Broken Green

Nursiti Rohmah
Karya Nursiti Rohmah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Oktober 2016
Broken Green

BROKEN GREEN

“Kak, apa yang kakak lakukan kalau kakak lagi sedih?”, Green tiba-tiba bertanya kepada ku yang sedang sibuk mengutak atik tuts laptop. Aku hanya tersenyum dan sedikit membatin menahan gemuruh Tanya yang tiba-tiba. Bagaimana aku tidak memendam pertanyaan dalam dada ku, ini tentang Green yang tak biasanya datang ke kamar kost ku dan langsung menjatuhkan badannya di kasur mungil ku yang selalu tertata rapi sembari bilang “kak, aku boleh kan tiduran disini”, saat itu aku hanya mengangguk dan tersenyum pertanda mengiyakan. 

Aku heran dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan aku mendapatkan firasat ada sesuatu yang tengah beradu hebat dalam dada gadis manis yang sekarang berada tepat disampingku. Yang aku tahu Green adalah orang yang super bawel dan ceriwis, ceria tiada tara, tapi kali ini Green nampak seperti sedang berpura-pura, dan… untuk soal menebak kondisi orang, perasaanku tak bisa diremehkan, aku memiliki kemampuan itu. 

Green adalah gadis yang cantik, badannya mungil seperti penyanyi Rosa, kulitnya putih mulus, hidungnya mancung, alisnya tebal dan matanya bening. Kebiasaan lamaku, aku tak bisa mengabaikan orang yang datang padaku, apapun yang sedang aku lakukan pasti aku tinggalkan untuk sepenuhnya aku sambut orang tersebut, termasuk kali ini, aku menutup file yang sedang aku buka dan aku mematikan laptopku. Aku simpan laptopku yang menemaniku siang malam dibawah ranjang kasurku, lalu aku pun kembali duduk di dekat Green yang sempurna merebahkan tubuhnya. Posisi tubuh green yang memanjang sambil tiduran mempertegas dan memperjelas kerumitan yang tengah Green coba sembunyikan. 

Aku tahu, aku tak mungkin tiba-tiba bertanya kepada Green tentang keadaan sulit yang tengah dia hadapi yang membuat dia nampak lesu seperti orang yang kehilangan semangat hidup dan kehilangan harapan. Aku hanya tersenyum-senyum sambil menepuk kakinya. Aku tahu model Green adalah model orang yang mudah menangis dalam keadaan seperti ini, aku tak mau semakin mengacaukan keadaan Green dengan bertindak konyol menodong dia dengan pertanyaan yang sensitif. 

Sebagai sesama wanita yang perhatian betul dengan keadaan kulit wajah, aku membuka perbincangan dengan Green untuk membahas produk apa yang tengah digunakannya sehingga kulit wajahnya nampak licin sampai-sampai bisa dipakai serodotan. Panjang lebar aku membahas produk ini dan itu dengan Green, dan aku mendapati Green seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang penting pada ku. Tapi… tapi aku tak mau mendesak Green dengan terburu-buru menyerang Green dengan pertanyaan “kenapa” dan “ada apa”. Banyak orang yang selama ini memfungsikanku sebagai tempat cerita, sampai ada orang yang mengatakan kalau aku ini serupa tong sampah yang setiap orang bisa membuang sampah pikirannya padaku. Aku juga tak tahu kenapa, entah aku ini orang yang enak diajak curhat dan cerita karena aku lebih banyak mendengarkan mereka dan aku ini bijak bila memberi saran, atau adakah alasan lain yang membuat mereka datang pada ku?  Aku tak pernah tahu, yang jelas, bagiku jika membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi orang lain aku tak bisa, maka setidaknya aku mampu menemaninya disaat mereka membutuhkan, yaa… meskipun hanya menjadi seorang pendengar. 

