Jejak Damai Sufi Nusantara (Bagian IV)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 25 April 2016
Jejak Damai Sufi Nusantara

Jejak Damai Sufi Nusantara


Para sufi memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Corak keislaman yang mereka bawa merupakan karakter dan wajah Islam yang ramah, sejuk dan mendamaikan. Siapakah sajakah mereka?

Kategori Acak

1.7 K Hak Cipta Terlindungi
Jejak Damai Sufi Nusantara (Bagian IV)

Oleh Ahmad Nurcholish

 

Yusuf Al-Maqassari

Muhammad Yusuf bin Abdullah Abu Al-Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Maqassari lahir di Gowa pada tahun 1037/1627. Ia dikenal di Sulawesi dengan Tuanta Salamaka ri Gowa (guru kami yang agung dari Gowa). (Azyumardi Azra, 1995: 214). Dalam usia 17 tahun (1644 M), Yusuf meninggalkan Makassar menuju Makkah untuk menuntut ilmu. Namun sebelum tiba di Makkah, ia singgah di sejumlah pusat keilmuan Islam, seperti di Banten, Aceh, Gujarat, dan Yaman.

Di setiap persinggahan tersebut ia manfaatkan untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama terkemuka. Di Aceh ia berguru kepada Al-Raniri. (Miftah Arifin, 2013: 138). Di Yaman Yusuf berguru pada Muhammad Al-Baqi Al-Naqsabandi (w. 1074/1664) yang merupakan ulama terpenting dari keluarga Mizjaji. (Azra, 215).  Al-Naqsabandi juga merupaka guru dari Abdurrauf Al-Sinkili ketika di Yaman.

Setibanya di Haramayn ia berguru kepada Ahmad Al-Qusyasyi, Ibrahim Al-Kurani, Hasan Al-‘Ajami, dan sejumlah guru-guru lainnya. Dengan Al-Kurani, papar Azra (h. 216),   Al-Maqassari memiliki hubungan yang sangat erat. Bahkan ia dipercaya untuk menyalin kitab al-Durnat al-Fakhirat dan Risalah fi al-Wujud, keduanya adalah karya Nur Al-Din Al-Jami (w. 898/1492). Lalu Al-Kurani menulis sebuah tafsir atas al-Durat al-Fakhirat dengan judul al-Tahrihat al-Bahirah li Mabahits al-Durat al-Fakhirat. Semua karya ini berusaha mendamaikan pertentangan kaum teolog dengan para filsuf menyangkut persoalan tasawuf filosofis dalam hal ketuhanan.

Dari Makkah dan Madinah ia melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Damaskus dan berguru kepada Ayyub Al-Khalwati (994-1071/1586-1661) seorang sufi muhadits di Damaskus, dan menguasai ilmu esoteric dan eksoteris Islam. Di Damaskus inilah ia diberi gelar al-Taj al-Khalwati (mahkota khalwati). Dari Damaskus ia kembali ke Nusantara.

Setibanya di Nusantara Al-Maqassari banyak terlibat di ranah politik. Ia membela Banten ketika dijajah oleh Belanda pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Dampaknya, oleh Belanda Yusuf Al-Maqassari dibuang ke Srilangka, lalu dipindahkan ke Tanjung Harapan. Di tempat inilah Al-Maqassari menghabiskan sisa umurnya dan meninggal pada 1699 M, di usia 73 tahun. (Arifin, 140).

Hidup dalam tahanan tak membuat Al-Maqassari berhenti beraktifitas. Justru di pengasingan itulah ia menghasilkan sejumlah karya intelektual dalam berbagai bidang keilmuan. Karya-karya tersebut kemudian dikirim ke Nusantara melalui para jemaah haji yang tengah transit di Srilanka menuju Makkah. Dari Makkah-lah gagasan-gagasan Al-Maqassari menyebar ke Nusantara terutama ke Makassar.

Dari sejumlah literature (Arifin, 140-141; Tudjimah, 21-22), berikut adalah di antara karya Syekh Yusuf Al-Maqassari:

 

  1. Al-Barakah al-Saylaniyah. Kitab ini berbahasa Arab, ditulis ketika berada di pembuangannya di Ceylon. Kitab ini berisi tentang ajaran zikir, tata cara berzikir, dan makna yang terkandung dalam masing-masing zikir tersebut. Juga membahas tentang syahadat yang juga terkait dengan zikir seorang hamba kepada Tuhannya.
  2. Bidayat al-Mubtadi. Kitab ini berbahasa Arab, menguraikan tentang sifat-sifat Allah disertai dengan penjelasan tentang sifat-sifat Allah tersebut.
  3. Al-Fawaih al-Yusufiyya fi Bayan Tahqiq al-Suffiya. Menerangkan tentang hakikat sufi dan kesufian, sekaligus menjawab persoalan-persoala yang dikemukakan oleh sahabat-sahabatnya yang berkaitan dengan tasawuf.
  4. Al-Nafhat al-Sailaniyah. Mengurakan tentang tasawuf dan cara menggapainya secara benar.
  5. Zubdat al-Asrar. Selain menguraikan bagaimana zikir secara benar, juga menjelaskan tentang syariat yang harus dilalui sebelum menempouh jalan sufi.

