya karena mengejar urusan dunianya, sehingga ia memperoleh kedua-duanya, karena dunia itu adalah (perantara) yang menyampaikan ke akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban orang lain."

Hadist tersebut menjelaskan tentang kehidupan manusia yang seharusnya, yaitu kehidupan yang berimbang, kehidupan dunia harus diperhatikan disamping kehidupan di akhirat. Islam tidak memandang baik terhadap orang yang hanya mengutamakan urusan dunia saja, tapi urusan akhirat dilupakan. Sebaliknya Islam juga tidak mengajarkan umat manusia untuk konsentrasi hanya pada urusan akhirat saja sehingga melupakan kehidupan dunia. Keseimbangan inilah yang disimbolkan dalam ruku’ dalam ritual salat yang dijalankan lima kali dalam sehari semalam.

Sementara itu, muamalah adalah istilah yang digunakan untuk persoalan-persoalan selain ibadah mahdhah. Dengan definisi tersebut Mu’amalah mencakup pengertian yang lebih umum tidak hanya dalam transaksi jual beli, sewa menyewa ataupun bentuk transaksi lainnya, melainkan segala bentuk hubungan antar manusia juga merupakan aspek mu’amalah, inilah yang dikehendaki dari aspek mu’amalah dalam pengertian luasnya. Termasuk di dalamnya adanya politik (syiasah) dan tradisi (al-‘urf) serta adat istiadat (al’addah) yang merupakan bagian dari kebudayaan manusia.

Ibadah dan mu’amalah merupakan dua aspek yang saling terkait erat, yang tidak mungkin dipisahkan antara satu sama lain. Dalam ibadah ritual misalnya, terkandung di dalamnya makna spiritual dan social yang kemudian (semestinya) diimplementasikan dalam ranah muamalah. Dari mulai salat, puasa, zakat, serta haji, kesemuanya tidak sekedar ritual tanpa makna, tetapi memiliki pesan moral, spiritual dan social yang teramat dalam. Jika boleh diandaikan, kedudukan ibadah seperti halnya wujud ruh dalam jasad, sedang posisi mu’amalah layaknya jasad pada diri manusia, baik aspek ibadah maupun mu’amalah keduanya merupakan satu kesatuan yang mempunyai andil besar dalam tidak hanya membentuk keseimbangan hidup manusia, tetapi juga dalam rangka mendapatkan makna hidup yang tak terhingga.

Bersambung..

Ahmad Nurcholish, Direktur Program Sutudi Agama dan Perdamaian ICRP, Dewan Pengasuh Pesantren Nusantara, Depok-Jabar

  • view 261