Kini Aku Cinta

N. A. Fadhli
Karya N. A. Fadhli Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Maret 2017
Kini Aku Cinta

Langit masih terang-terang senja. Rona kuning dan jingga dari bias mega merah, membentuk garis selang-seling memesona.

 

Menjelang petang, alun-alun kota yang tak pernah meminta diciptakan, tak pernah pula mengemis kehadiran, justru didatangi berbondong raga untuk sekadar menghabiskan penat setelah seharian beraktivitas. Ia bertetangga dengan apartemen, pusat perbelanjaan, wahana hiburan, rumah sakit, dan beberapa fasilitas umum.

 

Alun-alun itu terlihat lebih ramai dari hari biasanya. Seorang remaja perempuan dengan stelan rok hitam panjang dan cardigan berwarna abu-abu yang menjulur sampai mata kaki, turut membaur di sana. Ia duduk pada satu dari dua bangku yang dipisah meja. Sambil menanti seseorang, jemarinya asyik bermain ponsel.

 

Tak lama, datang sosok pemuda dengan peluh yang mencetak basah pada bajunya, menghampiri perempuan tadi.

 

“Maaf baru tiba sekarang,” Kata si pemuda sambil bernapas cepat, terengah-engah.

 

“Tenanglah, aku baru sepuluh menit di sini. Kamu datang terlalu cepat dari biasanya.”

 

“Benarkah? Kalau begitu syukurlah.”

 

“Kamu habis berlari, ya? Bukankah memerlukan waktu satu jam perjalanan, dari rumahmu menuju ke sini?”

 

“Aku ke tempat ini dengan berjalan cepat, sesekali berlari. Sekitar sepuluh menit perjalanan dari asrama baru. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang ke rumah yang.. asli,” ucap si pemuda sambil mengatur napasnya.

 

“Jadi, selama menghilang dariku, kamu tinggal di asrama?”

 

“Ya, bisa dibilang seperti itu. Suasananya lebih damai. Pemilik sekaligus pekerja di sana ramah dan sangat peduli. Meskipun terkadang, ku jumpai banyak ketakutan dan ketegangan di setiap kamar. Tapi, aku kerasan tinggal di sana.”

 

“Baguslah kalau begitu.

 

Aku bahagia, akhirnya kamu datang. Setelah ratusan pesan yang ku kirim tanpa adanya balasan. Atau sekadar kabar titipan.”

 

“Habisnya mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa terus-terusan ditunggu pesan darimu. Dan memang, hari ini aku harus datang.”

 

Si perempuan tersipu. Pemuda di hadapannya hanya tersenyum tipis. Mereka saling bertukar kabar, sesekali tertawa. Keduanya sangat menikmati secuil canda di tengah keramaian pengunjung yang datang, dan pulang.

 

***

 

Perempuan itu terlihat senang diwajahnya. Kehadiran pemuda beberapa menit lalu, berhasil menjadi pembunuh rindu yang selama berminggu-minggu ia pendam. Walaupun terlihat, wajah pemuda dihadapannya sangat pucat. Mungkin terlalu capek berlari sampai memegangi dada yang lapang itu, pikirnya singkat.

 

Si pemuda mencoba menenangkan diri dan mengatur napas. Lalu duduk di bangku satunya, sambil mengelap peluh dengan sapu tangan yang baru saja dibeli.

 

Si perempuan, justru melamun. Hanyut memperhatikan pemuda dihadapannya dengan tatapan syahdu. Hingga terdengar ucapan yang membubarkan lamunan itu.

 

“Empat puluh menit. Aku hanya bisa menemanimu dalam durasi itu,” kata si pemuda.

 

“Kamu menghilang selama tiga minggu. Tidak memberi kabar atau kehadiran.”

 

“Tiga minggu hanyalah waktu yang singkat, bukan?”

 

“Iya, singkat sekali. Tapi sangat sukses menanam ribuan rasa khawatir untukku, juga sejuta rindu.

 

Dan.. kamu datang untuk empat puluh menit saja?”

 

“Benar. Hanya empat puluh menit.”

 

Wajah ceria perempuan itu seketika menjadi datar. Padahal ia ingin bercerita banyak hal. Tentang berbagai kabar baik yang harus didengar pemuda dihadapannya, salah satunya beasiswa yang ia terima untuk studi S2 di Jerman. Suasana hening lagi-lagi membuat keduanya ditelan kebisuan.

