Jejak Damai Sufi Nusantara (Bagian III)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 20 April 2016
Jejak Damai Sufi Nusantara

Jejak Damai Sufi Nusantara


Para sufi memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Corak keislaman yang mereka bawa merupakan karakter dan wajah Islam yang ramah, sejuk dan mendamaikan. Siapakah sajakah mereka?

Kategori Acak

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
Jejak Damai Sufi Nusantara (Bagian III)

Oleh Ahmad Nurcholish

 

Syamsuddin Al-Sumatrani

Sejumlah sarjana menengarai bahwa antara Syamsuddin Al-Sumatrani dengan Hamzah Fansuri memiliki kedekatan. Dalam hal pemikiran wahdat al-wujud Syamsuddin memiliki posisi penting setelah Hamzah Fansuri. A. Hasjmi (1983: 85), misalnya, cenderung menyimpulkan bahwa Syamsuddin Al-Sumatrani merupakan murid dan khalifah dari Hamzah Fansuri yang paling besar di antara pengikut Hamzah Fansuri di Aceh.

Tak hanya itu, Azis Dahlan (1999: 23) juga mengungkap bahwa Syamsuddin Al-Sumatrani juga memiliki syarah atas karya Hamzah Fansuri, yakni Syarah Ruba’I Hamzah Fansuri dan Syarah Syair Ikan Tongkol. Namun demikian soal hubungan guru-murid di antara keduanya hingga kini masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab terang.

Informasi local tentang Syamsuddin Al-Sumatrani diperoleh dari Hikayat Aceh, Adat Aceh dan Bustan al-Saladin, sementara sumber-sumber Barat adalah catatan perjalanan dari para pengembara Eropa yang datang di Aceh. (Miftah Arifin, 2013: 51). Akan tetapi, semua informasi tersebut mengarah pada sebuah informasi bahwa Syamsuddin Al-Sumatrani merupakan tokoh yang cukup berpengaruh di kalangan istana Kerajaan Aceh pada akhir abad ke-16 M dan menjadi qadhi kerajaan. Ia diperkirakan hidup pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1603-1636 M).

Sebagai ulama Islam, Syamsuddin merupakan sosok penulis yang cukup produktif terutama dalam isu keagamaan. Ia menulis berbagai risalah baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Melayu yang keberadaan teks-teks karya tersebut masih dapat diakses hingga saat ini. Hasjmi menyebutkan terdapat 16 karangan Syamsuddin Al-Sumatrani. (Azis Dahlan, 17-19).

Dari jumlah tersebut karya-karya yang masih dapat kita temukan, Miftah Arifin (h. 53-54) mencatat antara lain sebagai berikut:

 

  1. Jauhar al-Haqa’iq. Kitab setebal 30 halaman ini ditulis dalam bahasa Arab serta telah disunting oleh Van Nieuwenhuijze – seorang sarjana berkebangsaan Belanda. Kitab ini mengajarkan paham Martabat Tujuh dan merupakan kitab pengajaran terbaik dan paling lengkap tentang tasawuf Syamsuddin.
  2. Risalah Tubayyin Mulahazhat al-Muwahhidin wa al-Mulhidin fi Dzikr Allah. Kitab yang hanya 8 halaman ini juga dalam bahasa Arab. Meski ringkas, kitab ini memiliki arti cukup penting dalam pemahaman keagamaannya, karena risalah ini menjelaskan perbedaan pandangan antara golonga mulhid (ateis) dan golongan muwahid.
  3. Mir’at al-Mukminin. Kitab setebal 70 halaman berbahasa Melayu ini menjelaskan keimanan kepada Allah, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, para malaikat-Nya, hari akhir, dan kadar-Nya. Kitab ini membicarakan persoalan akidah yang sejalan dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
  4. Kitab al-Harakah. Kitab ini berbahaya Arab dan ada pula vers Melayu, berisi tentang martabat tujuh.

 

Ajaran Martabat Tujuh

Konsep Martabat Tujuh sejatinya dirumuskan oleh Fadlillah Al-Bunhanpuri, sufi asal Gujarat. Oleh Syamsuddin Al-Sumatrani digunakan untuk membagi penampakan wujud Tuhan (tajalli al-Haqq) ke dalam tujuh tingkatan. Tingkatan pertama adalah ahadiyah, kedua wahdah, ketiga martabat wahidiyah, keempat martabat ‘alam arwah, kelima martabat ‘alam mitsal, keenam martabat ‘alam ajsam, dan ketujuh adalah martabat ‘alam insan (alam al-syahadah).

Dalam tingkatan pertama, Syamsuddin Al-Sumatrani membahas  keesaan Allah Swt., bahwa tidak ada yang serupa dengan wujud Allah Swt., wujud-Nya menjangkau segala hakikat tanpa terjadi perubahan pada zat dan sifat-Nya. Segala sesuatu itu berwujud kecuali dengan sebab wujud-Nya. Dia meliputi seghala sesuatu, Dialah yang Awal dan Akhir, dan Dialah yang Lahir dan Batin.

