Jejak Damai Sufi Nusantara (Bagian II)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 15 April 2016
Jejak Damai Sufi Nusantara

Jejak Damai Sufi Nusantara


Para sufi memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Corak keislaman yang mereka bawa merupakan karakter dan wajah Islam yang ramah, sejuk dan mendamaikan. Siapakah sajakah mereka?

Kategori Acak

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
Jejak Damai Sufi Nusantara (Bagian II)

Oleh Ahmad Nurcholish

 

Hamzhan Fansuri

Tahun kelahiran dan kematian Hamzah Fansuri belum diketahui secara pasti. Secara teknis, diakui sejumlah sejarawan dan penulis, (diantaranya Miftah Arifin, 2013: 29), agak susah untuk menemukan keterangan mengenai biografi intelektual sufi Nusantara di masa awal Islam. Hal ini karena tidak banyak sumber-sumber tertulis baik berupa manuskrip atau yang lainnya yang menceritakan tentang kehidupan mereka. Sedangkan mereka sendiri juga tidak banyak menceritakan siapa diri mereka dalam beragam karya yang telah dihasilkan. Termasuk dalam konteks ini adalah Hamzah Fansuri.

Menurut Branginsky sebagaimana dinukil Miftah Arifin dari “Toward the Biography of Hamza Fansuri”, menyebut bahwa dengan mendasarkan pada puisi-puisi Hamzah Fansuri, menduga keras bahwa Fasuri hidup hingga tahun 1621 M. Sedangkan  Drwes dan Brakel (The Poems of Hamzah Fansuri), berpendapat bahwa Hamzah Fansuri hidup sampai akhir abad ke-16 M. hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa pada awal abad ke-17 M ajaran tasawuf yang berpengaruh di Aceh adalah ajaran Martabat Tujuh yang dibawa oleh Syamsuddin Pasai (w. 1630 M), murid Hamzah Fansuri. (Ibid., 31)

Al-Attas mengemukakan bahwa Hamzah fansuri hidup – sekurang-kurangnya – hingga awal abad ke-17 M. hal ini berdasarkan fakta bahwa, pertama, munculnya kitab Tuhfah pada awal abad ke-17 M. dan cepatnya ajaran martabat tujuh tidak berarti bahwa pengaruh ajaran Hamzah Fansuri berkurang, apalagi menandakan bahwa ia telah wafat. Sebab, seperti dikutip Miftah, ajaran martabat tujuh sesungguhnya berasal dari tasawuf Ibn Arabi dan tetap setia pada sumber aslinya.

Kedua, Samsuddin Pasai sendiri menulis syarah (tafsir) atas syair-syair Hamzah Fansuri dan ini menjadi bukti bahwa pesona ajaran Hamzah Fansuri masih mengakar di awal abad ke-17 M. Ketiga, pada zaman tersebarnya ajaran Martabat Tujuh di Sumatra dan Jawa, setidak-tidaknya di akhir abad ke-17 M., kitab al-Muntabi dan Syarah al-Asyiqin diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa di Banten.

Keberadaan kedua kitab ini dalam bahasa Jawa inilah yang membuat ajaran-ajaran Hamzah Fansuri mampu memikat masyarakat di pulau Jawa dan mengamalkan ajaran-ajarannya hingga turun temurun.

 

Karya Hamzah Fansuri

Semasa hidupnya Hamzah Fansuri paling tidak telah menghasilkan 5 karya, baik dalam bentuk syair puisi maupun dalam bentuk prosa. Karya-karya tersebut adalah sebagai berikut:

 

  1. Syarah al-A Kitab ini disebut juga Zinat al-Muwahidin. Ditulis dalam bahasa Melayu dan menjelaskan tentang doktrin wujud. Nampaknya kitab ini dipersembahkan bagi mereka yang menapaki jalan tasawuf. Di dalamnya menguraikan tentang tahapan-tahapan dalam ilmu suluk yang dimulai dengan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Menjelaskan juga tentang tajalliyat Tuhan.
  2. Asrar al-Arifin. Kitab berbahasa Melayu ini menguraikan dengan cukup menarik persoalan-persoalan yang berhubungan dengan doktrin wujudiyah. Kitab ini banyak menggunakan istilah-istilah asing yang tidak mudah dipahami orang awam.
  3. Al-Muntahi. Kitab ini berbentuk prosa berbahasa Melayu yang juga menjeloaskan tentang doktrin wujudiyah dengan banyak mengutip ungkapan-ungkapan Ibnu Arabi.
  4. Syair Perahu. Risalah yang ditulis dalam bahasa Melayu ini berisi dasar-dasar tasawuf Hamzah Fansuri. Ia menggunakan perahu sebagai symbol kehidupan.
  5. Syair Burung Pinggai. Risalah ini menggambarkan proses fana dan baqa serta tahapan-tahapan lain yang harus dilakukan menuju kesatuan wujud. Dalam karya ini, Fansuri tampak terinspirasi oleh Mantiq al-Thair karya Fariduddin Aththar.