Kadang aku hanya menempatkan diri ku sebagai pendengar yang baik, karena aku tahu ada saat dimana orang hanya butuh kehadiran kita dan hanya untuk mendengarkan segala keluh kesah, seluruh gundah dan setumpuk dukalara, tanpa komen, tanpa saran. Kadang-kadang orang hanya butuh orang lain yang mendengarkan untuk melepas sedikit beban yang tertumpuk dalam jiwa, begitu pun juga dengan kita bukan? Kadang kita lah yang berada pada posisi tersebut, posisi sebagai seorang yang bercerita, yang hanya butuh pendengar layaknya seorang story teller, tanpa ada sanggahan, tanpa ada protes, tak ada saran, apalagi kritik. Saat itu kita hanya ingin menjadi seorang pembicara tunggal yang menguasai obrolan secara sempurna. Akui saja… kondisi seperti itu pasti pernah dialami oleh sebagian besar manusia, termasuk aku sendiri. 

Green tiba-tiba diam, matanya menerawang jauh, badannya memang ada disampingku, tapi tidak dengan kesadarannya. Ah… Green benar-benar sedang dalam kondisi yang tidak begitu baik. Aku berupaya mengembalikan kesadarannya dengan menepuk bahunya lembut. Green hanya tersenyum, senyum yang sangat dipaksakan. “Aku tahu itu senyuman terpaksa, Green,” batinku bicara.

“Green, saya boleh jawab pertanyaan mu yang tadi?”, Tanya ku pelan. “iya, kak”, jawabnya datar. “kamu kan tadi bertanya kepada saya tentang apa yang saya lakukan jika saya sedang sedih, begitu kan? Saya biasanya tak bernafsu bicara dengan orang, inginnya diaaaam saja dan disela-sela kediaman saya, saya menangis” aku melanjutkan. “ooh gitu ya, kak”, dia menjawab dengan suara yang semakin melemah. “green, saya paling tidak bisa pura-pura menyembunyikan perasaan saya, upaya keras saya selalu berakhir dengan kegagalan jika saya mencobanya”, aku melanjutkan. 

Sungguh aku tak mau sedikit pun terlihat KEPO (Knowing Every Part Only alias pengen tahuuu aja) dihadapan Green, pasien cerita ku. Aku akan mengupayakan kalau dia sendiri lah yang akan menyampaikan apa yang ingin dia ceritakan kepada ku tanpa sebelumnya ku tanya Green dengan kata “mengapa”, dan “ada apa”. Selalu begitu, upayakku hanya mengarahkan lawan bicaraku pada apa yang mereka ingin sampaikan padaku, karena aku tahu kalau menodong orang dengan pertanyaan yang akan membuat hatinya semakin rapuh itu adalah metode yang keliru dalam “klinik cerita” ku. 

“kak, uda jam enam lewat seperempat. Green mau buka puasa dulu ya”, Green pamit padaku. Aku hanya tersenyum saja padanya, memberi isyarat “iya”. Green belum sempat cerita apa-apa padaku, nampaknya Green berupaya tegar di hadapanku. Tapi aku tahu Green, “kau sedang pura-pura baik-baik saja di depan ku”. Aku mengendapkan rasa penasaranku. 

Kamar kost ku hanya terhalang tembok dengan kamar Green. Kami nge kost di kost-an khusus putri di daerah kemang, berdekatan dengan Dian spa, salon elit sekitar itu. Tempat kami tinggal memang salah satu kawasan elit di Jakarta selatan. Tempatnya nyaman, bersih dan masih banyak pohon yang dibiarkan hidup disana, sehingga stok oksigen disini lebih baik dan banyak dibanding dengan tempat lain di Jakarta. Soal biaya sewanya jangan Tanya berapa, itu rahasia negara.

Aku sedikit khawatir dengan kondisi Green yang kurang baik nampaknya itu, aku coba berinisiatif buat mengajaknya buka di kamar. Kebetulan aku sedang libur shalat, aku bisa menemani Green makan, itu pikirku. Tanpa berpikir lama, aku keluarkan kepalaku dari daun pintu, memanggil Green yang berada di kanan kamarku. “Green, buka disini saja. saya temani kamu makan”, panggilku lembut. “iya, kak, aku kesana bentar lagi”, sahutnya dengan suara yang lebih keras dari pada suara-suaranya yang sebelum ini. 

