Terima Kasih Ibu, Bapak

Nurul Baiti
Karya Nurul Baiti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2016
Terima Kasih Ibu, Bapak

TERIMA KASIH IBU, BAPAK

            “Apa mimpi adek yang paling besar saat ini?”.

            Itu pertanyaan terakhir Bapak 3 tahun yang lalu sebelum akhirnya Bapak pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Ya, kami keluarga kecil yang selama ini telah Bapak nafkahi, yang selalu Bapak lindungi. Aku masih ingat jawaban aku saat itu, Pak. “Adek cuma mau segera selesai kuliah dan bisa wisuda didampingi Bapak sama Ibu”, jawabku. Entah kenapa aku memberi jawaban seperti itu, padahal saat itu aku baru mau ikut Ujian Nasional tingkat SMA. Dan pada akhirnya mimpi itu tidak bisa terwujud, Pak. Aku sedih.

            Bapak adalah sosok Ayah yang sangat aku segani, aku hormati, dan aku sayangi. Dibandingkan dengan Ibu, aku lebih dekat dengan Bapak. Aku lebih suka belanja sama Bapak dibandingkan sama Ibu. Kenapa? Karena Bapak pasti akan langsung membelikan barang yang kumau. Tapi Ibu? Pilihan kami pasti selalu berbeda, dan ujung-ujungnya aku yang harus mengalah. Namun, itu tidak berarti aku tidak dekat dengan Ibu. Ibu adalah tempat aku menceritakan segala keluh kesahku, meskipun terkadang aku merasa Ibu seringkali lebih memperhatikan kakak. Namun aku berusaha menepis perasaan itu jauh-jauh. Aku tahu, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya.

            Aku bersyukur dilahirkan di tengah-tengah keluarga kecil ini. Meskipun sempat merasakan susahnya hidup dengan gaji seorang Guru SD yang tidak seberapa, aku tetap bersyukur karena memiliki orang tua yang sangat pandai mengalihkan perhatian anaknya dari rasa lapar, mengajarkan anak-anaknya untuk hidup hemat, mengajarkan anak-anaknya untuk selalu berlaku jujur, dan banyak lagi pelajaran lain yang kudapatkan dari keluarga kecilku ini. Aku bersyukur memiliki 2 orang kakak yang sangat baik, meskipun terkadang sangat tegas. Terkadang aku marah dengan ketegasan mereka. Namun kemudian aku sadar, ketegasan mereka semata-mata untuk kebaikanku sendiri. Mereka lebih berpengalaman beberapa tahun dalam mengarungi hidup dibandingkan aku yang bisa disebut “anak baru lahir kemarin”.

            Seperti Ibu, aku juga ingin agar kelak bisa mendapatkan teman hidup seperti Bapak. Aku ingin kelak kehidupan rumah tanggaku seperti Ibu dan Bapak, atau bahkan lebih baik daripada itu. Meskipun mereka sering bertengkar seperti layaknya pasangan suami-istri lainnya, namun mereka tidak butuh waktu lama untuk kembali berbaikan. Dan sampai akhir hayat Bapak, tak pernah sekalipun ada niatan mereka untuk mencari “orang” baru. Mereka hanya berfokus mendidik dan menyekolahkan anak-anak mereka hingga sukses.

Dan yang paling menarik adalah obrolanku dengan Ibu beberapa hari yang lalu.

            “Bu, Ibu masih cantik, masih muda. Ibu ga ada niatan gitu untuk nikah lagi?”, tanyaku sambil tidur di pangkuan Ibu (udah gede? Bodo amat). Ibu diam sejenak. Aku takut. Takut pertanyaanku barusan ternyata nyakitin hati Ibu. Tapi diluar dugaan, Ibu menjawab pertanyaanku dengan tenang sambil tersenyum. “Nak, Ibu menikah dengan Bapak bukan karena apa-apa, tapi karena Ibu merasa Bapak memang pria yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk Ibu. Ibu tidak ingin menikah lagi, karena Ibu ingin bertemu Bapak di surga. Ibu menikah dengan Bapak karena ingin menyempurnakan ibadah kami berdua. Dan Ibu ingin agar … bisa sehidup sesurga dengan Bapak”, jawab Ibu dengan mata berkaca-kaca. Dan tidak butuh waktu lama, wajah yang selama ini selalu memberikan senyuman yang teduh itu kini dibanjiri air mata. Ibu, maafkan Adek yang membuat Ibu sedih. Tapi aku yakin, dibalik air mata itu Ibu menyimpan sejuta cinta dan rindu untuk Bapak di surga sana.

            Ibu. Bapak. Betapa aku ingin seperti kalian. Ingin sehidup sesurga dengan teman hidupku kelak yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Terima kasih telah menjadi orang tuaku. Terima kasih telah menjadi temanku. Terima kasih telah menjagaku. Terima kasih telah mengajarkan banyak hal. Terima kasih Ibu, Bapak.

  • view 293