 

Wahdat al-Wujud

Hamzah Fansuri dikenal sebagai salah satu ulama sufi yang banyak mengadopsi konsep-konsep kesatuan wujud ulama-ulama sufi sebelumnya seperti Ibn Arabi, Sadruddin Al-Qunawi, Fakhruddin Al-Iraqi, dan Abd Al-Karim Al-Jilli. Istilah wahdat al-wujud mulanya diperkenalkan oleh al-Qunawi setelah melakukan kajian mendalam terhadap karya-karya Ibn Arabi. Paham ini mengajarkan bahwa keesaan Tuhan tidaklah bertentangan dengan gagasan tentang penampakan pengetahuan-Nya yang bervariasi di alam nyata (‘alam al-khalq).

Tuhan sebagai Zat Mutlak, satu-satunya di dalam keesaan-Nya; tanpa sekutu dan bandingan bagi-Nya; dan karena itu Tuhan adalah tanzih (transenden). Karena manifestasi pengetahuan-Nya bervariasi dan memiliki penampakan lahir dan batin maka di samping tanzih Dia juga tasybih (imanen).

Konsep wahdat al-wujud ini memang tidak mudah untuk dipahami oleh orang awam. Oleh karena itu ada yang berpendapat bahwa konsep ini memang hanya dapat disampaikan kepada orang yang secara intrelektual keislamannya memadai. Sebab jika salah memahaminya dimungkinkan seseorang itu akan tergelincir kepada kemusyrikan.

Hamzah Fansuri memulai ajarannya dengan mengemukakan bahwa Allah adalah Zat Yang Mahasuci dan Mahatinggi, yang menciptakan manusia. Dalam Asrar al-Arifin dengan terang ia menyeru kepada manusia  agar mencari Tuhannya dengan perantaraan guru yang sudah mengenal Dia, agar kita tidak berbuat salah. Ini merupakan metode suluk yang khas dalam dunia tarekat bahwasanya seorang salik harus mendapat bimbingan dari guru tarekat agar tidak tersesat dalam pencariannya.

Selain itu, ia juga mengkritik para pencari al-Haqq yang tiba-tiba menjadi sufi dan mencari Tuhannya ke dalam hutan belantara, sementara hamzah Fansuri mengatakan bahwa Tuhan lebih dekat pada hamba-Nya daripada urat nadi lehernya sehingga hamba tidak usah mencari Tuhan-Nya ke dalam hutan belantara, menyebrangi laut dan samudra. Melainkan ada dalam “diri” kita sendiri.

Konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud) Hamzah fansuri dapat kita simak dari ilustrasinya mengenai posisi Tuhan dalam alam semesta. Dalam Asrar al-Arifin ia menjelaskan hubungan antara Tuhan dan alam dengan mengatakan bahwa alam itu adalah cermin Tuhan. Meski secara lahir ia (alam) berwujud, sesungguhnya Wujud yang hakiki hanyalah Tuhan. Di bagian lain, ia menyatakan bahwasanya jika demikian sama-sama dengan Tuhannya, karena hamba tiada bercerai dengan Tuhannya, dan Tuhan pun tiada bercerai dengan hamba-Nya. Ungkapan ini menunjukkan adanya ajaran wahdat al-wujud. Menurutnya, sesuai hadits Nabi, barangsiapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya.

Lagi-lagi konsep atau teori ini tak mudah untuk dipahami oleh semua orang. Alih-alih memahaminya, yang terjadi justru mempersalahkan ajaran wahdat al-wujud sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan. Bersambung… [ ]

 

Ahmad Nurcholish, peminat kajian Tasawuf-Falsafi, Direktur Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP

 

  • view 383