Puasa Ramadhan dan Transformasi Sosial

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 09 Juni 2016
Puasa Ramadhan dan Transformasi Sosial

Dalam dimensi fiqih, puasa Ramadhan dipahami sebagai amalan dalam rangka menahan; baik menahan makan, minum, bicara buruk, dan perbuatan yang bertentangan ajaran agama. Hal itu dimulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam. “Berpuasalah dengan karena kamu telah melihat bulan (ru’yat), dan berbukalah dengan berdasar ru’yat pula. Jika bulan tertutup mendung, maka genapkanlah Sya’ban menjadi 30 hari”, demikian sabda Nabi.

Tentu saja, amalan puasa tak hanya menjadi ritual tahunan yang berlangsung pada bulan Ramadhan dengan mengikuti aturan-aturan fiqih yang ada, melainkan harus mendapatkan makna dari dimensi lain yang lebih transformative.

Pada hakikatnya Ramadan melatih kita  untuk menjadi orang yang berdisiplin, tunduk pada hukum, empati kepada orang lain, istiqamah, menerapkan pola hidup selektif. Ini diharapkan terus berlanjut secara berkesinambungan pada bulan-bulan berikutnya. Dengan demikian, disamping sebagai ibadah habl min Allah, pada saat yang sama puasa juga menekankan habl min al-nas. Sehingga, sepanjang bulan Ramadan kita dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah baik ibadah ritual maupun ibadah sosial. (Ulul Huda, 2011)

Dengan demikian, ada keseimbangan antara upaya seseorang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, sekaligus mengasah kepekaan social kepada sesama. Puasa dalam dimensi sosial mengajarkan kita untuk merasakan—lebih peka—terhadap kaum mustad’afin (fakir-miskin) yang selama ini termarjinalkan oleh struktur kapitalisme yang menindas. Secara sosial, kata Hasan Hanafi dalam al-Din wa al-Tsawrah (1990: 63), puasa melatih kepekaan atas nasib sesama yang menderita kelaparan dan kehausan.

Oleh karenanya, puasa mengajarkan kepada kita tentang makna solidaritas berupa sikap saling percaya; menumbuhkan sikap empati dalam bentuk ikut merasakan lapar yang biasa dialami orang-orang miskin; mendorong gerakan bersedekah; serta berdisiplin yakni berbuka menurut urutan waktu yang telah ditentukan.

Nilai-nilai tersebut, pada dasarnya, merupakan pilar-pilar yang menopang kokohnya masyarakat. Sejumlah ilmuwan seperti Francis Fukuyama dan Robert Putnam, menyebut nilai-nilai itu sebagai social capital atau modal sosial yang dapat menumbuhkan perilaku-perilaku masyarakat yang menunjang kesinambungan dan stabilitas. (Muhammad Diah Z, 2013)

Maka dari itu, janganlah pernah terlintas kesan di benak kita, bahwa puasa seolah-olah hanya sebagai rutinitas tahunan yang tak memiliki pengaruh apa pun pada kebaikan masyarakat. Puasa seyogyanya menjadi madrasah ruhaniah, yang siap menempa orang-orang beriman untuk menjadi manusia-manusia unggul dan lebih berprestasi di masa depan.

Puasa, urai Diaz,  mestilah menjadi instrumen yang membentuk pribadi-pribadi takwa dan menginspirasi hidup mereka secara lebih baik lagi. Apapun status dan kedudukan mereka di masyarakat. Bagi para pemimpin, puasa seharusnya membekali kemampuan moral dan keunggulan pribadi untuk lebih peka terhadap kondisi masyarakat yang dipimpinnya.

Bagi para pengusaha, puasa dapat melatih sikap jujur, disiplin, dan memiliki etos kerja yang lebih baik di dalam menjalankan usaha bisnisnya. Pun bagi konsumen, puasa berarti kemampuan dalam mengendalikan diri agar tidak konsumtif dan peka terhadap mereka membutuhkan uluran tangan.

Inti dari semua uraian di atas, tidak lain bahwa puasa hendaknya tidak hanya dipahami pada ranah teologis-transendental semata, urusan manusia dengan Sang Pencipta, melainkan harus diimplementasikan  menjadi spirit perubahan diri (spirit of self transformation) dan modal perubahan sosial (modal of social transformation) untuk perjuangan keadilan, kemanusiaan, kerahmatan, kebaikan, dan kemaslahatan yang menjadi tujuan dasar syari’at Islam (maqashid asy-syari’ah).

Islam bukan hanya ajaran langit, tapi ajaran bumi yang harus mampu membebaskan manusia dari ketidakadilan, ketertindasan, dan eksploitasi yang dilakukan para penguasa yang lalim, orang kaya yang menindas, dan orang pintar yang menjilat.

 Islam adalah ajaran keadilan, ajaran kemaslahatan, dan ajaran pembebasan yang berpihak kepada mereka yang tertindas (mustadl’afin dan madhlumin), yakni orang-orang fakir dan miskin, orang-orang yang terlilit hutang, tergusur dan terpinggirkan oleh sistem dan kebijakan yang tidak adil (riqab, gharimin), dan orang-orang yang rentan (mu’allaf, ibnu sabil, sabilillah). (Fahmina, 2013)

Jika  puasa kita tidak berdampak kepada transformasi diri dan transformasi sosial menuju kemanusiaan, keadilan, dan pembebasan, maka berarti kita gagal mengikuti proses pembelajaran puasa Ramadlan ini. Kita tidak memperoleh apa-apa dari proses pembelajaran  itu, kecuali lapar dan dahaga. Tentu kita tidak menginginkan itu, bukan?

Ahmad Nurcholish, Dewan Pengasuh Pesantren Nusantara, Depok-Jabar

 

 



  • view 473