Cahaya dari Tuhan

Nugroho Tri Wibowo
Karya Nugroho Tri Wibowo Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 April 2016
Cahaya dari Tuhan

Seperti biasa, ketika jam istirahat saya keluar kantor untuk mencari makanan.

Ya wajah Ibu kota Indonesia yang seperti banyak orang ketahui disini Banyak pengemis, gelandangan, dan orang-orang yang tingkat kehidupannya (maaf) dibawah kesejahteraan.

Sambil merokok saya berjalan mencari tempat yang 'enak' untuk duduk dan makan. Sampai akhirnya saya dapat sebuah tempat yang menurut saya 'enak' dan teduh, Saya memandang setiap sudut tempat makan, tempat duduk semua penuh dengan orang-orang, ya memang ini waktunga jam makan siang dan beristirahat, jadi seperti biasa tempat penuh.

Di sela-sela saya mencari tempat duduk yang kosong, seorang bapak tua memanggil saya.

"Silakan mas, disini aja duduk sama saya" katanya lirih, sambil melambaikan tangan mengajak untuk duduk

Tanpa pikir panjang saya langsung menghampiri tempat duduk itu, meskipun sedikit panas, tapi yang ada hanya tempat duduk itu yang kosong.

Saya perhatikan bapak itu, orangnya sudah tua, berbadan kurus, giginya sudah ompong, rambutnya sudah putih semua, membawa kantong plastik besar yang isinya entah apa.

"Lagi nunggu apa pak ?" tanya saya membuka percakapan siang itu

"Eggak mas, ini cuma duduk-duduk aja abis cari sampah seharian. capek" jawab bapak tua itu dengan ekspresi lesu diwajahnya.

"Oh, Jalan dari jam brapa pak ?" tanyaku kembali.

"Dari pagi mas, uda lumayan banyak dapetnya ini." balas bapak tua sambil menunjukan kantong plastik besar yang dibawanya.

"ohhh..." saya melihat kantong plastik itu yang berisikan sampah-sampah kantong plastik kecil.

Obrolan sempat berhenti sebentar, saya sembari 'menikmati' rokok, dan bapak tua itu sambil merapihkan plastik-plastik yang dia kumpulkan.

Sesekali saya melihat bapak itu memijat-mijat kepalanya sendiri.

"Pusing ya pak ? siang2 panas gini emang bikin pusing." tanya saya dengan melihat kearah langit yang sangat terik.

Bapak tua itu tertawa kecil "iya mas. agak pusing kepala saya." jawab bapak itu sambil memijat-mijat bagian belakang kepalanya.

"Bapak ngerokok ? ini kalau bapak mau." tawaran saya sambil menyodorkan bungkus rokok yang hanya tinggal dua batang.

"nggak mas makasih, saya nggak ngerokok. Sayang uangnya, mending buat makan daripada beli rokok. Lagian ga bagus juga buat badan." jawab bapak tua sambil tersenyum kecil.

Saya sedikit tersentuh dengan ucapan bapak tua barusan.

"iya juga sih pak." Seketika sambil membuang putung rokok yang masih panjang yang saya pegang dan menginjaknya.

*kruuuuukk* Saya mendengar suara bunyi suara perut, dengan spontan saya langsung melihat kearah bapak tua itu.

"Bapak belum makan pak ?" tanya saya pelan.

Bapak tua itu hanya tersenyum "belum mas, aga nanti mungkin." imbuhnya

"Wah, tar tambah pusing pak" tegas saya 

"Iya mas, saya udah biasa kok." jawab bapak dan lagi-lagi dengan senyum diwajahnya.

*Kruuuukk* terdengar lagi suara perut baapak tua itu.

"Bapak beneran ga mau makan pak ?" saya menegaskan pertanyaan sebelumnya

"Iya mas,nanti aja."

Saya sudah merasa kalo bapak ini bukannya tidak mau makan, tetapi beliau tidak punya uang untuk makan.

"Bentar ya pak, saya pesen makan dulu" saya bangun meninggalkan tempat duduk.

"Oh.. iya mas, silakan." Jawab bapak tua itu singkat.

Saya memesan makanan dua porsi. Selesai pesan saya bawa nasi dua piring ke tempat duduk tadi, terus duduk.

Saya mau langsung memberikan nasi tersebut tetapi saya takut jika bapak tua itu salah tanggap atau tersinggung, jadi saya sedikit berakting.

Saya berpura-pura menelfon teman saya.

Saya dengan suara sedikit di kencangkan (Berpura-pura bertelfon) "Yaaah, ga jadi kesini ? udah gue beliin nih. ooohh... gitu... yaudah deh gapapa." Berpura-pura menutup telfon.

"ah payah nih temen saya, udah dibeliin makanan ternyata ga jadi." Saya berbicara kepada bapak tua itu.

Bapak itu tersenyum "Ya ga papa mas, dibungkus aja nanti bisa dimakan sore."  bapak tua itu memberi saran.