 

“Maaf, sebenarnya aku telah lama memikirkan tentang dirimu. Tapi, hanya bisa kupendam saja”, ucap si pemuda memecah keheningan keduanya. Kepala pemuda itu perlahan menunduk.

 

“Aku cinta kamu. Hanya itu saja, tidak lebih. Tolong jangan minta alasan lain tentang pengakuan ini,” lanjut ucapan si pemuda kepada perempuan dihadapannya.

 

“Kata-kata itu sudah lama ingin aku dengar, setidaknya setelah lima tahun persahabatan kita.”

 

“Maksudmu?”

 

“Aku juga cinta kamu. Sangat.

 

Berarti kita bisa hidup bersama, kan?”

 

“Tidak bisa.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena kamu harus melupakanku. Segera dan secepat mungkin.”

 

“kamu masih suka bercanda ya.”

 

“Bukan bercanda. Kali ini aku serius. Sungguh.”

 

“Kamu tidak bisa memintaku untuk melupakanmu begitu saja.”

 

“Maaf, tapi kamu harus melakukan itu. Atau, mendapat kecewa yang lebih di hari selanjutnya.”

 

“Tapi, cintaku sudah mutlak”

 

“Tidak ada yang mutlak di dunia ini. Termasuk urusan cinta.”

 

Perempuan yang awalnya senang dan bahagia itu, kini mendadak menjadi pemurung. Mukanya masih tersirat kebingungan. Mata beningnya menatap ke depan penuh dengan kekosongan. Dadanya sesak, kuping wanita cantik itu seakan masih berdesing setelah mendengar ucapan lelaki yang dicintanya.

 

Hening. Mereka duduk taat di tengah alun-alun kota. Si perempuan belum sukses meredam isak. Matanya sudah menggulirkan air mata.

 

“Mengapa menyuruhku untuk melupakanmu?” kata si perempuan.

 

“Karena cinta ini, bukan milikku lagi.”

 

“Aku tidak mengerti.”

 

“Begini, kita buat kesepakatan. Kamu harus melupakanku secepat mungkin. Lalu membuka ruang hati itu untuk nama lain, sosok baru.”

 

“Dan kamu?”

 

“Aku akan terus menyimpan cinta ini.”

 

“Tidak adil.”

 

“Kamu belum berhak menentukan ketidak adilan, apalagi tentang cinta.”

“Mengapa?”

 

“Aku percaya jika cinta itu adil dan suci. Cinta pasti didatangkan dari suatu tempat yang suci dan penuh kesucian. Karena ia adalah anugerah Tuhan paling berkesan. Aku yakin, kesucian yang murni tidak pernah mengkhianati keadilan.”

 

“Aku juga sangat percaya pada hubungan antara cinta dan keadilan itu. Tapi, tidak setuju dengan kesepakatan yang baru saja kamu buat.”

 

“Arus waktu akan memaksamu untuk setuju.

 

Sekarang sudah pukul 17:20, aku ada kegiatan lain yang harus diselesaikan. Apa perbincangan ini sudah berakhir? Aku ingin izin untuk pamit.”

 

“Apakah kegiatan itu sangat penting, sampai harus meninggalkanku?”

 

“Ya, penting sekali. Aku minta maaf harus meninggalkanmu sekarang. Dan mungkin dalam waktu lama.”

 

“Mungkinkah dengan kesibukan barumu, kita tidak bisa bertemu lagi?”

 

“Mungkin. Tapi, kamu harus belajar merelakan dan mengerti kesibukan seseorang. Aku juga akan belajar dua hal itu. Apalagi, aku baru sebulan bekerja di BUMN, dan kamu mendapat beasiswa S2 ke Jerman.”

 

“Baiklah. Aku mengerti,” kata si perempuan dengan suara parau.

 

“Kau tahu? Akulah seseorang yang bersyukur hari ini, karena kita masih dipertemukan lagi. Dan sungguh-sungguh meminta maaf atas apapun kesalahanku padamu, semoga kamu tidak marah”, kata si pemuda dengan nada parau, namun memperlihatkan senyum tipis. Sembap di matanya ikut basah. Tapi ia tahan linangan itu.

 

Si perempuan hanya mengangguk. Mata beningnya sudah basah tangisan.

 

“Far, tasmu terbuka. Kamu bawa laptop, ya?