Tak lama Green masuk ke kamarku lagi dengan botol aqua besar dan nasi kotak ditangan yang tadi dibelinya selepas pulang kuliah. Green duduk di dekat jejeran lemari bukuku, terlihat dia bersandar sesaat di temari tersebut. “eh Green, rajin banget puasa, qadha ya?”, aku mencoba mencairkan suasana. “ah gak kok, kak. Aku puasa nazhar. Waktu liburan kemarin, di rumah abah sakit. Abah sakitnya payah banget, sampai aku bernazhar, kalau ayah sampai sembuh dan sehat seperti sedia kala lagi, aku bakalan puasa”, jawab Green. “subhanallah ya kamu ini, Green”, aku menanggapinya dengan penuh semangat supaya Green juga tertular semangatku. “aah, kakak”, Green sempat menimpaliku ketika dia sedang minum. Aku duduk dihadapan Green dan aku meraih salah satu buku yang ada disampingku, buku itu novel, ‘Kimya, sang putri Rumi’. Buku berwarna merah cerah dengan gambar perempuan di cover depannya itu sengaja aku ambil dan pura-pura ku baca dihadapan Green. Green masih membisu sambil memainkan nasi yang hendak di suap di kotak itu. Aku membiarkannya makan tanpa kuajak bicara. Tapi aku tiba-tiba ingat sesuatu sehingga aku tak bisa menahan lidahku untuk berbicara kepada Green yang sedang makan tanpa nafsu itu. “Green, saya pas liburan puasa kemarin, telinga saya panas banget sama pertanyaan ‘akan kemana nanti setelah S1 selesai?’, saya tahu itu hanya pertanyaan pemanasan semata yang akan berujung dengan pertanyaan ‘sudah punya calon?’, ‘kapan menikah’, mereka tak benar-benar ingin menanyakan dimana kelak saya akan berkarir setelah menyelesaikan S1 saya. Saya selalunya menjawab kalau saya akan melanjutkan kuliah saya, saya ingin mengambil S2 Psikologi di Monash University , di Australia. Tahu tidak apa tanggapan mereka? Mereka mengira saya terlalu muluk dan tak peduli masa depan gara-garanya saya dianggap tak mempedulikan soal pendamping hidup saya. Hmm… sebenarnya bukan begitu maksud saya, saya juga peduli dengan hal itu, tapi bagi saya, belajar itu lebih utama ketimbang soal pasangan. Hidup ini bukan hanya tentang menikah dan punya anak saja, ketika kelak menikah, akan kita apakan keluarga kita, akan kita didik dengan model apa anak-anak kita jika kita tak menimba ilmu, mengejar pendidikan dan menambah wawasan sekarang? Saya masih terlalu muda jika tergesa-gesa menikah, usia saya baru 22 tahun, saya tahu saya sebentar lagi lulus S1 karena saya sedang menyusun skripsi saya sekarang, tapi… menikah cepat-cepat is not my choice now. Green, orang-orang selalu sibuk mengurusi hidup kita, mengkritisi aktivitas kita, mengkhawatirkan masa depan kita, padahal kan yang menjalani kita, kenapa mereka begitu repot mikirin kita akan ketuaan lah, gak bakal ada yang mau gara-gara pendidikan ketinggian lah, dan sebagainya? saya pikir kita hanya butuh fokus pada apa yang kita mimpikan, kita fokus untuk sampai pada cita-cita kita, kadang kita memang harus tutup mata dan telinga dengan komen-komen semacam ini”, aku bercerita panjang lebar pada Green yang tengah makan. Green menghentikan suapan nasinya, dia manatapku penuh lirih sambil menanggapi cerita ku “kak, Green juga sama, orang-orang pada sibuk nanyain kapan lulus, kapan nikah”, “oh ya, Yes! Akhirnya saya punya temen, ternyata nasib yang sama menimpa