Kabar dari Desa

Nur Baya
Karya Nur Baya Kategori Renungan
dipublikasikan 12 Juli 2017
Kabar dari Desa

#bahagiaitu_dirasakan_bukandipamerkan

--------------------------------------------------Semesta mendekapku penuh suka cita. Kepingan puzzle belasan tahun silam kembali terurai membentangkan kekelaman masa lalu, yg justru setelah beberapa tahun kemudian ternyata akan selalu, selalu dan  selalu kusyukuri selamanya, rasa syukur yang tak berkesudahan. 

Tahukah engkau kawan saat anak-anak seusiaku kala itu di kolong langit yg berbeda masih meringkuk manja dibalik selimut, saat ibu mereka berjibaku dengan jurus2 pamungkas membangunkan mereka dari lelap yg melenakan, saat sarapan kesukaanmu terhidang mengepul di meja makan, menanti untuk kau santap agar ragamu prima senantiasa, agar kesehatanmu sentosa selalu, agar otakmu tak lelet mencerna pelajaran serta ibumu yang tak henti merapalkan do'a semoga kelak engkau menjadi pejabat kenamaan di Negeri kita ini. Demikianlah kira2 berjuta benang harapan yang diutas oleh ibunda2 kalian. 

Tapiiii..... 

Disaat yg bersamaan kami justru sedang ''bernegosiasi'' dgn malaikat pencabut nyawa. Ibu kami melepas kami u/ menuai ilmu yg disemai bapak/ibu guru tapi berasa mendelegasikan anaknya berperang di medan laga melawan penjajah. 

Tak jarang mata ibu kami berkaca-kaca diliputi tangis kebahagiaan demi melihat kami berhasil menyeberangi ''titian ihdinassiratal mustaqim'', yaaaahh kami membelah anak sungai bertaruh nyawa, bebatuan yg kami pijak licin bak belut, bahkan terkadang bebatuan tajam seperti beling tak sengaja mencumbu kaki mungil kami yg bertelanjang tanpa alas. 

Jangan tanya merek2 sepatu branded macam gosh, kikers, nevada, nike dan seabrek komplotan merek yang membuat ibu kami bisa shok dgn harganya yg selangit itu. 

Kau tau kawan? Brand2 sepatu itu kujumpai setelah lusinan tahun berlalu menyeberangi sungai menari bersama riak.

Tak usah pula kau tanyakan tentang tas, nyaris tak 1pun dr kami yg menenteng tas pelengkap indahnya bersekolah.  

Karena kenapa?? 

Karena kantong kresek jauh lebih bernilai dan tentunya lebih menolong kami. Tas seperti  tas kalian kehadirannya malah justru amat sangat ''menyusahkan''. Silahkan bayangkan sendiri menyeberangi sungai sembari ''dikawal'' tas. 

Oia apakah kamu pernah ikut merasakan betapa tak nyamannya duduk dibangku sekolah serasa makhluk amfibi? Separuh badan kami basah kawan, lalu apa kabar dalaman yg kami kenakan???  basah sebasah2nya, tak ayal pakean kami setiap hari kering di badan. Ini setiap hari lho, klo musim hujan gimana lagi? Seluruh jiwa raga, lahir batin kuyup sekuyup2nya. 

Kadang aku senyam senyum sendiri jika ini terjadi padamu kawan di kolong langit sebelah, terbayang olehku ibu kalian begitu berduka cita melihatmu seperti ini, berjuta kekhawatiran mendera, bermilyar iba menyerbu, lantas begitu mengasihi kalian dgn cara mereka. 

Kamu kena sedikit air hujan saja, seketika membuat ibumu kelimpungan. Tapi sadarkah kau kawan dgn itu semua entah org tuamu ''ngeh'' atau tidak,  kamu sementara diramu menjadi pribadi2 yg bermental lembek bin cengeng. 

Lihatlah kami hari ini, anak yg ditempa oleh semesta. Alam sungguh memberi kami himpunan energi yg tak terhingga.

Stok ketulusan yg kami miliki unlimited kawan, bahkan hanya sekedar berbagi ubi jalar rebus dgn sebaya kami serasa berbagi proyek milyaran saking tulusnya hati ini, menggenggam uluran tangan kawan kami saat menerjang deru air kala musim penghujan bak superhero yg sering kalian tonton di kotak ajaibmu, kepuasan batin tak bisa dibeli dgn setumpuk dolar, kami bahagia, sungguh. 

Soal kejujuran? Jgn ditanya, itu adalah perisai yg sdh terpatri amat sangat dalam menghunjam dan mengakar di relung jiwa. 

Pigura kepolosan membingkai kepribadian kami yg masih berusia 9 tahunan kala itu, kepolosan yg mendekati kesucian para dewa. 

Entah saya berhalusinasi atau apapun namanya kala itu,  tapi air seakan2 berujar ''melintaslah wahai pewaris ilmu''. 

Daun kelapa melambai penuh kehangatan menyaksikan kami dari ketinggian. 

Pelepah pisang mengangguk takzim menyertai perjuangan kami merentas anak sungai, rerumputan bertazbih memohon perlindungan agar kami selamat menapaki daratan. 

Pepohonan bermunajat mengirimkan rapalan do'a yg tak berujung. Ahhhh sungguh indah kawan ''berbicara'' dengan alam. Indaaaaahhh sekali.

Sekarang.... 

Telaga mataku mendesak membasahi pipi, dikejauhan nampak matahari tumbang ke ufuk barat menyisakan semburat orange menggantung di kaki langit. 

Salam hangat untuk teman2ku pejuang tangguh. Ingin kukabarkan padamu kawan bahwa teman2ku itu kini telah menjadi ''orang'', si Denish (yg berbaju merah bergaris) telah menjadi direksi di perusahaan ternama. 

Si Rudi (yg badannya agak gempal) kini menjadi kepala dinas perhubungan di Jogjakarta dan si Iwan (yg senyumnya paling sendu menawan) menjadi salah satu pesohor di negeri ini. 

Aahhh jd rindu dgn sunggingan senyum si Iwan yg selalu merekah nan semerbak, tentu saja menawarkan selaksa keharuan mengenangnya. 

Tak ada  kamuflase dalam pertemanan kami, bahkan saat sekarang ketika kami reuni kecil2an balada perjuangan meniti ''titian ihdinassiratal mustakim'' tak pernah lapuk kami kenang. 

Kisah saat mendapati pelepah pisang yg tak sobek saat musim hujan menyapa bak mendapati sebongkah berlian, kami berha ha hihi riang mengenang itu semua. Tak pernah jenuh kami mengulik kisah itu, lagi, lagi, lagi dan lagi kami mengenangnya, selalu dan selamanya.

Terima kasih alam, telah mengajarkan dan menitipkan  kedewasaan kpd kami sebagai bekal dalam menjamah kerasnya kehidupan.

Terima kasih Allah telah memberiku kesempatan lahir di belahan bumiMu yg masih perawan dari tangan2 makhlukMu yg penuh kepongahan dan kecongkakan.

@Nurbaya

  • view 56