 

Bahaya kalau tidak dijaga. Dengan keramaian seperti ini, tasmu bisa dicuri,” si pemuda menutup resleting tas perempuan itu sekaligus memberikannya.

 

“Iya. Terimakasih, iq.”

 

Senja kemerahan telah berganti warna. Langit kini menawarkan awan mendung. Diikuti angin yang berlari kencang mengibas dedaunan pohon hingga bergetar hebat. Gerimis jatuh pelan.

 

Si pemuda meninggalkan perempuannya. Bergegas dan berlari karena agenda yang menunggunya.

 

Sementara si perempuan, berjalan diiringi rintik gerimis. Ia masih terkejut dengan pemuda yang dicintanya. Sebegitu cepat berubah, dari sikap kehangatan menjadi dingin pada senja tadi.

 

Sekitar jam 19:10, perempuan itu melihat ponselnya. Ada enam pesan masuk dari nomor ponsel yang tidak ia kenal. Pesan itu langsung dilihat, segera setelah ia tiba dikasur nyenyaknya.

 

18:20

Farah, maafkan ibu, karena baru memberi kabar. Selama tiga minggu ini, ibu diminta oleh Faiq untuk tidak memberikan kabar apapun kepadamu. Tapi sekarang, tidak perlu disembunyikan lagi. Faiq sudah pamit untuk selamanya dari dunia ini. -Ibu Faiq-

 

Napasnya terhenti sesaat. Kedua mata Farah lagi-lagi menatap kekosongan dari terangnya layar ponsel. Seluruh badannya merinding. Gejolak dalam hatinya panas, sesak. Banyak sekali tanya dalam diri Farah.

 

18:29

Faiq telah mengidap penyakit jantung lemah. Dokter baru memberi vonis itu setelah tiga minggu terakhir. Kondisinya semakin memburuk. Karena kurangnya aktivitas, sehingga jantung Faiq melemah. Harusnya hari ini, jam 17:10, adalah rangkaian operasi yang bisa menentukan kelanjutan hidupnya. -Ibu Faiq-

 

18:36

Tapi, Faiq menghilang dari ruangannya. Kebetulan pada waktu kehilangannya, ibu dan bapak sedang keluar untuk membeli makan. Sementara paman yang harusnya menjaga dia, justru tertidur pulas. Faiq pun menghilang, karena tidak diawasi. -Ibu Faiq-

 

18:40

Faiq keluar dengan memakai sepasang pakaian yang telah ibu siapkan di lemari. Pakaian itu disediakan untuk hari kepulangannya, ketika operasi berhasil. -Ibu Faiq-

 

18:49

Faiq terlihat terkapar di depan pintu masuk rumah sakit. Akhirnya dengan sigap, petugas rumah sakit membawanya ke ruang operasi. Dokter yang menyadari, langsung melakukan operasi. Dokter menduga ia terlalu capek dan sangat kelelahan sore tadi, sehingga operasi pun gagal. -Ibu Faiq-

 

Farah sempat curiga dengan pucatnya wajah Faiq sore itu. Ia mulai mengerti, bahwa asrama yang dimaksud Faiq adalah Rumah Sakit di dekat alun-alun kota. Batinnya mengutuk, “kenapa tidak segera sadar tentang kondisi saat senja tadi?”

Air matanya mulai mengalir lagi, perlahan-lahan.

Tiba-tiba, notifikasi dari ponselnya muncul, baterai tersisa hanya 5 persen saja. Farah bergegas mencari charger yang hari itu dibawanya di dalam tas. Setelah menemukan apa yang dicari, Farah mendapati dua lembar kertas yang terlipat rapi, seperti surat.

 

Perlahan, ia ambil dan amati dua lembar kertas itu, membukanya dengan wajah penasaran. Surat itu dari Faiq. Entah kapan pemuda yang dicintanya menaruh kertas ke dalam tasnya. Ah, mungkin Faiq mengeluarkan suratnya bersamaan dengan sapu tangan, sebelum mengelap keringat yang bercucuran. Dan ketika menutup resleting tas, itulah moment Faiq menaruh surat ke dalam tas, seperti itu Farah menebak dan menerka.

 

Untuk Farah,

Aku tidak tahu cinta itu seperti apa dan bagaimana. Aku juga tidak tahu hidup ini akan sampai detik keberapa. Kutulis surat ini, agar engkau tahu. Aku akan selalu mencintaimu. Semoga engkau pun begitu.