kita, Green. Untuk soal pasangan, Green, mamah sama bapak saya menyerahkannya kepada saya, saya tak dipaksa atau disarankan akan dijodohkan atau diapakan lah yang sejenis itu. Hehe… padahal saya akan lebih milih dijodohin kalau soal ini, saya tak ahli dalam soal memilih pria, saya tak punya pengalaman sama sekali soal ini. Maklum laaah… jomblo sejak mengenal tentang cinta-cintaan. Tapi jomblonya saya adalah jomblo pilihan bukan karena gak laku lho yaa, hehe”. Aku kembali bercerita. “ah kakak nih bisa aja, pakai ada jomblo pilihan segala”, Green terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya, dia sempat ikut tertawa. “Green, dengarkan saya, hidup itu pilihan, terserah kita mau milih apa. Tapi kita harus ingat kalau setiap pilihan memiliki resiko. Termasuk juga untuk jomblo. Salah satu resikonya adalah selalu dijodoh-jodohkan sama teman-teman gara-gara disangka gak laku, atau disangka tidak normal, gak suka sama cowok alias lesbi. Nah, saya sih enjoy aja sama pilihan buat sendiri alias jadi jomblo abadi, maksud saya jomblo sebelum benar-benar menikah, Green, bukan seumur hidup”, “hahaha… kakak ada-ada saja, bisa aja ngelesnya”, Green mulai tertawa ceria. “Green, saya ini normal, saya juga suka sama cowok, hanya saja saya belum siap jika harus mengikatkan diri dengan orang, saya gak mau hidup terpenjara gara-gara pacaran atau hubungan semacam itu lah… saya ini tipe perempuan yang tak suka didikte, saya suka kebebasan, sementara melihat orang-orang yang pacaran disekitar saya, mereka terikat dengan pasangan yang belum tentu akan jadi suami mereka, terikat tak boleh ini dan itu oleh pacar, harus begini dan begitu, ah saya tak suka. Saya memilih sendiri dalam konteks ini, lebih merdeka. Mau deket sama siapa aja, mau temenan sama siapa aja, selama itu tidak berlebihan dan menabrak aturan, saya bisa melakukannya tanpa ada rasa takut ada yang akan ngambek gara-gara cemburu lah, apa lah. Saya tak suka dibatasi berteman, saya tak suka aturan-aturan yang kadang-kadang bikin geli sendiri dari pacar ketika saya dengar teman-teman cerita. Saya memilih merdeka. Jomblo berarti merdeka, membuka peluang untuk lebih fokus belajar dan berkarya tanpa dibebani pikiran tentang seseorang. begitu laah…”. “kakak, kakak beruntung bisa memutuskan itu sejak awal, gak kayak aku yang sudah terlanjur terjebak dalam hiruk pikuk hubungan semacam itu”, wajah Green kembali melayu. “kak, orang tuaku juga menyerahkan urusan soal pasangan sepenuhnya sama aku, walaupun aku anak satu-satunya, mereka tak memaksaku untuk dijodohkan”, Green menghentikan kalimatnya, wajahnya mulai memerah, tanda menahan sesuatu yang sepertinya menyakitkan. Aku tahu Green pacaran dengan Teo, mereka adalah pasangan serasi menurutku kalau dilihat dari penampilan fisik, yang satu cantik, yang satunya lagi ganteng. Cocok. Teo adalah teman sekelas green, cowok yang gantengnya saingan sama Afgan, malah gantengan Teo, tapi… Teo adalah cowok GGN (Ganteng-Ganteng Nyebelin), kendati dia ganteng, tapi sikapnya tak seganteng raganya. Aku malah tak habis pikir, kok ada yang kuat ya dengan cowok tempramen macam Teo, dan ternyata orang yang kuat bertahan dengan Teo adalah Green, Gadis mata panda yang sekarang berada dihadapanku.

