Agama Cinta dalam Tradisi Sufi

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 27 Januari 2016
Agama Cinta dalam Tradisi Sufi

Oleh Ahmad Nurcholish

?

?Dengan mata hati, lihatlah orang yang beriman dan orang kafir.

Mereka tidak punya apa-apa kecuali hanya bisa menangis dan berseru

?O, Tuhan, O Yang Maha Hidup,? berdasar kepercayaan masing-masing.?

?

Mevlana Jalal al-Din Rumi

?

Djalal al-Din Rumi menulis syair ini dalam karyanya Divan-i Kabir, 1957: vol. V, No. 2578). Sebait syair itu tercipta dari pengalaman panjang tokoh sufi kelahiran kampung di pinggir sungai Wakhsh, Persia (sekarang Tajikistan). Di dalamnya, nilai terdalam Agama Cinta dapat diresapi.Ya, Agama Cinta, sebentuk spiritualisme universal yang melampaui bentuk-bentuk keyakinan dan agama umat manusia.

Spiritualisme ini mencerminkan desahan batin terdalam umat manusia dalam mengharap, merindu dan mencintai Sang Tuhan: Tuhan dalam pengertian-Nya sebagai (yang diyakini semua makhluk), Sang Pencipta dan Tempat Bergantung semua makhluk, tanpa terkecuali.

Ini merupakan ?Agama Dalam? atau ?Agama Batin? yang melampaui bentuk-bentuk, doktrin, model sesembahan dan konseptualisasi manusia atas Tuhan. Menurut Rumi, ketika terjadi hubungan intim sang pecinta dengan yang dicintai, tak bermakna lagi kehadiran setan dan kebencian. Hanya cinta yang ada. Kekufuran pun berubah keimanan jika dilakukan atas nama Cinta kepada Tuhan atau demi Tuhan semata. Cinta kepada Tuhan apalagi menyatu dengan-Nya membuat apa pun yang bertabiat duniawi (bentuk) menjadi tak berarti. Kata Rumi,

?

?Aku telah membersihkan rumahku dari kebaikan dan keburukan;

rumahku hanya diisi dengan Cinta kepada Yang Esa.?

?

Untuk sampai hakikat ini, keadaan yang tak semata terpaku pada jalan lahiriah, seorang mesti meresapi Agama Cinta melalui pintu tasawuf.Taraf ini lebih tinggi dibanding sekadar memuja atau mengabdi kepada-Nya. Seseorang yang berhasrat mesti mendalami ilmu tentang-Nya dan tentang hakikat semesta, di samping tentu mempraktikkan jalan tasawuf melalui ibadah, riyadah dan mujahadah dalam maqamat dan ahwal.

Dalam pandangan Rumi, mereka yang sudah meresapi jantung agama-agama melalui jalan tasawuf akan menjadi ?manusia Tuhan?. Manusia jenis ini berhasil melampaui bentuk-bentuk agama formal. Dalam bait-bait syair, Rumi menulis :

?

Manusia Tuhan adalah ia yang telah melampaui kekufuran dan keimanan

Manusia Tuhan adalah ia yang memandang yang benar

dan yang salah sama saja.

?

Diwan Shamsi Tabrizi of Jalaluddin Rumi, terj. Nicholson (Bethesda, Maryland: Ibex Publisher, 2001), h. 31.

?

Bagi manusia awam, untaian syair Rumi di atas mungkin dipahami sebagai kesesatan. Bagaimana tidak, Rumi mengatakan ?yang benar dan yang salah sama saja?. Dalam logika keimanan ?orang awam?, tak mungkin sama antara ?yang salah? dan ?yang benar?. Jelas berbeda.

Jika semata menggunakan kaca mata ?syariat formal? seseorang bisa kebingungan.Ungkapan Rumi tak bisa hanya dipahami makna literalnya. Butuh perenungan dan penelaahan lebih mendalam, memasuki relung batin para sufi itu sendiri. Dan bagi setiap orang, hasilnya bisa berbeda. Itulah yang membuat jalan sufi tak serta-merta diamini, terutama oleh kalangan yang hanya ?menghamba? pada ritual syariat. Terlebih jika tidak diiringi dengan menyelami dimensi spiritual dalam ritual syariat tersebut.

Bagi kaum sufi, yang baik, salah atau yang kufur dengan beriman sama saja. Apa yang dimaksud semua sama ini bisa dilihat dari dua hal.

Pertama, bagi para sufi yang berada di maqam hakikat atau esensi, semua yang bersifat lahir maupun batin sulit dibedakan. Sama sulitnya membedakan bentuk dan isi. Bentuk dan isi terpatri atau tercampur satu sama lain. Ibarat logam campuran seunsur, mereka sudah tak dapat melihat lagi perbedaan unsur-unsurnya.

Pandangan tentang kesatuan atau yang menyatukan dua aspek biasa disebut dengan paham non-dualisme. Mereka para sufi yang meganut paham kesatuan (wahdat, union) seperti Ibn ?Arabi dan Jalal al-Din Rumi. Sementara bagi orang yang hanya menyakini kebenaran syariat, bentuk formal merupakan wujud satu-satunya yang riil yang tak dapat ditawar lagi.

Pandangan kesatuan bisa ditemukan dalam Bhagavad-Gita. ?Orang arif bijaksana melihat semuanya sama, baik brahmana budiman dan rendah hati maupun seekor sapi, gajah dan anjing ataupun orag hina papa, tanpa kasta,? tulis salah satu sloka.