 

Tapi aku sadar, waktu bukan milikku, juga bukan milikmu. Waktu masihlah milik Tuhan. Dan dirimu, masihlah milik Tuhan. Waktumu masih panjang, semoga. Dan kau akan temukan sosok yang menantimu di masa depan. Bolehkah cinta ini kusimpan dan kubawa sampai ke sana?

 

Sontak, isaknya semakin pecah. Farah sudah tidak peduli lagi dengan air mata yang mengalir deras dari setiap baris bulu matanya.

 

Dalam mimpi kemarin, aku melihatmu memakai jilbab putih panjang. Sungguh anggun. Tapi mimpi itu hanyalah sebatas mimpi. Yang akan terkubur bersama jasad ini, dan tidak pernah terlihat oleh mataku. Entah kenapa aku harus datang kepadamu, dan menyampaikan pesan itu untukmu. Mungkin itu adalah pesan cinta dari-Nya, yang dititpkan melalui mimpiku.

 

Malam itu, batinnya tertusuk. Selembar kertas yang sudah dibacanya, telah basah oleh air mata yang tak mau berhenti mengalir dari matanya. Kemudian, Farah membaca lembar satunya.

Aku (Akan) Pergi

 

Aku pergi sejenak

tidak akan menemuimu di dunia lagi

dan taat menunggu

di sini, di keabadian.

 

Dapatkah kau merasakan satu nafas,

yang selalu membersamaimu?

Aku bukan cintamu. Memang harus begitu.

 

kau tak boleh lagi memikirkan perasaan itu

memanggilnya lewat pesan di musim kenangan

bagaimana bisa yang fana hidup dengan yang abadi?

tapi aku yakin,

bahwa yang fana boleh mencintai yang abadi.

bahkan memang harus dan selagi sempat,

aku akan mencintai yang abadi itu untuk selamanya.

 

Jika kau masih tak ingin melupakan setiap pertemuan kita

kunjungi saja makamku

datangi nisan usang itu

ingatlah setiap baris dosa dan detik kesalahan

yang telah kugores dalam putihnya lembar hidupmu,

dengan pekat tinta perkataanku terdahulu

 

renungi kesalahanku

agar kau bisa mengambil pelajaran disebaliknya

jangan dulu menangis,

aku tak memintamu menambah kolam airmata di kuburan itu.

 

Aku pamit

dengan sebutir cinta yang terlanjur membumi

 

bersama rindu yang tertulis rapi

dalam ribuan lembar kenangan

dan sajadah yang lusuh

 

sementara pencarianmu tentang cinta sejati,

telah lama menunggu engkau kembali.

 

- Faiq -

 

Malam itu, di kamar Farah, asap kesedihan berkumpul memenuhi seisi ruangan. Membuat dadanya sesak. Asap itu lebih dahulu membuat pedih matanya, sampai linangan matanya tak mau berhenti.

 

Keesokan harinya, Farah berhijab panjang. Cantik dan anggun. Ia baru merasakan ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, sebelum mengenakan hijab. Ia merasakan ada cinta kuat dan abadi yang menggenggam seluruh hatinya, hidupnya, juga matinya. Cinta yang diberikan kepada sosoknya yang fana. Kini ia mulai cinta dan selalu yakin, seperti puisi Faiq, yang fana boleh mencintai yang abadi.

 

N. A. Fadhli

  • view 183

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    9 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang sukses sekali menghadirkan rasa sedih berkat pemilihan kata yang puitis romantis tetapi tidak berlebihan. Karya N.A. Fadhli ini mengangkat cerita dengan alur yang sangat mengalir secara baik pertanda memang ditulis dari dalam hati yang dalam.

    Walau cerita cinta semacam ini, dimana salah satu pihak, entah pria atau wanita, akhirnya meninggal dunia sudah banyak dibaca di tempat lain, karya ini tetap sangat layak dinikmati sebab barisan kata-kata indah yang sayang untuk dilewatkan. Plus, puisi sebagai penutup tulisan cocok sekali buat dibaca tak hanya sekali tetapi berulang kali dan disebarkan ke teman-teman. Lalu, kandungan hijrah mengenakan jilbab paska kesedihan yang mendalam menjadi pesan terbaik yang patut direnungkan bersama. Top, N.A. Fadhli!