Pulang

N. A. Fadhli
Karya N. A. Fadhli Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Maret 2017
Pulang

Dari laut… gelombang air… tarahan tanah. Laut, air, dan tanah. Dan semua ingatan yang tertambatkan.

 

Siapa dari kita yang lebih merasakan kepedihannya? Siapa dari kita yang tahu keberadaan keluarganya? Siapa dari kita lebih mengingat peristiwa daripada yang dialaminya?

 

Gelombang air yang menyapu daratan Aceh dua belas tahun lalu, masih menyimpan ingatan paling purba. Ingatan yang akan selalu menyanyikan lagu perpisahan tatkala kau sebut tentang laut dan maut. Ingatan yang menyuruhmu untuk diam sejenak. Ingatan yang menghentikan tawa dunia dalam sesaat. Ingatan yang tidak hanya menguras jutaan airmata, namun lebih menikam batin dan segumpal rasa.

 

 

Sebuah instrumen kembali bersenandung dengan nada memekik dalam batinnya yang pilu. Ini adalah keduabelas kalinya, seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun, bersila di tengah pesisir pantai. Saat itu, tinggi mentari sedang sejajar dengan layar langit dan keduanya tepat membentuk sudut sama pada kejadian besar yang membawa pulang keluarganya, dan ratusan ribu jiwa.

 

Ingatanya mulai berlari mundur menggerus waktu, memutar kembali rekaman hidup yang tak pernah hilang dalam memori batinnya. Menyaksiskan orang-orang terseret gelombang raksasa setinggi lebih dari delapan meter, ribuan rumah tersapu menjadi puing-puing berserakan, juga suara arus air yang membuatnya merinding ketakutan.

 

***

 

Dengan sedikit embusan angin surga dan senyum malaikat, telah menyelamatkan dirinya dari pelukan abadi tubuh bumi. Ombak besar yang menghempaskan Faiq,  membuat dirinya tersangkut di pohon kelapa. Ia mulai mengutuk laut.

 

Gelombang raksasa itu surut, pulang ke laut. Membawa keluarganya, dan ratusan ribu jiwa.

 

Terik mentari yang terus naik dan lurus menyinari wajah Kota Serambi Mekkah, menyisakan pemandangan yang memilukan. Cukup untuk membuat jemari mengusap air mata, atau menutup mulut–agar parau itu tidak terlalu menggemakan nada perih dan pedih.

 

Faiq yang berumur dua belas tahun itu, terus mencari, berlari, dan menelusuri setiap tumpukan mayat. Bertanya kepada petugas, namun hasilnya nihil. Di tengah putus asa dalam keputusasaannya tentang pencarian keluarga, Faiq pun pergi.  Sudah sebulan mencari, ia merasa telah menemukan jawaban yang cukup tentang kabar dan keberadaan keluarganya. Nihil. Akhirnya, Faiq mnyerah bersama harapan yang telah kalah.

 

Masih di tengah lamunan, namun kakinya semakin melangkah maju. Air sudah membasahi seluruh celana dan sebagian bajunya. Terngiang suara seorang lelaki paruh baya, menyapanya di tengah perjalanan kenangan buram Faiq,

 

“Jadilah anak yang baik.”

 

disambung suara lembut seorang wanita,

 

“Aku akan selalu disisimu, nak.”

 

juga suara menyejukkan gadis kecil,

 

“Kakak selalu sayang adik, kan?”

 

Ketiga sapaan yang sangat Faiq kenal dalam perjalanan ingatan, membuat dadanya semakin sesak.

 

Faiq masih mengutuk laut. Mengapa laut tidak menyeret tubuh kurus itu. Matanya melihat lurus memandang seluas air dengan tatapan yang semakin kosong. Kakinya terus berjalan, semakin melangkah, semakin berat.  Ia ingin pulang, agar segera berkumpul dan reuni bersama keluarganya. Ketika seluruh dagu, bibir, lalu hidungya mulai tenggelam, suara keras seorang pria paruh baya yang tak dikenalnya, nyaring diserap telinga Faiq,

 

“Heiii, anak muda. Sadarlah…!  Cepat kembali…!”

 

Namun, dirinya sudah tenggelam oleh keinginannya sendiri. Pria paruh baya yang tadi meneriakinya segera berenang, menghampiri Faiq, lalu membawanya ke tepi pantai. Penolong itu menekan keras-keras dada Faiq semisal memompa, sehingga dari mulut faiq mengeluarkan air yang banyak. Faiq sadar. Pria paruh baya yang menolongnya tersenyum lepas sambil mengucap syukur.

 

***

 

Takdir pahit yang menuntun Faiq, membuat hatinya perlahan terbangun dari tidur panjang tentang sebuah kesunyian, dan kesepian.

 

Untuk apa diselamatkan? Rencana apa yang sedang dipersiapkan? Mengapa Tuhan tidak segera mengambil nyawanya dua belas tahun silam?

 

Ia mulai sadar, mungkin ada pesan titipan dalam skenario yang harus dijalankan.

 

Dari laut… gelombang air… tarahan tanah. Dan dengan ribuan harapan untuk pulang, angin menghempaskannya kembali.

N. A. Fadli

 

  • view 62