Dengan ajaran ini, demikian dijelaskan Prof. Miftah Arifin (h. 57), Syamsuddin Al-Sumatrani hendak mempertegas bahwasanya wujud itu sebenarnya hanya satu, yaitu wujud Allah Swt., sementara wujud selain-Nya hanyalah merupakan bayang-bayang  dari Wujud yang Satu ini. Dengan demikian, manusia, alam semesta dan juga seluruh isinya ini merupakan pancaran dari wujud Allah Swt.

Dalam martabat kedua, Syamsuddin mempertegas pengertian wahdat al-wujud. Ia menulis bahwasanya apabila Allah Swt hendak menjelaskan diri-Nya dengan ilmu mutlak maka lahirlah wujud-Nya Yang Mutlak dengan segala keadaan ketuhanan dan kealaman tanpa ada perbedaan dan pemisahan antara bagian yang satu dan bagian yang lain sehingga dinamakan al-Wahdah al-Haqiqah al-Muhammadiyah (Kesatuan Hakikat Muhammad). Dalam kerangka ini Syamsuddin Al-Sumatrani nampak tidak berbeda dengan Rumi dalam memaknai konsep wahdat al-wujud.

Pada martabat ketiga Syamsuddin Al-Sumatrani membahas al-Wahdaniyah. Tatkala  Tuhan hendak menjelaskan dirinya dengan ilmunya, lahirlah wujud yang mutlak dengan segala nama dan sifat ketuhanan yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dinamakan dengan al-Wahidiyah wa al-Haqiqah al-Insaniyah. Dalam pasal ini, sebagaimana dikutip Prof. Miftah Arifin, Syamsuddin Al-Sumatrani menegaskan bahwa tidak ada sesuatu dalam wujud kecuali Allah Swt.

Sebagaimana dipahami Syamsuddin dari al-Bunhanpuri, ketiga martabat yang pertama ini adalah qadim dan tetap dalam ilmu Allah dan belum keluar dari ilmu-Nya. Wujud alam belum lahir secara actual sehingga kerinduan Tuhan untuk dikenal oleh hamba-Nya belum terwujud. Tajalli Tuhan pada tahap-tahap ini masih berlangsung dalam diri-Nya (tajalli fi nafsihi).

Oleh karena itu, Allah Swt bertajalli lagi pada tahap berikutnya (martabat keempat) yang dinamakan martabat alam arwah. Tajalli  dalam tahap ini, menurut Syamsuddin Al-Sumatrani, tidak lagi berlangsung di dalam diri-Nya melainkan pada luar diri-Nya (tajalli fi ghairihi). Tatkala Tuhan bertajalli di luar diri-Nya, terwujudlah Nur yang disebut nur Muhammad, ruh Muhammad, dan al-Qalam al-A’la (pena tertinggi). Ruh dalam martabat ini bersifat sederhana (basith) dan bersifat sunyi dari materi dan bentuk (mujarrad). (Miftah Arifin, 2013: 59)

Martabat kelima adalah martabat alam mitsal. Ini merupakan kelanjutan dari ruh dalam alam arwah, tetapi sudah tersusun-susun dan terbagi-bagi meskipun masih secara halus (lathif) dan bersifat immaterial. (Ibid., 60)

Martabat keenam adalah martabat alam ajsam, dinamakan juga alam syahadah. Pada martabat ini tajalli Tuhan sudah tercipota dalam bentuk tubuh yang tebal, bisa dibagi dan dipecah, tersusun, sudah terkumpul di dalamnya segala nama dan sifat yang Mutlak.

Martabat ketujuh adalah martabat insane yang merupakan titik sentral pembahasan Syamsuddin Al-Sumatrani mengenai alam. Pada martabat ini terhimpun segala martabat tajalli sebelumnya yaitu wahdah, wahidiyah, ruh nurani, dan tubuh yang gelap, semua terhimpun menjadi satu dan menjadi manusia. Manusia dalam pengajaran Syamsuddin secara lahir terdiri dari empat unsure: tanah, air, udara, dan api yang disebut al-isan al-basyari. Sedang jika dilihat dari unsur batin maka mengandung wujud, ‘ilm, dan syuhud. Wujud adalah zat, ilm adalah sifat, nur adalah nama, dan syuhud adalah perbuatan.(Ibid., 60-61)

Dari uraian tersebut maka jelas bahwa Syamsuddin Al-Sumatrani sebagaimana mazhab Ibn Arabian, manusia merupakan tajalli Tuhan yang paling jelas, karena padanyalah terhimpun segala martabat tajalli Tuhan. Namun demikian, Syamsuddin menandaskan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Bersambung… [ ]

 

Ahmad Nurcholish, peminat kajian Tasawuf-Falsafi, direktur Studi Agama dan Perdamaian ICRP