Denting kematian

Nur Baya
Karya Nur Baya Kategori Renungan
dipublikasikan 02 Juli 2017
Denting kematian

Selalu ada cinta yang melimpah ruah & tak berkesudahan dari laki2 yang Allah delegasikan sebagai imamku di jagad ini. 

Adalah sosok suami yang kehadirannya seperti oase, membasuh kerongkonganku yang dahaga mengarungi padang pasir kehidupan.

Kuhunuskan belati perasaan untuk menikam perihnya sukma ini mengenangmu. Duhai sayangku, bukankah ini rindu yang menggila??  

Ketika hati kita saling menggapai dalam jauhnya jarak, saling berangkulan dalam ketiadaan, denting kepiluan bersahutan dalam senyapnya melodi, asa yg tak pernah pupus digilas masa, dan tahukah engkau?? 

rindu ini masih membuncah,  persis sejak pertama kita bersua dalam ikatan yang halal lagi suci.  Kutanyakan sekali lagi padamu, bukankah ini rindu yg menggila??? 

Sungguh aku tak tau hendak kemana kugiring bahtera lara ini untuk menepi, barang sejenak saja. 

Untuk kesekian kalinya aku bersimpuh, tergugu, dan meleburkan sedu sedan di atas pusaramu kekasihku. Relung jiwaku laksana bayi yang mengalami hipotermi, rindu hangatnya dekapanmu sebagai termoregulator. Sayang,, aku mencintaimu karena Allah.

Betapa aku tak mencintaimu sebesar ini, engkaulah perwujudan dari do'a yg kunukilkan bertahun2 kepadaNya. 

Betapa aku tak menyayangimu sedalam ini, engakulah lelaki yang menghantarkanku mengenal Allah lebih dekat. 

Betapa aku tak mengasihimu selekat ini engkaulah imam yg diutus oleh Allah. 

Kau merengkuhku dalam dekapan indahnya berhijrah dan bertaaruf dgn ajaran islam. 

Bersamamu aku belajar melabuhkan cinta pd sang pemilik cinta yang sesungguhnya, Dialah Allah.

Meskipun di pusara ini begitu hening, bisu dan hanya desau angin yg sesekali berbisik lirih, namun aku merasa suasana begitu riuh nan ramai. Hati dan pikiranku saling berkejaran,   menerabas kepingan kenangan yg berserakan dalam hamparan masa lalu.

Kelebat kebersamaan kita menari2 setiap aku bertandang ke peristrahatan terakhirmu ini. Untaian2 nasehatmu serasa baru kemarin kau mengisahkannya padaku, meskipun jasadmu telah bertahun2 berkalang tanah. 

Wahai pusara, padamu ingin kukutipkan wejangan dr suamiku saat ia mengirimkan sinyal,bahwa firasat akan kepergiannya tak akan lama lagi, bertepatan saat ia membimbingku dalam ketauhidan kala itu ''kita semua ini sejatinya adalah musafir dan cukuplah sebagai kematian sebagai penasehat yg paling arif lagi bijak''. 

Almarhum suamiku jg pernah berujar ''bahwa jika org shaleh lagi baik berpulang, sesungguhnya dia pergi untuk beristrahat, tp jika org jahat lagi durhaka ketika meninggal dunia maka sesungguhnya yg ditinggalkanlah yg beristrahat, istrahat dr keonaran yg sering dilakukannya selagi hidup''. 

Beliau menutup nasehatnya dgn berkata ''orang yg baik lebih sering wafat lebih awal karena Allah sayang dan agar ia meninggal dalam keadaan tetap terjaga kebaikannya. 

Sedangkan org jahat dipanjangkan umurnya bukan karena Allah tdk peduli, 

tp karena Allah justru sangat menyayanginya sehingga diberi jatah waktu u/ bertaubat dan kembali ke jalan yg lurus''

Ahhh masih terlalu banyak nasehat2 indahmu yg terngiang begitu nyaring bak sirine ambulans, kau senantiasa menasehatiku tanpa sedikitpun ada gurat kemarahan dan menggurui di wajahmu. 

Kelak pusara kita akan berdampingan, dan aku berjanji sembari menunggu maut menjemput, aku akan senantiasa menghabiskan sisa usia dengan mendziarahimu sayang.

Dipenghujung sore menjelang senja, dengan takzim kurapalkan do'a2 pengharapan, aku membasuh nisan almarhum suamiku, gundukan tanah pusaranya kubelai lembut. 

Tanpa  terasa buliran hangat menyeruak di pelupuk mata megiringi dukaku yg tak kunjung redam. Kurajut dan kupahat namamu dalam ingatan, akan kurawat sepenuh jiwa dan cinta. 

Lirih aku berbisik di sela isak tangis ''sayang, aku mencintaimu karena Allah, semoga Allah menyatukan kita di negeriNya yg abadi, ya Allah kekalkan kami dalam naungan JannahMu yang penuh kedamaian''.

Perlahan aku beranjak, kutatap sekali lagi pusaramu. Enggan tubuh ini meninggalkanmu sayang. 

Mega kekuningan berarak memeluk langit senja, di ufuk barat sang surya menyunggingkan senyum manja berpamitan pd siang. 

Sebentar lagi bintang gemintang gegap gempita bersuka cita menghias malam. Nun jauh rembulan menyibak langit memancarkan ronanya yg begitu anggun, parasnya menyembul bak putri malu menerangi kanvas cakrawala. 

Terpana raga ini melensa lukisanMu yg maha indah wahai sang Khalik pemilik semesta. Engkaulah penguasa langit dan bumi. Sungguh tidak ada yg sulit jika Engkau berkendak, apalagi jika hanya persoalan maut.

Terima kasih telah menjemput Almarhum suamiku dalam keadaan khusnul khatimah ya Allah.

Mengenang mendiang  suamiku membuatku semakin yakin bahwa sesungguhnya kematian benar2 akan menyapa, dan kedatangannya yg tiba2 dan tak mengenal waktu menyiratkan bahwa perjalanan kita telah berada di garis finish.

Kukayuh langkahku sembari membangunkan memoryku, lamat-lamat kembali kuhadirkan firman2Mu mengenai kematian. Kuhidupkan dalam hati dan pikiranku bahwa :

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S Ali Imran: 145)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Q.S Ali Imran: 185)

  Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (Q.S An Nisaa : 78)

 Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). (Q.S Al An’aam : 2)

Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (Q.S Al An’aam : 61)

Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (Q.S Al Mu’minuun :15-16. 

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (Q.S Al Ankabuut : 57). 

Aku terisak, hatiku bergetar. Adakah diri ini sudah siap menghadapMu? Ya Allah jadikanlah penghujung hidupku sebagai kesudahan yg indah. Peluk dan ridhai aku dalam keadaan khusnul khatimah. Aamiin.

  • view 54