Lesson Learned

Nunik Fatmawati
Karya Nunik Fatmawati Kategori Renungan
dipublikasikan 10 November 2016
Lesson Learned

Sharing sedikit tentang pelajaran yang saya dapat dari obrolan ringan siang tadi dengan mbak Yani, perawat di Puskesmas tentang menutup aurat. Awalnya cuma iseng-iseng nyeletukin pertanyaan, niatnya just making conversation gitu setelah beliau menanyakan pendapat saya tentang warna hijab yang mau beliau beli (jadi ceritanya di puskesmas tadi ada yang jual hijab syar'i terus beliau milih2 dan bingung mau beli warna biru tua atau muda,, haha *nggakpenting*).

Tadi saya tanya tentang sejak kapan mbak berhijab dan kenapa sekarang memilih berhijab syar'i? Dari jawaban beliau yang saya bahasakan dengan bahasa saya sendiri karena saya lupa redaksinya adalah intinya karena menutup aurat itu wajib. Untuk memakai hijab syar'i itu memang butuh proses dari yang dulu masih nerawang jilbabnya, masih belum menutup dada, masih pakai celana, masih ketat, masih belum pakai kaos kaki. Dan sekarang sudah pakai jilbab lebar, menutup dada, tidak nerawang, pakai rok atau gamis dan selalu pakai kaos kaki. Perubahan itu berawal setelah beliau mengaji, belajar agama dengan murrobinya. Menurut beliau menutup aurat itu benar-benar penting. Dulu taunya kalau nggak menutup aurat jelas dosanya dari kita sendiri karena tidak melaksanakan yang wajib, kita yang nanggung sama orang tua atau suami kita. Ternyata setelah mengaji, beliau tau bahwa dosanya tidak hanya itu tapi dosa orang-orang yang melihat aurat kita (apalagi jika disertai syahwat) ternyata juga kita yang menanggung, jadi kalau ada seribu laki-laki melihat kita tanpa hijab, ya dosa seribu orang yang lihat itu kita yang nanggung, ih ngeri kan, padahal dalam satu hari kita bertemu dengan berapa banyak laki-laki yang bukan muhrim coba kalikan dengan berapa tahun usia baligh kita yang belum memakai jilbab, membayangkannya saja mungkin dosanya bisa-bisa tidak sebanding dengan ibadah-ibadah yang kita lakukan setiap hari, banyak banget. Karenanya beliau memutuskan berhijab syar'i.

Lalu obrolan beralih ke pemakaian parfum dan kosmetik. Saya seperti diingatkan lagi oleh beliau tentang dosanya wanita yang memakai parfum lalu pergi keluar rumah dan wanginya tercium oleh laki-laki hingga menimbulkan syahwat, maka ia termasuk pezina. Astaghfirullaah, Allah mengingatkan bisa melalui siapa saja dan kapan saja. Semoga istiqomah. 

Kemudian tentang berhias kalau dalam berhias, berpakaian atau memakai model hijab yang bermacam-macam tutorialnya itu dan kita masih berharap untuk dibilang cantik oleh manusia hingga terkadang mengesampingkan aturanNya maka sebenarnya niat kita belum lurus. Sebenarnya mau terlihat cantik di mata Allah atau manusia? Ah, sepertinya memang benar semakin sederhana hijabnya maka semakin dalam pemahamannya. Kali ini Allah sepertinya sedang mengingatkan saya tentang meluruskan niat dalam berpakaian, “Jadi kamu mau terlihat cantik di mata siapa Nun?” #namparmukasendiri#

Obrolan yang kurang lebih satu jam itu benar-benar santai tapi syarat makna, mulai dari menutup aurat, berhias, mengaji, sampai ke ruqyah, nggak nyambung kan? emang nggak nyambung, saya aja lupa tadi kenapa tiba-tiba dari hijab terus bisa bahas ruqyah, haha. Dari sekian banyak obrolan yang topiknya lompat-lompat tadi, bagi saya yang paling berkesan adalah pesan beliau yang satu ini “Sudah sejauh manapun kita berproses memperbaiki diri, jangan pernah, jangan pernah sekalipun merasa bahwa diri kita lebih baik dari orang lain, perlu di ulangi, jangan pernah merasa bahwa diri kita lebih baik dari orang lain” kenapa di ulang? Karena memang mbak nya tadi ngulang kalimat itu bahkan sampe tiga kali, haha. Makanya paling berkesan. Ya setiap melihat mereka yang belum sempurna menutup auratnya, si mbak hanya berkata “Ya Allah, saya dulu juga pernah seperti itu” yang ada malah sedih sama diri sendiri yang seperti itu dulunya, terus sebisa mungkin mendoakan semoga Allah memberikan hidayahnya pada mereka dan terutama diri kita sendiri semoga bisa istiqomah untuk berproses menjadi lebih baik. Bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati.

Dari tulisan ini sebenarnya saya cuma mau mengingatkan ke diri saya sendiri tentang ini “Dalam hal apapun, jangan pernah sekalipun merasa diri sendiri lebih baik dari orang lain Nun, Just Don’t”

Thanks to mbak Yani for the lessons *SmileEmoticon*

Tenggarong, 091116
pelajaran yang didapat sesaat sebelum perpisahan di puskesmas
new (n_n)

  • view 124