Agama dalam Ragam Pendekatan

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 14 Juni 2016
Agama dalam Ragam Pendekatan

“Usaha memaknai agama, bukan hanya memerlukan usaha keras, tapi juga cukup nyali.”

Jacques Waardenburg

 

Coba Anda tanyakan kepada sepuluh orang apa itu agama. Kesepuluh orang itu itu mungin akan menjawab berbeda-beda. Tergantung pengalaman dan pemahaman masing-masing. Sebagian mungkin saja menjawab secara hati-hati. Bagaimanapun agama juga menyangkut sesuatu yang suci dan pengalaman batin manusia. Belum lagi kalau dianggap memaknai dengan pengertian yang tak umum dan tak biasa. Salah-salah bisa dituduh sesat.

Terus terang tak mudah merumuskan pengertian agama. Usaha memaknai agama, kata Profesor emeritus University of Lausanne, Switzerland, Jacques Waardenburg bukan hanya memerlukan usaha keras, tapi cukup nyali.

Ada banyak ragam pengertian agama seperti  beragamnya jenis-jenis agama yang tumbuh di dunia. Di seantero dunia, menurut  World Christian Encyclopedia,  terdapat 19 agama besar dunia yang menjadi induk dari 279 kelompok-kelompok besar keagamaan, termasuk kelompok-kelompok kecil. Di Kristen misalnya diperkiraan ada 34 ribu kelompok yang diidentifikasi. (“Religions of the world,” http://www.religioustolerance.org/worldrel.htm ). Masing-masing mengklaim kebenarannya.

Kesulitan menyeragamkan pengertian agama ini juga terjadi di dunia akademis. Ada ratusan definisi. Tapi, untuk memudahkan, pengertian agama itu bisa dilihat dalam lima  kelompok pendekatan.

Pertama, pendekatan antropologi yang melihat kebudayaan masyarakat tertentu. Kelompok ini memandang aktivitas dan ekspresi keagamaan dipandang sebagai bentuk-bentuk dorongan fisiko-kultural manusia. Misalnya pandangan antropolog Inggris (1832 –1917), Edward Burnett Tylor. Agama menurutnya adalah “kepercayaan terhadap wujud spiritual” atau Allan Manzies yang melihatnya sebagai “penyembahan terhadap kekuatan yang lebih tinggi karena adanya rasa membutuhkan”. 

Kedua, pendekatan psikologi, ilmu mengenai kejiwaan manusia, yang berusaha menutupi kelemahan pendekatan pertama. Tak seperti yang pertama. Agama dianggap bukan sekedar dorongan rasa takut dan rasa kagum, melainkan lebih sublim dari itu. Agama menyangkut hubungan batin antara seorang individu dengan kekuataan di luar dirinya. Agama kata filosof dan ahli matematik dari Inggris Alfred North Whitehead (1861-1947) “apa yang dilakukan orang dalam kesendirianya.” William James, filosof dan psikolog asal Amerika (1842-1910) mengartikan Agama adalah “perasaan, tindakan, dan pengalaman manusia individual dalam kesendirian mereka sejauh hal itu membawanya ke dalam posisi yang berhubungan dengan apapun yang dianggap sebagai sakral”.

Ketiga, pendekatan sosiologi. Sosiologi ilmu yang mengkaji struktur, institusi dan norma dalam sebuah masyarakat. Gampangnya, sosiologi itu memandang masyarakat mirip tubuh. Organ satu dengan yang lainnya terhubung dan membentuk satu sistem. Jika yang satu tak fungsi bisa berakibat pada yang lain.

Dalam pendekatan ini, agama dipandang sebagai sebuah sistem yang terekspresikan dalan kehidupan kolektif masyarakat manusia. Pandangan Clifford Geertz dalam Religion as a Cultural System masuk dalam kategori ini.

Antropolog Amerika yang lahir pada 23 Agustus 1926 ini merumuskan agama sebagai sebuah sistem simbol yang berperan membangun perasaan dan motivasi yang penuh kekuatan, merembes dan tanpa akhir dalam diri manusia dengan menakrifkan konsep tentang tatanan umum eksistensi dan membebat konsep-konsepsi-konsep ini dengan suatu aura faktualitas sehingga perasaan dan motivasi tampak realistis.

Keempat, pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini berusaha menemukan intisari atau hakikat dari agama dan pengalaman keagamaan. Mereka melihat di balik berbagai ekspresi pemikiran, tindakan, dan interaksi sosial. Keberagamaan manusia memiliki nuansa batin yang lebih sekedar persoalan psikologi. Ia sebuah perjumpaan dengan sesuatu yang melebihi dan mengatasi kefanaan dunia, yang suci, dan agung. Pengalaman seseorang atau sekelompok orang bisa berbeda dengan lainnya dan karena itu memahami agama secara berbeda.

Kelima, pendekatan teologis. Kebanyakan pandangan ini berkembang dalam perspektif Timur alias wilayah-wilayah di Asia. Agama di sini merupakan hal prerogatif tuhan sendiri. Realitas sejati agama adalah sebagaimana yang dikatakan ajaran agama masing-masing. Agama dilihat dari sisi teologis atau perspektif ketuhanan. Karena itu berbeda-beda antarsatu agama dengan lainya.

Makin banyak pengertian mungkin membuat kita makin bingung. Tapi, baiklah dari keseluruhan pengertian ini, kita perlu mengetahui “kriteria” dan “unsur-unsur” yang biasanya ada dalam agama.

Seperti saat dalam hutan belantara, dari jarak dekat kita bisa melihat aneka pohon, dari kecil hingga yang raksasa. Jenisnya memang beragam. Tak sama. Masing-masing punya ciri dan kekhasan sendiri-sendiri. Tapi coba lihat dari ribuan kaki di atasnya, dari kaca jendela pesawat, hutan belantara itu seperti seragam, hijau, dan rata. Kita bisa mencari kriteria-kriteria umum mengenai apa yang disebut hutan. [ ]

Ahmad Nurcholish, Direktur Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP.

  • view 883