Yang Hakiki di Balik Ragam Sesembahan

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 06 April 2016
Yang Hakiki di Balik Ragam Sesembahan

Oleh Ahmad Nurcholish

?

Alam dan apa yang ada di dalamnya sesungguhnya hamba yang mengabdi kepada Allah. Segala hal, ucapan, perbuatan, bahkan atribut dan esensi semesta ini hakikatnya mengabi kepada Allah. Mereka, termasuk manusia, secara keseluruhan adalah abdi Tuhan yang setia. Ini diperkuat dengan pernyataan QS. Fushilat: 11 menandaskan, ?Datanglah engkau berdua (langit dan bumi) dalam keadaan patuh atau pun terpaksa! Keduanya menjawab, kami datang dengan kepatuhan?.

Ini salah satu pandangan sufi besar asal Baghdah, Al-Jili. Nama lengkapnya ?Abd al-Karim Ibn Ibrahim Ibn ?Abd al-Karim Ibn Khalifah Ibn Ahmad Ibn Mahmud Al-Jili. Diberi gelar kehormatan Saykh, Al-Jili juga juga mendapat gelar ?Qutb al-Din? (Kutub atau Poros Agama), suatu gelar tertinggi dalam tingkatan kaum sufi. Al-Jili diambil dari desa kelahirannya Jilan. Konon Al-Jili keturun Shaykh ?Abd al-Qadir al-Jailani.

Karya monumental kelahiran sufi yang lahir? awal Muharram 767 H atau sekitar tahun 1365 M dan meninggal pada tahun 826 H atau sekitar 1421-2 M adalah al-Insan al-Kamil Fi Ma?rifat wa al-?Awakhir wa al-?Awa?il.

Bagi Al-Jili, agama tak semata-mata apa yang tampak dari ragam cara dan bentuk ibadah. Setiap makhluk, dari manusia hingga benda-benda organik, masing-masing melakukan pengabdian dengan berbagai ekspresi ritual. Setiap makhluk abdi Tuhan. ?Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku? (QS. Al-Dhariyat: 56). Di surat lain, Alquran menegaskan:

?

Dan tidak ada suatu apa pun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi engkau tidak mengerti tasbih mereka? (QS. Al-Isra?: 44).

?

Keragaman akidah yang muncul dalam peradaban masyarakat agama, lahir dari sifat-sifat Tuhan yang mulia (sifatuhu al-?ula). Ini bentuk dari proses tajalli nama dan sifat-sifat Tuhan. Keragaman tersebut menunjukan jika manusia dengan segala pengetahuan yang dimiliki memiliki persepsi tentang Tuhan atau tepatnya manifestasi-Nya berupa nama-nama dan sifat-sifat yang kemudian diyakini dan disembahnya.

Dokrin tentang Tuhan yang dikenal manusia yang bersemanyam pada berbagai sesembahan umat manusia dikenal dengan Inniyyah (Ana, ke-Aku-an) Tuhan. Doktrin ini dikaitkan dengan pernyataan Allah: ?Sesungguhnya Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku,? (QS. Taha: 16)

Menurut Al-Jili, pernyataan Allah itu menunjukkan ketegasan ketuhanan-Nya, lahir maupun batin. Ke-Dia-an (Huwiyyah) Tuhan yang ditunjukkan dalam lafaz ?huwa? itulah yang menjadi sumber Inniyyah lafaz Ana.

Dengan kata lain, Huwiyyah Allah ditegaskan secara lugas oleh Inniyyah-Nya. Dia Tuhan adalah Yang Tampak dari Yang Al-Haqq (zhahir al-haqq) dan sekaligus Dia sebagai subtansi pada batin-Nya (?Ayn batinihi).

Pernyataan Tuhan tentang Inniyyah, berarti bahwa Ana (atau Inniyyah Tuhan) itulah Dia Tuhan (Yang Hakiki) yang disembah, yang tampak pada berbagai macam berhala, bintang-bintang, natur semesta, dan berbagai sesembahan setiap agama dan keyakinan.

Apa saja model Tuhan yang disembah umat manusia itulah Ana (Inniyyah) yang sesungguhnya Dia bukan yang lain, karena Dia adalah satu-satunya Sumber atau Pencipta setiap wujud atau ciptaan, tak ada yang lain.

Menurut Al-Jili, penegasan dan penamaan lafaz Ana sebagai Tuhan bersifat riil, sejati, dan benar-benar sesungguhnya. Bukan kiasan atau majazi. Penamaan makhluk, tegasnya manusia terhadap sesembahan mereka, dari sisi hakikat (fi al-haqiqah) adalah penamaan yang sesungguhnya bukan kiasan (tasmiyyah haqiqiyyah la majaziyyah). Jadi, bentuk sesembahan apa pun yang dipuja para memeluk agama dan keyakinan yang bermacam-macam, secara ontologis, itulah Dia Tuhan yang sesungguhnya dan bukan Tuhan kiasan.

Konsep Inniyyah ini memberi pemahaman mengenai adanya kesatuan ketuhanan: Tuhan yang satu dan sama, yang menjadi objek sesembahan semua pemeluk agama yang berima akan keberadaan-Nya. Model-model sesembahan yang berbeda hanya pada bentuk-bentuk luarnya belaka disebabka pengaruh tajalli Tuhan dan respons manusia.

Konsep kesatuan ketuhanan ini sesungguhnya memiliki kaitan yang erat dengan doktrin kesatuan agama-agama. Kesatuan ketuhanan menjadi salah satu argument, setidaknya menunjukkan indikasi akan keniscayaan kesatuan agama-agama, yang memiliki kesatuannya karena berasal dari satu Tuhan yang sama. Ada banyak nama tuhan yang disembah, hakikatnya satu. Dia Tuhan yang Esa []

?

Ahmad Nurcholish, Koord. Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP

?

  • view 218

  • Ahmad Nurcholish
    Ahmad Nurcholish
    2 tahun yang lalu.
    Terimakasih atas responnya...
    Memang tdk harus sependapat dg tulisan2 saya... justru sebailknya mestu=i punya pandangan sendiri yg tdk harus sama...

    Mungkin hy perlu waktu saja untuk bisa memahaminya..

    Sampai ketemu di kopdar nanti, ya... senang sekali kalau bisa bertemu
    Salam,
    Nurcholish

  • Dinan 
    Dinan 
    2 tahun yang lalu.
    Pertama, terima kasih Pak Ahmad menulis lagi. Aku suka tulisan-tulisan Bpk.

    Kedua, aku tdk like tulisan Bpk bukan tidak suka tapi karena aku masih bingung. Ilmuku masih sangat dangkal.

    Ketiga, ini hanya pertanyaan org awam seperti saya, Bukankah kesimpulan tulisan Bpk ini membuyarkan esensi Agama dan Tuhan itu sendiri Pak? Maaf ya, Pak. Jujur saya pusing dan sedikit tdk sepakat.

    Keempat, kalo ada komentar tolong direspon donk Pak, kalo Bpk tdk sibuk. Soalnya Bpk punya ilmu yang mumpuni.

    Makasi Pak.