Spirit Toleransi dan Kerukunan di Bulan Ramadhan

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 08 Juni 2016
Spirit Toleransi dan Kerukunan di Bulan Ramadhan

Sebagaimana kita ketahui bahwa kita hidup dalam sebuah masyarakat majemuk yang tidak hanya dari aspek etnis, adat istiadat atau tradisi, tapi juga keyakinan atau agama. Hal yang terakhir inilah yang senantiasa menuntut adanya sikap toleransi di antara kita agar jalinan kerukunan antarumat beragama selalu terjaga.

Bulan Ramadhan merupakan medium untuk mengasah spirit toleransi dan kerukunan tersebut. Mengapa demikian? Paling tidak ada empat hal penting yang dapat kita urai di kolom pendek ini.

Pertama, tujuan utama dalam ibadah puasa adalah untuk meraih ketaqwaan. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 183. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Taqwa, dalam Islam memang menjadi “pesan dasar” (risalah asaasiyah) dalam beragama. Pesan dasar ini pada pokoknya meliputi perjanjian dengan Allah (‘ahd, ‘aqd, mitsaq), sikap pasrah kepada-Nya (islam), dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hidup (taqwa, rabbaniyah).

Kesadaran akan kehadiran-Nya inilah yang seyogyanya membawa kita untuk tidak melakukan hal-hal buruk atau tercela kepada orang lain. Ini sesuai hadis Nabi Muhammad SAW: ”Barangsiapa berpuasa tapi tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan buruk, sesungguhnya Allah tidak mempunyai persoalan apa pun untuk menyia-nyiakan puasanya”. Artinya, dalam konteks puasa Ramadhan, ibadah ini justru menjadikan kita bersikap toleran terhadap mereka yang tak menjalankan puasa karena satu dan lain hal.

Toleransi kerap dimaknai sebagai saling menghormati dan menghargai atas perbedaan yang ada di antara umat manusia. “Saling” artinya harus dilakukan oleh kedua belah pihak, baik yang berpuasa maupun sebaliknya. Yang puasa menghormati yang tak puasa, begitu pula yang tak puasa juga harus menghormati yang puasa. Di sinilah yang akan menjadi prasyarat adanya kerukunan antarmanusia, apapun latar belakang kita.

Kedua, dalam Al-Baqarah ayat 138 tersebut juga dijelaskan bahwa puasa juga diwajibkan atas umat-umat terdahulu. Artinya umat beragama sebelum Islam pun juga memiliki tradisi berpuasa. Dalam hal ini,  Fakhrudin Ar-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaibi, menegaskan, yang dimaksud dengan umat-umat terdahulu dalam ayat di atas adalah umat para nabi terdahulu: mulai dari umat Nabi Adam AS hingga umat Nabi Muhammad SAW, termasuk di dalamnya adalah umat Yahudi dan umat Nasrani. Sebagaimana umat Nabi Muhammad SAW, umat nabi-nabi terdahulu juga punya kewajiban berpuasa walaupun bentuk dan waktu puasanya berbeda-beda antara satu umat dan umat yang lain.

Dalam konteks ajaran Islam, bukan hanya puasa yang sebelumnya juga diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, melainkan juga ajaran dan ibadah yang lain seperti shalat dan haji. Begitu juga beberapa ketentuan hukum yang ada dalam Islam, yang sebelumnya juga telah jadi aturan hukum bagi umat sebelum umat Nabi Muhammad Saw.

Salah satu contohnya adalah ketentuan hukum qisash (hukum timbal balik secara sepadan, seperti tangan dibalas dengan tangan, mata dibalas dengan mata) yang menjadi ketentuan hukum bagi bangsa Israel (umat Yahudi). Hukum ini juga terdapat dalam Al Quran dan jadi ketentuan hukum bagi umat Islam. Inilah yang kemudian disebut sebagai “Ajaran Serumpun”

Ketiga, ”Serial” ajaran serumpun seperti di atas sangat penting untuk diperhatikan. Setidaknya, menurut Hasibulah Satrawi (2011),  karena ini menunjukkan adanya tali persaudaraan antara satu umat dan umat agama lain. Alhasil, ajaran yang jadi kewajiban bagi setiap umat mempunyai kemiripan nyaris sempurna (walaupun tidak sama sepenuhnya) dengan ajaran yang diwajibkan kepada umat agama lain.

Tentu saja, seperti ditandaskan Satrawi,  ajaran-ajaran serumpun seperti di atas tidak dimaksudkan untuk menciptakan konflik antarumat beragama sehingga mereka harus saling menafikan antara yang satu dan yang lain. Sebaliknya, ajaran- ajaran serumpun seperti di atas diharapkan mampu mempererat tali persaudaraan yang ada di antara segenap umat beragama.

Keempat, orang berpuasa dianjurkan selalu bersabar. Sabar dalam menghadapi berbagai rintangan,  termasuk ketika mengalami hal-hal yang menyakitkan sekalipun. Untuk menghadapi pelbagai macam perbuatan merugikan yang dilakukan oleh orang lain, orang yang berpuasa dianjurkan membalasnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa (allahumma innaniy ana sha`imun).

Dengan demikian, dalam keadaan berpuasa, seseorang tak sepantasnya melakukan aksi kekerasan, misalnya dengan mensweeping warung-warung makan yang buka siang hari di bulan Ramadhan. Ingat, Indonesia tidak hanya dihuni oleh Muslim saja, tapi juga ada umat beragama lain yang tak puasa. Bahkan di antara umat Islam sendiri juga ada yang tidak berpuasa karena satu dan lain hal. Tentu mereka tak akan mengalami kesulitan mememenuhi kebutuhan makan dan minum jika ada warung yang buka.

 Keempat spirit itulah tuntunan agung yang diinternalisasi oleh puasa selama bulan penuh kemuliaan  ini berlangsung. Tentu saja, sejumlah nilai luhur di atas dimaksudkan untuk terus berlangsung dan membuahkan perdamaian dan kemaslahatan bagi kehidupan masyarakat, terutama pada masa-masa sesudah bulan Ramadhan. [ ]

Ahmad Nurcholish, Direktur Program Studi Agama dan Perdamaian Indonesian Conference on Religion and Peace

  • view 1.2 K