Puasa dan Tanggungjawab Personal

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 05 Juni 2016
Puasa dan Tanggungjawab Personal

“Semua amal seorang anak Adam (manusia) adalah untuk dirinya kecuali puasa, sebab puasa itu adalah untukKu, dan Akulah yang akan memberinya pahala.” (Hadits Qudsi).

Mencermati hadits qudsi tersebut, Ibn al-Qayyim al-Jawziyah dalam kitabnya Zad al-Ma’ad fi Huda Khayr al-‘Ibad memberi penjelasan bahwa puasa itu, “…adalah untuk Tuhan seru sekalian Alam, berbeda dengan amal-amal yang lain. Sebab seseorang yang berpuasa tidak melakukan sesuatu apa pun melainkan meninggalkan sahwatnya, makanannya, dan minumannya demi sembahannya (ma’bud, yakni Tuhan).”

Lebih lanjut Ibn al-Qayyim mengatakan: “… Orang itu meninggalkan kesenangan dari kenikmatan dirinya karena lebih mengutamakan cinta Allah dan ridha-Nya. Puasa itu rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya, yang orang lain tidak mampu melongoknya.”

Jadi, salah satu hakikat  ibadah puasa ialah sifatnya yang pribadi atau personal, bahkan rahasia antara seorang manusia dengan Tuhannya. Dan segi kerahasiaan itu merupakan letak dan sumber hikmahnya, yang kerahasiaan itu sendiri terkait erat dengan makna keikhlasan dan ketulusan.

Antara puasa yang sejati dan puasa yang yang palsu hanyalah dibedakan oleh, misalnya, seteguk air yang dicuri minum oleh seseorang ketika ia berada sendirian.

Oleh karenanya, puasa benar-benar merupakan latihan dan ujian kesadaran akan adanya Tuhan yang Mahahadir (omnipresent), dan yang mutlak tidak pernah lengah sedikit pun dalam pengawasanNya terhadap segala tingkah laku hamba-hambaNya.

Puasa juga merupakan penghayatan nyata akan makna firman Allah Swt bahwa:

“Dia (Allah) itu bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Allah itu Mahaperiksa akan segala sesuatu yang kamu perbuat. (QS.57:4). Kepunyaan Allahlah Timur dan Barat; maka ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah/2:115).

Pemikir Islam modern asal Mesir, Ali Ahmad al-Jurjawi, dalam uraiannya tentang hikmah puasa, mengatakan bahwa puasa adalah sebagian dari sepenting-penting syar’i (manifestasi religiusitas) dan seagung-agung qurbah (amalan pendekatan diri kepada Tuhan).

Bagaimana tidak, padahal puasa itu adalah rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya, yang tidak termasuki pamrih, kecuali berharap atas Wajah Allah. Tidak ada pengawas dirinya selain Dia.

Dari penjelasan itu tampak bahwa sesungguhnya inti pendidikan Ilahi melalui ibadah puasa ialah penanaman dan pengukuhan kesadaran yang sedalam-dalamnya akan kemahahadiran Tuhan.

Kesadaran itu pula yang melandasi ketakwaan atau merupakan hakikat ketakwaan itu, dan membimbing ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji. Dan dalam konteks ini pulalah esensi puasa menjadi amat penting di tengah kian tak terbendungnya pola hidup hedonis yang serba materialistik.  Wallahua’lam. []

Ahmad Nurcholish, Direktur Program Harmoni Mitra Madania, Tangerang-Banten.

 

  • view 394