“Hubungan sama Teo gimana Green?” aku nyeplos begitu saja. dan aku tak menyangka ini adalah kunci yang akan menghantarkanku pada cerita yang sedari tadi Green ingin bagikan denganku. 

“kak, aku sedang kecewa berat sama Teo. Aku kecewa banget sama dia, makanya tadi aku nanya kalau kakak lagi sedih apa yang suka kakak lakukan. Sekarang aku lagi sedih gara-gara Teo. Aku gak nyangka Teo akan setega ini sama aku, kak. Kakak tahu sendiri kan kalau aku hubungan dengan Teo sudah cukup lama, satu setengah tahun itu waktu yang lama kak. Tapi apa yang Teo lakukan sama aku? Teo sekarang beda sama aku, dia bukan Teo yang aku kenal dulu, sekarang Teo cuek dan aku merasakan betul setiap perubahan Teo belakangan ini. Ini karena ada wanita lain, kak. Dia adik kelas kita yang angkatan baru itu. Teo bilang tak da apa-apa dengan Dila, hanya hubungan adik kakak saja, mereka dekat karena ayah mereka saling kenal. Tapi kak… aku merasa ada yang ganjil disini, Teo banyak berubah akhir-akhir ini. Awalnya aku hanya mengandalkan perasaanku saja, aku percaya sama Teo kalau dia tak akan main dibelakangku, tapi kak… buktinya uda terlalu banyak kalau orang itu main dibelakangku sama Dila” air mata Green mulai terhimpun dibibir mata, aku tak mampu berkata-kata, aku hanya mampu menatapnya dengan tatapan empati, berupaya merasakan apa yang Green rasakan. 

“kemarin pamannya Teo meninggal, hingga akhirnya Teo pulang ke semarang untuk bertakziyah. Sebelumnya dia pamit ke aku, kak. Kakak tahu, tepat setelah Teo pergi, aku melihat status Dila dan ada status Dila yang bunyinya begini “maaf ya sayang aku tak bisa menemanimu pulang, baik-baik ya disana”.  Apa kakak pikir ini status yang kebetulan? Aku pikir tidak kak, ini bukan kali pertama mereka saling berbalas status” Green menunduk, mengalirkan air matanya yang tak lagi terbendung. Sepertinya Green sakit sekali. 

“Mereka berdua memang sama-sama orang semarang, orang tua mereka saling kenal, anggap hanya adik kakak, tapi perilaku mereka menunjukan hal yang lain, kak. Mereka lupa, aku ini pacarnya Teo, kak. Mereka berdua sedang saling menjatuhcintai, keduanya tengah dimabuk perasaan. Dan disini aku sama sekali tak dihargai. Aku bahkan di nomor dua kan, atau bahkan tidak hanya di nomor dua kan, aku tak lagi dianggap sama sekali. Teo akhir-akhir ini benar-benar berubah. 3 bulan dengan keadaan seperti ini tak enteng kak, aku berusaha menutup mata tentang berita hubungan Teo dan Dila. Aku sangat menyayangi Teo, kak. Aku pun sudah bilang aku ini sangat menyayangi dia, dan aku akan memaafkan semua kesalahan dia sama aku, kecuali satu hal yang tak akan pernah aku maafkan dari dia, penghianatan. Diawal hubungan kami sudah saling sepakat, jika salah satu diantara kami sudah merasa bosan kami akan bilang, kami tak akan mempertahankan hubungan yang memberatkan salah satu diantara kami. Aku akan lebih terima jika dia mengatakan bosan sama aku, bukan malah dia bermain-main dengan perempuan lain dibelakangku. Aku paling tak suka jika  keberadaanku tak dihargai, aku tak bisa mentolelir sikap semacam ini. Logikanya begini, jika dia berjalan dengan perempuan lain, berarti dia mencari yang lebih, yang tidak aku miliki. Aku tidak hargai disini, kak… perempuan mana yang akan terima diperlakukan seperti ini kak? Kakak bayangkan saja, aku bertahan cukup lama untuk bisa mengerti dia, sampai-sampai teman-temanku bilang aku bukan Green yang mereka kenal, aku ini katanya seperti babu Teo yang mau saja diperlakukan seenak hati oleh Teo. Aku memang begitu kak, kalau sudah menyayangi orang aku akan total menyayangi dia, aku akan lebih memilih dia ketimbang apa yang orang katakan tentang dia. Selama ini aku bertahan dengan ini semua, tapi apa? Dia tega menghianati janji-janjinya yang sempat dia katakan padaku dulu diawal hubungan kami. Kecewaku tak mampu ku transfer dalam bentuk kata-kata, ini sakitnya sakiiiiiiit sekali, kecewa sekali, sampai aku tak bisa tidur, tak enak makan, tak fokus… ini gara-gara ulahnya Teo yang menjijikan itu” kali ini Green benar-benar menangis, tapi Green masih menyimpan setumpuk cerita yang belum berhasil dia sampaikan. 

