Antara Tuhan dan Peluru Serdadu

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Tokoh
dipublikasikan 26 Mei 2016
Antara Tuhan dan Peluru Serdadu

Membaca perjalanan hidup Pdt. Saut Hamonangan Sirait, segera saja kita bisa menemukan satu kesimpulan gampang. Tokoh Indonesia ini punya beragam pengalaman dan latar belakang: aktivis pergerakan, rohaniawan, politisi, dan pejabat negara. Sejak muda ia ditempa zaman. Di bawah kekuasaan Orde Baru yang kuat di era 80-90-an, bersama Kelompok Cipayung, gabungan lima organisasi ekstra kampus, ia menyuarakan pentingnya demokrasi dan kebebasan berekspresi.

Saut datang sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jakarta. Di organisasi itu ia ditunjuk sebagai ketua umum. Dari sana pula ia mengenal para pemikir dan kiprah tokoh pendahulu di kalangan Kristen seperti Dr. J Leimena, pendiri GMKI. Pikiran Leimena yang mengajarkan arti pentinya gereja dan nasionalisme. Menjadi Kristen juga menjadi Indonesia, tanah air yang dicintainya. Ia juga belajar banyak dari Moxa Nadaek, jurnalis idealis yang tidak hanya dianggapnya sebagai abang, tapi juga mengajarkan banyak hal tentang bagaimana menulis yang baik serta hidup harus peduli pada sesama tanpa harus melihat apa latar belakang mereka.

Sebagai orang Kristen, Saut juga memilih jalan untuk menjadi rohaniawan. Karena itu jalan hidupnya mengantarkan ia belajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, kampus yang mencetak para calon pendeta. Di kampus ini pula ia memulai debutnya sebagai aktivis kampus dan extra kampus. Sekaligus wahana yang menempa dirinya melihat ketidakadilan yang ada di sekitarnya. Salah satu ketidakadilan itu adalah sikap pemerintah yang otoriter, anti terhadap kritik dan senantiasa berupaya dengan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya.

Selepas belajar di STT, Saut memilih jalan untuk menjadi pendeta. Namanya lalu tercatat sebagai salah satu pendeta di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Dalam sejarah HKBP di masa Orde Baru, nama Saut tak bisa dilepaskan dari sejarah perpecahan organisasi ini sejak Sinode Godang ke 51, 28 November 1992. Dalam forum tertinggi itu, ephorus, pemimpin tertinggi HKBP, Pdt. Dr. SAE Nababan “dilengserkan”. Forum itu “dikuasai” militer. Setelah itu bersama SAE Nababan, Saut terus menyuarakan perlawanan atas intervensi negara terhadap organisasi keagamaan. Saut tak berhenti di situ. Imbas dari intervensi pemerintah itu pula HKBP di Bandung turut bergolak. Atas turun tangan Saut, ia menginisiasi berdirinya HKBP yang bebas dari campur tangan penguasa. Ia berhasil mendirikan HKBP Bandung Reformanda yang kini berdiri megah di Jalan Sumedang, Bandung, Jawa Barat.

Di era reformasi, kiprah Saut tak pernah padam. Pada 2002-2007, Ia terpilih menjadi Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Tiga tahun sesudahnya diangkat menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2007-2012 menggantikan seorang anggota komisoner yang mengundurkan diri. Kini ia menjadi Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Posisi ini ia jabat sejak tahun 2012 silam. Ia juga merupakan anggota tim transisi PSII yang dibentuh oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Di lapangan organisasi kemasyarakatan, Saut sempat berada di puncak jabatan sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Parkindo (Partisipasi Kristen Indonesia) 2005 – 2010.  Kiprah di dunia politik non-praktis bukan tanpa sebab. Gagasannya mengenai Kekristenan, Politik, dan Keindonesiaan sudah dipikirkannya jauh sebelum itu. Saat menyelesaikan Magister Teologia di bidang etika politik di STT Jakarta, judul tesis yang dipilih seputar politik gereja. Tesis itu kemudian diterbitkan BPK Gunung Mulia dalam bentuk buku bertajuk Politik Kristen di Indonesia: Suatu Tinjauan Etis. Buku ini salah satu buku babon dalam memahami politik Kristen di Indonesia. Melanjutkan buku tersebut, Saut juga baru sa merampungkan buku Theologia Kenegaraan: Negara dalam Rancangan Tuhan yang terbit bersamaan dengan buku ini.

Keragaman latar belakang dan pengalaman tokoh Batak ini jelas menjadi modal penting sekaligus kelebihan Saut. Dengan modal ini, Saut bisa beradaptasi dan bergaul dengan banyak kalangan. Jaringan luas, termasuk kalangan lintas iman yang sudah dibinanya sejak ia menjadi mahasiswa STT. Dengan modal itu pula Saut memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin tertinggi di mana pun ia berkiprah.

Ke depan, tantangan Indonesia makin kompleks. Untuk mengatasinya kita memerlukan beragam pendekatan. Dan kita memerlukan sumber daya manusia yang kaya latar belakang, ragam pendekatan, dan pengalaman. Saut adalah salah satu sosok di mana kita bisa belajar banyak tentang keragaman tersebut. Ia inspirasi bagi generasi muda terutama untuk melihat sosok pemimpin idealis, terbuka, moderat dan tetap rendah hati.

Dalam kesempatan ini tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada Mas Imdadun Rahmat yang telah berkenan memberikan pengantar untuk buku ini. Terimakasih juga kami sampaikan kepada Pdt. Darwin Manurung, S.Th. atas sambutannya, juga para pendeta dan penatua di HKBP Bandung Reformanda. Terimakasih tak terhingga kepada para nara sumber dalam buku ini, antara lain: Pdt. Dr. SAE. Nababan, LID, (Ephorus Emeritus HKBP), Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. (Ketua DKPP & Ketua Umum ICMI), Ahmad Basyarah (Anggota DPR-RI), Prof. Dr. Komarudddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2006-2010 dan 2010-2015), Pdt. Sabar Tumpal Paimaon Siahaan (Pendeta HKBP), Ray Rangkuti, Pengamat Politik (Direktur Lingkar Madani), yang juga telah memberikan endorsmennya.

Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada istri Pdt. Saut Sirait, Kak Agustina Veronica Silalahi, dan kedua anaknya: Saulina Hariarani Tabitha dan Sampurna Kevin Timothy. Juga terimakasih kepada Mas Alamsyah M. Dja’far dan Bang Gamal Ferdhy yang telah membantu penyuntingan naskah untuk buku ini. Semoga menjadi amal kebaikan bagi rekan-rekan semuanya.

Akhir kalam kami serahkan sepenuhnya buku ini ke hadirat pembaca. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan inspirasi dari kisah ini. Mohon maaf perlu kami sampaikan kepada Pdt. Saut Sirait jika dalam penulisan ini masih terdapat kekurangan serta  kekeliruan di dalamnya. Berkat selalu bagi kita semuanya. Selamat membaca []    

Ahmad Nurcholish

Frangky Tampubolon