Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 19 Juli 2018   16:35 WIB
Teruntuk Kamu yang Dipatahkan Hatinya

Teruntuk Kamu, yang hatinya merasa dipatahkan, dipupuskan atau apalah kamu menyebutnya.

Aku pernah ada di sana. Sakit sekali rasanya, bukan hanya pada perasaan bahkan sampai kesehatan tubuh pun terganggu. Menangis setiap kali mengingat rupanya, dan kemudian tertidur sampai terbangun lagi, menangis lagi, hingga aku jatuh sakit. Orang mungkin akan berpikir, “Kamu terlalu berlebihan”. Hmm, barangkali iya, tapi sakit perasaan tidak butuh komentar dan penilaian.

Seseorangku yang dulu, mungkin tidak tahu bagaimana perasaanku. Aku memilih menyerah dan berhenti mencari tahu semua hal tentangnya, meski ternyata aku telah hafal semua hal tentangnya. Tapi kamu, seseorang yang kamu tuju tahu bagaimana perasaanmu, pada akhirnya. Walau tetap saja, hatimu dipatahkan, karena segala perasaanmu tak terbalaskan.

Tak apa. Sungguh tak apa. Itu jauh lebih baik dari pada perasaanku tujuh tahun yang lalu. Jangan merasa kamu tidak beruntung karena tak dibalas. Itu tidak benar. Kamu tetap beruntung, tapi alasannya masih disimpan Tuhan untukmu. Mungkin ada takdir yang lebih indah yang mengganti perasaan patahmu saat ini? Aku juga tidak tahu, tapi aku yakin.

Aku sangat berterimakasih tentang pertemanan kita. Aku sangat jahat, ya? Menceritakan kasmaran dan patahku atas orang lain kepadamu. Aku sungguh tidak bermaksud. Lagi pula, Aku sering berpikir “Apa hebatnya aku?” Aku wanita biasa yang tidak cantik, tidak juga jenius, tidak juga menarik. Mana mungkin seseorang bisa menaruh hati kepadaku. Tapi ternyata beberapa laki-laki tidak diciptakan demikian-untuk melihat wanita hanya dari kemenarikannya. Belakangan Aku tahu, ada yang tulus sepertimu.

Seseorang pernah menulis, tidak ada yang salah dengan air mata. Yang menentukan benar salahnya kemudian adalah apa yang akan kita lakukan setelah air mata itu. Hidup kita hanya sekali, yang berarti sebentar. Jangan sia-siakan untuk menangisi kepatahanmu terlalu lama.

Sekarang, menangislah sampai Kamu bosan. Tak apa. Terkadang, mata juga butuh penyegar, meskipun tidak harus berupa air mata. Ya, tapi apa mau dikata.

Jika lukamu sudah sembuh, aku harap kamu bisa lebih berhati-hati menjaga dirimu, agar tak terluka lagi, dan lagi. Adakalanya patah hati diciptakan untuk mendekatkan kita pada Tuhan, Ayah, Bunda, adik kita ataupun sahabat-sahabat kita. Selamat merawat hatimu lagi, merapikan yang telah berantakan karena orang lain dan memberikannya pada orang yang tepat-nanti ketika kamu sudah menemukan. Maaf, sekali lagi aku tidak bermaksud.

Karya : Nun