“kak, aku baru mengerti sekarang, ketika menyayangi seseorang kita jangan keterlaluan, pun sebaliknya, ketika kita tak menyukai seseorang jangan keterlaluan. Kita jangan terlalu fanatik dengan perasaan kita. Kita akan merasakan sakit yang luar biasa sakit dari sikap berlebihan kita ketika kita mendapatkan kecewa. Jika kelak kakak menyayangi orang, sayangi sewajarnya saja, jangan menunjukannya berlebihan, ini aku rasakan betul kak. Aku sungguh-sungguh kecewa dengan Teo”, Green memeluk lutut sambil menenggelamkan wajahnya disana, Green menangis sejadi-jadinya. 

Hmm… akhirnya aku mengerti kenapa Green layu sejak tadi, ini ternyata yang membuatnya seperti itu. Wanita memang setia, maksudku kebanyakan wanita memang setia, tidak seperti pria yang masih saja bisa lirik sana lirik sini ketika sudah jelas-jelas sedang menjalin hubungan dengan seseorang. yaa barangkali ini benar bahwa ini sudah naturalnya begitu. Adam adalah tempat hawa berasal, hawa adalah rusuk adam. Ketika hawa terpisah dari Adam, lalu ia merasa Adamnya sudah ditemukan, maka ia hanya menjadikan Adam sebagai satu-satunya tempat berpulang, ia fokus ke tanah asal yang dirindukan. Hawa tak lagi memikirkan tempat lain sebagai tempatnya pulang, totalitas perhatian pada Adam penuh. Berbeda halnya dengan Adam, kaum lelaki menyaksikan banyak wanita dan menganggap bahwa rusuknya yang hilang bisa jadi wanita ini dan wanita yang itu, tidak hanya kamu yang sudah jelas-jelas sedang menjalin hubungan dengannya. Kaum Adam senantiasa menyaksikan kemungkinan pada setiap wanita yang digandrunginya, “ah, barangkali Hawa ku yang ini”, itulah mungkin kalimat yang meluncur kala kaum Adam mulai jatuh hati kembali. 

“kak, menurut kakak apa yang harus Green lakukan”, terbata-bata Green bertanya. Aku sungguh tak memiliki jawaban yang ku rasa akan memberikan Green pencerahan, yang akan membuat Green merasa lebih baik, yaa… lag-lagi aku hanya tersenyum. “Green, saya tak pernah berada dalam situasi ini, saya tak bisa memberikan saran langkah apa yang harus Green ambil. Jawaban itu ada disini” aku menaruh tangan kananku di dada Green. “Green adalah satu-satunya orang yang tahu betul langkah apa yang harus Green ambil. Nah, Green sendiri akan melakukan apa untuk menyelesaikan ini?”, aku melanjutkan. “kak, Green ini orang yang tegas kalau ngambil keputusan, kalau bilang iya berarti seketika itu Green siap dengan seluruh resiko iya yang Green ambil, demikian juga sebaliknya. Green kan tadi sempat bilang, satu hal saja yang tak akan pernah Green maafkan dari Teo, penghianatan. Jika sekarang saja Teo tak mampu setia pada Green, lalu bagaimana kedepannya jika Green bertahan sampai ke jenjang yang lebih serius. Green tak pernah bermain-main dengan hubungan Green sama Teo, Green tak menginginkan hanya hubungan saat ini saja, Green ingin menikah dengan Teo, tapi tidak bisa Green mempertahankan Teo dengan penghianatan ini. Satu hal saja yang mesti dia tahu bahwa Green adalah perempuan yang kalau iya, akan iya sekalian dan kalau tidak pun tidak sekalian. Green tak suka main-main dan menggantungkan perkara pada hal yang tak pasti. Green akan memilih menyudahi semuanya, kak”, Green menggigit bibir untuk kalimat terakhir yang diucapkannya. 

