Payung Teduh

Nuraini Novitasari
Karya Nuraini Novitasari Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2016
Payung Teduh

Aku bukan siapasiapa, dan apa-apa tanpa mereka (keluarga)”.

Keluarga selalu kuibaratkan seperti 'payung teduh'. Kenapa? Karena ketika hujan turun, hujan memiliki seribu rintik untuk membuat basah kuyup atau menggigil kedinginan.

Manusia selalu dihadapkan pada serangkaian peristiwa yang tak pernah bisa diduga, akan ada halang rintang yang penuh duri dan kerikil tajam. Kehidupan takkan pernah berjalan dengan mudah, ujian tak selalu datang seperti mengucapkan salam mengetuk pintu rumah, ia kadang menyelonong hadir tiba-tiba.

Kita bisa menjadi manusia yang kalah dan lemah bila berhadapan dengan hujan. Merutuki jalan yang becek, duduk termangu di sudut pertokoan menunggu reda, dan memandangi langit sambil terus mengomel untuk bisa cepat pulang. Lalu, adakah yang lebih berbahagia jika saat itu kita memiliki sebuah 'payung teduh'?

Alhamdulillah, payung teduh bernama ‘keluarga’ itulah yang aku miliki, yang dengan setia membawa cinta dan ketulusan, melindungiku agar aku tidak takut menghadapi hujan. Selama mereka ada, aku bisa menjadi manusia yang siap mengambil hikmah dan khidmat untuk membuatku jauh lebih kuat. Sehingga aku menyadari bahwa Tuhan takkan pernah memberi cobaan  di luar batas kemampuan hambanya selamanya hambanya selalu berikhtiar.

Entahlah bagaimana aku harus menuturkan rasa terimakasih kepada sosok-sosok sederhana yang selalu mengajarkanku arti kesabaran dan bersyukuritu. Bapak, lelaki yang pendiam, sholeh, sabar dan tak banyak menuntut. Emak yang pengertian, ramah, dan baik hati. Mereka adalah contoh kecil pernikahan "sehidup sesurga" yang aku idamkan.

Perbedaan usia yang 11 tahun itu tak pernah jadi persoalan. Bapak tak pernah merasa lebih berkuasa dirumah, tak segan –segan membantu pekerjaan rumah tangga walaupun emak tidak pernah meminta. Dan emakpun dengan penghasilan bapak yang pas-pasan sebagai seorang  TNI berpangkat rendah, dengan sigap membantu bapak dengan menjalankan bisnis/jualan kecil-kecilan di rumah. Yah, sekali lagi rumah tangga itu ialah keterkaitan untuk saling, untuk bersama-sama membangun cinta diatas pengertian.

Maka di masa penantianku mencari pasangan,aku selalu mengedepankan ridho kedua orang tua. Jika mereka suka, maka aku suka, jika mereka bilang tidak maka aku juga tidak. Nasihat yang tak pernah mereka lupa ingatkan yang selalu teringang-ngiang dalam telinga dan hatiku.

Mbak, jangan tinggalkan sholat, dimanapun dankapanpun. Karna itulah bekal yang menjagamu menuju alam akhirat kelak. Percuma walau engkau memiliki segala yang ada dimiliki di dunia ini engkau takkan pernah merasa cukup. Rezeki memang harus dicari, tapi carilah yang berkah, karna sedikit saja sesuatu yang haram mengalir dalam tubuha nakmu, maka hancurlah akhlaknya. Carilah berkah yang selalu menempatkan Allah dan iman menjadi yang utama dan pertama dihatimu."

Berjaniilah nak, seberapapun jauh engkau berjalan membangun mimpimu, ingatlah ada sepasang tangan yang selalu mendoakanmu selepas sembahyang, ada sepasang mata yang selalu menunggumu untuk pulang. Berjanjilah, engkau akan selalu menyayangi, membahagiakan kami hingga renta. Berjanjilah, engkau akan membangun sebuah ‘rumah’ untuk kami di sesurga.”     

Demikianlah, semoga saja Allah selalu berbaik hati, dan tanpa segan melangitkan segala doa dan mimpiku. Membuat sesuatunya indah pada waktunya. Menjabahnya dengan segala kedamaikan di hati kedua orang tuaku.

Dan sampai hari ini di usia ke 26, dimana aku telah menjadi menjadi seorang istri dan seorang ibu. Aku masih belajar menepati janjiku, untuk selalu belajar menjadi 'payung teduh' bagi mereka. Payung yang bisa membahagiakan sehidup sesurga