Kesadaran dan kebahagiaan terhadap Cinta pada Yang Tertinggi hadir pada segala eksistensi. Perbedaannya hanya berkaitan dengan nama dan rupa dalam perwujudan. Bila manusia memandang dari sudut pandang Realitas Tertinggi yang hadir pada semuanya, ia akan melihat dengan pandangan yang sama. Dualisme mendasar ada pada ruh dan sifatnya bukan jiwa dan badan.

Kedua, pada setiap aspek ciptaan selalu terdapat pasangannya.Ini bukti kesempurnaan Tuhan.Pada keburukan atau kekufuran pasti terdapat aspek yang baik atau keimanan. Dalam pandangan Tuhan semua ciptaan sama saja. Tetapi dalam pandangan makhluk, bentuk-bentuk ciptaan terlihat berbeda. Bagi kaum sufi, semua perbedaan atau pertentangan bukanlah dua aspek yang mutlak terpisah dengan realitas masing-masing, melainkan satu.

Dalam aspek batin, tak ada nama dan bentuk. Manusia pencari Tuhan mengarahkan spiritualitasnya pada aspek dalam hanya melihat satu kesempurnaan: sebuah cinta kepada Tuhan yang sama. Inilah relevansi ungkapan Rumi.Dalam mazhab Cinta, tak ada bentuk keimanan dan kekufuran.Cinta bersemayam pada jiwa yang mendalam.Cinta kepada Tuhan sebagai bentuk keimanan tertingggi memiliki kekuatan besar.

Ketika bercerita tentang seorang Muslim yang mengajak seorang Majusi memeluk Islam dan kisah seorang muazin yang memanggil salat di wilayah kaum non-Muslim, Rumi sampai pada kesimpulan bahwa iman dan Agama Cinta ternyata melampaui bentuk-bentuk formal agama. Rumi memberi ilustrasi. Setetes air dari Cinta yang ditumpahkan ke dalam samudra, niscaya samudra itu terserap ke dalam tetesnya. Jika api cinta masuk ke dalam hutan, hutan itu terbakar habis. Jika hasrat cinta merasuki seorang raja atau komandan sebuah pasukan, niscaya musuh-musuh keduanya bisa hancur berantakan.

Melihat agama dari bentuk-bentuk ?formal? tetap dibutuhkan, terutama bagi mereka yang mulai menempuh kehidupan keagamaan. Ini tahap persiapan untuk mengarungi kedalaman esensi atau jantung agama. Saat persiapan matang dan simbol-simbol formal tak lagi memadai, bersatu dengan Sang Kekasih akan jadi tujuan akhir yang mesti dicapai para penempuh jalan. Pada maqam ini yang dapat dicapai pemeluk agama mana pun, seseorang akan bernyanyi dengan Agama Cinta. Agama Cinta yang dianut kaum mistikus beragam agama adalah agama universal; satu-satunya agama yang mesti dianut umat manusia.

Agama universal itulah yang memungkinkan setiap penganutnya tak lagi terjebak pada ritual formal, simbol-simbol dan sejenisnya, yang seringkali menjadi sumber perdebatan, bahkan saling menyesatkan. Agama universal hanya dapat ditemukan dalam Agama Cinta, agama yang dapat diamalkan semua penganut agama, bahkan mazhab maupun tradisi ketika mereka berhasil menembus hijab kepada Yang Hakiki. Karena itu, Agama Cinta ala Rumi adalah agama universal yang dapat direguk berbagai pemeluk agama dan tradisi jika mereka semua dapat menembus yang hakiki dengan melampaui simbol-simbol, atau dapat keluar dari kungkungan bentuk-bentuk formal lahiriah semata. Rumi kembali menyakinkan bahwa,

?

?Agama Cinta adalah terpisah dari seluruh agama, hanya Tuhan saja miliknya.?

?

Pernyataan Rumi tersebut dalam pengertian bahwa para pecinta Tuhan adalah manusia-manusia yang dapat merefleksikan cahaya Tuhan. Karena Tuhan dapat mendekat dan menyapa siapa pun dan dari agama apa pun, maka Tuhan menjadi milik yang disapa. Nikmatnya bermesraan dengan Tuhan membuat sang pecinta merasa bentuk formal agama atau bentuk ikatan apa pun sudah tidak memadai lagi. Dalam keadaan begini, Rumi (dalam Talat Sait Halman dan Metin, Mevlana Celaluddin Rumi and The Whirling Dervishes, h. 28) menandaskan:

?

?Agama dan kebangsaanku adalah Tuhan.?

?

Para sufi memandang bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi daripada Agama Cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Cinta adalah esensi segala kepercayaan. Hal ini sebagaimana pernah diungkapkan oleh Ibn ?Arabi sebagai berikut:

?

My heart has become capable of every form;

it is a for gazelles and a convent

for Christian monks,

?

And a temple for idols, and the pilgrim?s Ka?ba,

And the table of the Tora and the book of the Koran

?

I follow the religion of Love, whicherver way

His camels take, My religion and my faith

Is the true religion.

?

We have a pattern in Bishr, the lover of Hind

and her sister, and in Qays and Lubna,

and in Mayya and Ghaylan.

?

(R.A. Nicholson, The Mistics of Islam, h. 106)

?

Melalui puisi tersebut ?Arabi hendak menegaskan, ia menerima berbagai bentuk keyakinan atau agama, juga beragam bentuk rumah ibadah tempat penganutnya menghamba pada Sang Mahacinta, yang sejatinya sama-sama mengagungkan-Nya.Ia pun dapat mengambil atau menempuh semua jalan yang tidak ada bedanya jika mampu melihat esensi dari berbagai jalan itu melalui Agama Cinta.

?

?

Ahmad Nurcholish, penulis buku ?Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama? (Elexmedia, 2015)

?

?

  • view 573