Sebenarnya setiap penyelesaian dari setiap persoalan yang dihadapi ada pada diri sendiri. Sehebat dan sebijak apapun orang lain memberikan nasihat dan saran, tetap saja diri sendiri adalah penyelesai sejati karena yang paling mengenal diri sendiri adalah diri sendiri. Orang lain tak akan pernah mampu menyelesaikan masalah kita, kita lah yang sejatinya menjadi penyelesai itu. Kehadiran orang lain untuk mendengar dan dimintai saran sebenarnya hanya sarana yang dibutuhkan oleh seseorang, termasuk oleh kita sendiri untuk menemukan jawaban yang akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Kadang orang tak percaya kepada dirinya sendiri sampai-sampai ia tak memberikan peluang pada dirinya untuk mengambil langkah tanpa instruksi dari luar dirinya, saran orang lain. Disini, kita harus paham betul bukannya saran itu tidak penting, tapi pentingnya saran orang lain tak sepenting keputusan sendiri ketika akan mengambil keputusan dan langkah. Yang menjalani keputusan bukan orang lain, tapi kita, yaa… diri sendiri. 

“Green, lakukan lah apa yang terbaik untuk dirimu, kakak hanya bisa menyarankan itu. Jawaban harus apa itu akhirnya kamu lah yang menjawabnya”, ucapku sambil menggenggam tangan kiri Green. “kak, doakan Green ya, Green besok akan menemui Teo dan menyelesaikan ini. Konflik ini sudah terlalu lama dan panjang. Green lelah menyiksa diri dengan kondisi ini. Tak ada orang yang mampu memberikan Green kebahagiaan kecuali Green sendiri yang melakukannya dan memutuskannya”, Green terlihat mengumpulkan segenap tenaganya untuk bangkit. 

Apa ku bilang, jawaban dari persoalan yang dihadapi akan datang dari dalam diri sendiri, termasuk pada Green. Green menjawab sendiri persoalannya dan tahu betul langkah apa yang seharusnya dia ambil. Kehadiranku sebagai teman ceritanya hanya memberikan Green peluang pada Green untuk semakin yakin pada dirinya bahwa jawaban itu sudah ada, aku tak pernah memberi solusi apapun pada Green, karena ia telah memilikinya. 

“Kak, semua orang di dunia ini tahu kalau setiap awal pasti ada akhir, termasuk cerita Green dengan Teo. Jika ini harus berakhir Green siap dengan segala situasi yang akan Green hadapi, karena akhir tak berarti selesai. Setiap akhir adalah awal baru yang akan Green cecap”, Green nampak begitu tenang sekarang dengan kata-katanya. Aku tersenyum lebar kepada Green. “Green, jika memang itu yang terbaik, lakukanlah. Jangan biarkan perasaan sayang mu pada Teo melemahkan mu. satu hal juga yang harus kita yakini, seperti yang Rumi katakan “Don’t be grieve. Anything you lose comes around you in another form”, tentu saja dalam bentuk yang lebih baik. Dalam hal ini, akan ada orang yang lebih baik untuk mu, dik” ucapku sambil menepuk bahu mungilnya. 

