TERIMAKASIH PERNAH SINGGAH

Nugroho Tri Wibowo
Karya Nugroho Tri Wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Juli 2016
TERIMAKASIH PERNAH SINGGAH

Seperti halnya cinta teristimewa, cinta tak bertuanpun masih layak untuk mengerti apa itu cinta sesungguhnya.

Entah kenapa saat hujan turun aku merasakan hal yang berbeda seperti biasanya, meluapkan semua emosi yang ada, berlari kencang melewati derasnya hujan, berteriak sekeras daya yang tersisah. Hujan yang turun mulai perlahan meneteskan butiran air terdengar keras di telinga saat ia membenturkan diri ke atap rumahku, didalam kamar aku mulai menikmati suara hujan itu, rasa dingin mulai menusuk kulit terasa ditulang bukan sekujur tubuh yang terasa dingin tetapi hati ini mulai terasa amat sangat dingin, seolah air mata mulai merendam Hati.

Tidak banyak yang aku rasa saat hujan turun, hati ini teringat sesuatu yang membuat luka lama tergores kembali, entah sampai kapan hati ini terasa terus begini, lelah sudah pasti setiap kali mendengar dan merasa dinginnya hujan aku teringat sesuatu. Sekali lagi entah sampai kapan aku terus meresakan semua ini. Tidak banyak yang harus dilakukan untuk mengubah semua menjadi lebih sederhana hanya cukup dengan kata Ikhlas saja semua akan selesai tetapi memang mudah mengatakan atau menulis berbanding terbalik dengan melakukannya tidak sesederhana menulisnya. 

 Ini hanya masalah sebuah rasa dimana mengingatkan pada masa lalu yang aku juga tidak mengetahi banyak apa yang sebenarnya terjadi hanya bisa menganalisa setiap hal yang sudah terjadi mengikuti ritme hati, meski itu hanya perasaan saja semua wajar terjadi karena aku juga manusia biasa yang tidak lepas dari rasa yang sama seperti pada umumnya manusia normal, punya rasa sedih, cemburu, marah, sakit, dan rasa sejenisnya.

Terkadang hati ini mulai bertanya apakah aku istimewa dimata atau sama dimatanya dengan kekasih lamanya atau tidak ada beda aku dengan pasangan dia yang sekarang, kadang hati ini menunggu sebuah penjelasan, kenapa ? tetapi disisi lain aku sadar kemampuannya tidak sama dengan ku, dan aku harus betul-betul paham sesuatu yang tidak harus dikatakan dan dirasa harus dimengerti, antara cinta dan trauma sampai kapan ini akan terjadi.

Semoga saat itu semua terjadi dan sudah dekat saat hujan turun aku tidak lagi merasakan kesedihan yang sama, karena ada satu hal yang harus dijaga setidaknya ikatan itu menjadi lebih erat, mungkin suatu saat nanti saat aku mendengar hujan tidak akan merasa dinginnya hati tetap badan yang merasa dingin tanpa hati merasakannya, bila hari ini terus berlajan sama perlahan aku menyiksa diri dan membebani masalah yang telah usai pula.

Memang benar seperti kata orang bijak jika seseorang tidak bisa berdamai dengan masa lalunya sudah pasti hal itu akan merusak masa depan, aku akan terus mencoba melatih hati untuk tetap tegar dan terbiasa dengan semua rasa sakit ini, disaat seperti inilah pula merasa bahwa diri sekarang bukanlah aku yang dulu, tidak ada lagi hati sekeras batu, ego yang memuncak tidak mau kalah dan rasa sedih yang mudah diabaikan. Kini aku menjadi Laki-Laki dewasa yang rapuh semakin hari bukan semakin kuat malah semakin rapuh.

Terimakasih pernah singgah.

Aku ingin seperti dulu yang selalu kuat dalam menghadapi semua rasa termasuk sakit hati karna luka, meski aku harus mengurangi rasa cinta ini untuk mendapatkan kembali hati ku yang dulu akan ku coba, tetapi jika itu tidak berhasil aku tidak akan menyerah semudah itu meski sulit ini bukan waktunya menyerah biarlah air mata ini menetes seperti saat hujan turun.

Setiap awal pasti ada akhirnya aku tidak ingin seperti ini merasakan semua hal yang tidak penting menjadi penghancur masa dimana aku akan terus tumbuh, berdiri, berlari dan hingga Mati, sekarang seharusnya aku mensyukuri semua nikmat yang diberikan tuhan atas doaku.

Merelakan kebahagiaanmu itu hanyalah perkataan yang sulit untuk benar-benar diwujudkan.

Siapapun dia, dia yang pernah berjuang namun diabaikan, dia yang pernah bertahan lalu dikecewakan, dia yang pernah singgah lalu pergi.

 

 

 

Karawang, 27 Juli 2016, TERIMAKASIH PERNAH SINGGAH. (Nugroho tri wibowo)

I Loose Control, karena ini kesalahan terbesarku, terbesarmu, dan terberarnya.

  • view 752