"Wah, keburu basi pak kalo nanti sore, dimakan sekarang pasti ga abis, gimana ya ? mmmm... Bapak kan belum makan siang, ini makanan daripada sayang ga ada yang makan gimana kalo bapak aja yang makan pak? nemenin saya makan sekalian pak." jawab saya senang.

"Wduh mas, saya ga punya uang buat bayarnya." jawab bapak itu sembari merogoh kantong.

Tepat dugaan saya tadi.

"Gapapa pak, makan aja, saya bayarin dah! saya lagi ulang taun hari ini." jawab saya menegaskas ke bapak itu dengan sedikit berbohong.

"Wah.. beneran ga papa mas? saya malu."

"lho? ngapain malu pak? udah bapak makan aja." 

"Iya mas, selamat ulang tahun ya mas." Bapak itu menjulurkan tangannya kepada saya.

"Iya pak, bapak mau mesen minum sekalian nggak? saya mau pesen." Jawab saya sambil membalas salamnya.

"Nggak mas.. nggak usah." Jawab singkat bapak tua itu.

Saya memanggil tukang minuman, saya memesan dua es teh manis.

"lho mas? saya nggak pesen." 

" Iya pak, saya beli dua, haus banget soalnya." Jawab saya dengan berbohong lagi.

Tanpa saya duga, bapak tua itu menetes air matanya, beliau mengucap syukur berkali kali sambil memandang makanan yang saya pesan.

Dengan sedikit bergetar "Mas, saya makasih sudah dibelikan makanan, saya belum makan dari kemarin sebetulnya, cuma saya malu mas, saya inginnya beli makan sama uang sendiri karena saya bukan pengemis, saya sebetulnya lapar sekali mas, tapi saya belum dapet uang hasil nyari sampah." ungkap bapak itu dengan meneteskan air mata.

Saya hanya diam, tertegur mendengar omongan beliau, tanpa sadar saya ikut merasakan teramat perih didalem hati, meneteskan sedikit air mata.

"Yaudah, bapak makan aja nasinya, nanti kalau kurang saya pesankan lagi ya pak? jangan malu-malu." ungkap saya.

Dengan suara tersedu "Iya mas, makasih banyak ya mas, nanti yang diatas yang bales." jawab bapak tua itu.

"Iya pak makasi doanya." jawab saya tersenyum.

 

Akhirnya saya makan berdua dengan beliau, sambil cerita-cerita.

Dari cerita beliau saya tau kalo beliau punya dua anak, yang satu suda meninggal karena kecelakaan, yang satunya suda pergi dari rumah tidak pulang-pulang sudah 3 tahun, istri beliau suda meninggal terkena kanker tahun lalu, dan parahnya lagi rumahnya diambil sama orang kredit gara-gara tidak bisa melunasi uang pinjaman untuk mengobati istrinya.

Rasanya saya beruntung banget dengan kondisi saya sekarang, saya menyesel pernah mengeluh tentang kerjaan saya, tentang kondisi apapun, sedangkan bapak ini dengan kondisi yang serba kekurangan masih selalu tersenyum.

Rasanya sepiring nasi dan segelas es teh yang yang saya kasih, ga setimpal banget sama pelajaran yang saya dapat.

*tadi saya belum mengambil uang, jadi saya cuma ngasih seadanya kembalian dari beli nasi ke bapak tua itu, itupun pake eyel-eyelan dulu sama bapaknya soalnya beliau ga mau dikasih uang, tapi akhirnya dengan sedikit maksa saya kasih uang ke beliau, saya didoain banyak banget sama bapak tua tadi.

Dan tidak sampe disitu saya sedikit takjub ke bapak tua itu.

Sambil jalan kembali ke kantor saya menoleh ke belakang, dan si bapak tua itu udah tidak ada. Saya cari ternyata si bapak tua itu ada di depan kotak amal masjid sebrang jalan, masukin uang ke dalem kotakan itu.

Saya semakin tersentuh dengan beliau, di tengah-tengah kesulitan yang beliau alami, beliau masih sempet beramal berbagi dengan orang lain.

Saya meneteskan air mata, saya merasa kecil sebagai manusia, saya merasa dilihatkan dengan sesuatu yang benar-benar hebat.

Mungkin Tuhan memberikan cahaya hebat untuk bapak tua ini. Ini cahaya dari Tuhan.

Saya hanya bisa berdoa semoga bapak itu dilancarkan segala urusannya, diberi kemudahan dan rejeki berlimpah, dan selalu berada dalam lindungan Tuhan. Amin

Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah.

Salam Terkasih.

Dari Sahabat Untuk Sahabat.

 

 

Jakarta, 20 April 2016. Cahaya dari Tuhan

(Tulisan ini saya kutip dari teman di Facebook saya, saya rasa tulisan ini bagus, bermanfaat. Semoga dapat bermanfaat untuk teman-teman semua) Nugroho tri wibowo 'Nunu'

 

Likr&share

  • view 137