*** 

“kak Munira”, panggil Green di lorong kampus yang tak begitu terang. Aku menoleh padanya. “hai, cantik”, sapa ku. “kak, kakak lagi sibuk gak kak?”, tanyanya bersemangat. “gak kok, saya baru aja selesai kelas dan sekarang sedang istirahat”, jawab ku. “kalau begitu green mau mengajak kakak makan siang di kantin, kita makan gado-gado favorit kita. Green yang bayarin deh”, ajaknya. “hmm… gimana ya?”, jawabku serius. “yaah kakak, jangan begitu dong, ayolah”, rengeknya. “hmm… maaf, Green, saya tak bisa”, wajah seriusku, aku pertahankan. “katanya gak sibuk, lagi istirahat tapi kok gak bisa?”, desaknya. “saya gak bisa nolak maksudnya”, bibir ku mengulum senyum. “kakaaaak…”, green mencubit lengan ku. 

Sesampainya di kantin dan mendapatkan tempat duduk, tiba-tiba Green menginjak kakik6u sehingga reflek aku mengatakan “ada apa Green?”. “kakak, lihat siapa yang berada di meja belakang?”, pintanya. Aku cukup terkejut dengan pemandangan itu, Teo dan Dila sedang bermesraan disana sambil saling menyuapi. Aku mengangkat alis ku. “kak, baru saja tadi Green berbincang sama Teo tentang masalah kami, yang awalnya di bilang tak ada apa-apa dengan Dila selain hubungan adik kakak, tapi ketika aku menyampaikan seluruh bukti yang aku tahu dia tak menjawab apapun, tak mengelak. Dan ketika aku bilang pengen menyudahi semuanya, Teo tak berupaya untuk menolak mauku dan mempertahankanku. Dia dengan enteng bilang ‘ya udah kalau kamu maunya gitu, kita udahan’. Semuanya sudah jelas, Teo benar-benar tak lagi bisa dipertahankan. Sakitnya disini kak, dihati ketika Teo bilang begitu dengan sikapnya yang dingin, tapi aku akan lebih sakit lagi kalau aku mempertahankan orang semacam dia. Aku milih sakit sese  karang sekalian, dari pada aku menderita lebih lama lagi” ucapnya tegas. Lagi-lagi kebiasan lamaku kumat, aku hanya tersenyum menanggapi Green. “every ending just another beginning, kak”, ucap Green bersemangat. “life must go on, no matter how hard is it, Green”, balas ku sambil kembali tersenyum. “iya, kak… begitulah”, ia menanggapi. “Green, setiap dari kita pernah mengalami jatuh, tapi kita jatuh bukan untuk terpuruk, kita jatuh untuk bangun. Apapun yang kita lalui dan sempat kita rasakan dalam perjalanan hidup kita adalah apa yang akan menjadikan kita mendewasa dan bijaksana dan kian menyempurna dari keterbatasan kita. Hidup ini evolusi, menyempurna dari waktu ke waktu. Sempurnalah kita dalam setiap saatnya dengan setiap momen di dalamnya. Sesakit dan seberat apapun, yakinlah itu cara Tuhan mendidik kita untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dari keadaan sekarang”. “kak, bagian ini adalah bagian ‘the broken Green’ dalam hudup Green, tapi seperti kakak bilang, kesakitan Green sekarang bukan untuk menjadikan Green terpuruk lemah, tapi ini adalah jeda yang Tuhan beri untuk Green ancang-ancang menyiapkan kekuatan untuk berupaya menyempurna dari masa ke masa. Inilah salah satu caranya”, Green manarik nafas panjang setelah kalimat-kalimatnya meluncur.

“Mbak, ini gado-gadonya”, Rani, si gadis manis penjaga kantin datang mengantar pesanan kami. Kami pun mulai menikmatinya sembari mengganti chanel obrolan kami tadi menjadi obrolan ala business waman, kami membicarakan bisnis butik jilbab yang tengah kami rintis bersama. [] 

 

  • view 176