 

Pembaruan Tasawuf Al-Maqassari

Gagasan pembaruan Syekh Yusuf Al-Maqassari berpusat kepada pemurnian tauhid atas paham wahdat al-wujud yang kala itu sangat popular di Nusantara. Seperti halnya Al-Sinkili, Syekh Yusuf juga tidak mau terjebak kepada penafsiran doktrin wahdat al-wujud ibn Arabi yang ditafsirkan secara salah sehingga cenderung kepada panteisme. Yusuf mencoba meluruskan pemahaman yang keliru ini dengan berlandaskan pada syariat kepada komunitas Muslim Nusantara. (Arifin, 142).

Dalam berbagai karyanya kita dapat melihat kecenderungan tasawuf dari Al-Maqassari. Ia mengutip pendapat-pendapat ulama-ulama yang dipandang kontroversial seperti ibn Arabi, dan ataupun al-Jilli. Ia juga mengutip ulama-ulama sufi yang dinilainya moderat. Tampaknya hal ini dilakukan agar ia tidak terjebak ke dalam panteisme.

Dalam menjelaskan tentang Tuhan, Yusuf menggunakan terma al-ihathah (melingkupi) dan al-ma’iyah (kebesertaan), bahwasanya Tuhan melingkupi segala sesuatu tanpa adanya percampuran dan perpaduan sekaligus Tuhan menyertai segala sesuatu tiada sesuatu pun yang menyerupainya. (Ibid.)

Hal ini mengandung pengertian imanensi Tuhan bisa diartikan ada di mana-mana. Tetapi, Syekh Yusuf tidak ingin terjebak kepada paham imanensi Tuhan, maka selanjutnya dijelaskan, meskipun Tuhan itu melingkupi dan beserta segala sesuatu tetapi Dia tidak dapat diperbandingkan dengan apa pun selain-Nya. Tuhan adalah wujud mutlak, sementara selain-Nya adalaj majazi semata.

Namun demikian, Syekh Yusuf juga membenarkan ungkapan-ungkapan syatahat semisal Al-Bisthami, ataupun al-Hallaj, karena mereka mengucapkan hal itu dalam keadaan fana. Dan, ini adalah maqam tertinggi dalam jalan sufi. Yusuf menguraikan hal ini dalam karyanya “Zubdat al-Asrar”, h. 206-209.

Dalam Mathalib al-Salikin Yusuf Al-Maqassari membedakan dua macam tauhid. Pertama, tauhid yang dimiliki para sufi muhaqqiq yang telah memiliki pemahaman yang mendalam tentang ketuhanan. Mereka ini telah mencapai derajat sufi yang tertinggi sehingga mengalami penyaksian (kasyf) dan fana dalam Tuhannya. Kedua, tauhid orang biasa yang menyakini bahwa Allah itu Esa, Allah tempat bergantungnya segala sesuatu, tidak beranak dan diperanakkan, serta tiada seorang pun yang setara dengan Dia.

Lebih lanjut Al-Maqassari menegaskan bahwa orang yang telah mencapai maqam tertinggi dalam jalan sufi tidak akan pernah sekali-kali meninggalkan syariat. Jika orang yang mengaku telah sampai kepada maqam tersebut tetapi meninggalkan syariat maka ia adalah sufi gadungan.

Dalam keseluruhan tulisannya, seperti dikutip Arifin (h. 144-145),  Al-Maqassari menegaskan pentingnya syariat untuk mencapai jalan mistis, dan jalan mistis hanya dapat dilalui dengan kesetiaan penuh kepada ayariat. Dia menegaskan bahwa orang yang mengamalkan tasawuf tetapi mengabaikan syariat, dan menggolongkan orang yang menyakini bisa mendekati Tuhan tanpa jalan melalui syariat sebagai orang yang sesat dan ateis.                                                                                                              

Dari uraian di atas jelas bahwa tasawuf tak mengajarkan kita untuk meninggalkan syraiat dengan segala ritual-ritualnya. Justru melalui syariat dan ritual itulah seorang salik mampu berjalan menembus tirai menuju Sang Khalik. Tanpa syariat seseorang yang meniti jalan tasawuf atau menjadi sufi tak akan pernah sampai pada tujuan utamanya yakni kepada Yang Maha Wujud. Bersambung… [ ]

 

Ahmad Nurcholish, peminat kajian Tasawuf-Falsafi, mahasiswa program doctoral Studi Islam.

 

 

  • view 365

  • Ahmad Nurcholish
    Ahmad Nurcholish
    1 tahun yang lalu.
    Salam hangat utk semuanya... Terimaksih teman2...

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Sepakat dengan Tuanta Salamaka ri Gowa,

    'Tanpa syariat seseorang yang meniti jalan tasawuf atau menjadi sufi tak akan pernah sampai pada tujuan utamanya yakni kepada Yang Maha Wujud'

    Salah satu ulama besar dari kotaku. Walau saya belum terlalu mendalami karyanya, karena jarang beredar, tapi, nama besarnya telah sampai pada kami kaum muda.

    Tuanta Salamaka ri Gowa (Bahasa Makassar) dalam penafsiranku berarti, Guru Selamat dari Gowa.
    Salama' : Selamat (makna harfiah dalam Bahasa Makassar)

    Salam Hangat Pak Ahmad ...

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Syariat yg dimaksud di atas seperti apa ya om?