Purnama Semalam

Nun
Karya Nun  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Desember 2016
Purnama Semalam

 Purnama Semalam

Aku tak berani menyamakan perasaanku seindah purnama. Tak ingin. Kau tahu? Purnama itu hanya semalam, malam ke-16 dan seterusnya bentuknya tak lagi utuh.

Aku tak berani menyamakan perasaanku sederas hujan. Tak ingin. Kau tahu? Sederas-derasnya hujan, ia akan terang juga berganti cuaca. Tak awet.

Aku tak ingin menyamakan perasaanku sekuat karang di pantai. Tak ingin. Kau tahu? Karang itu dari dulu terus saja menunggu ombak, untuk terus saja ditinggalkan.

Bagiku perasaanku selalu sederhana saja.

***

Senja, delapan tahun silam, aku mendapatimu duduk di teras rumahmu, menikmati senja yang semburat oranyenya menerpa wajahmu. Waktu itu aku masih kelas dua madrasah aliyah, dan kau baru kelas dua madrasah tsanawiyah. Kau menyapaku, dan aku tidak balik menyapamu. Ahh, kupikir sapaanmu juga basa-basi ala bangsa kita. Terus saja ku genjot sepedaku; menghiraukanmu.

***

Pagi yang kesiangan, tujuh tahun silam, aku masih tetap aku. Kata orang-orang perangaiku selurus penggaris. Mereka menyukaiku, karena aku tidak aneh-aneh, macam kebanyakan pemuda kampung ini. Trek-trekan di jalan umum, sebagian ada yang perokok, bahkan sudah ada yang pemabuk, dan hanya jadi sampah masyarakat. Aku salah satu dari pemuda yang diharapkan di kampung ini. Katanya, tetaplah berhati lurus, agar kampung ini tetap punya masa depan. Baru hari ini aku mengerti mengapa pemuda adalah masa depan. Sederhana saja, keluarlah dan lihatlah pemakaman. Orang-orang tua yang dulu masih ada, satu persatu mulai berpulang. Orang-orang baik cepat sekali berpulang, dan orang-orang macam begundal entah kenapa masih terus saja bernyawa hingga lama.

Lupakan tentang pemuda berhati lurus, kembali di pagi yang kesiangan. Aku sudah kelas tiga MA waktu itu, dan kau juga sudah kelas tiga MTS. Kita tidak sengaja bertemu di jalan aspal menuju sekolah. Aku masih ingat, saat itu kita sudah hidup diantara anak-anak manja, yang pergi ke sekolah harus naik motor. Temanku ada yang mengancam bapaknya akan minggat dari rumah, jika tidak dibelikan motor. Kalau saja aku bilang ke Bapak akan minggat karena alasan serupa, mungkin Bapak akan mempersilakan saja. Karena ketiadaanku berarti mengurangi satu dari lima anak yang harus Bapak tanggung. Haha. Tapi aku dan kau masih naik sepeda. Kulihat baju dan kerudungmu basah karena keringat, aku lebih parah.

“Kesiangan Kak?”seperti biasa, kau basa-basi. Sepedamu melaju dibelakang sepedaku.

“Iya,” aku menoleh sedikit.

“Gara-gara belajarnya sampai larut ya Kak?”kali ini kau mengiringinya dengan senyum, nampaknya.

“He’em,”

“Sama, aku juga Kak. Ujian yang tinggal tiga bulan lagi bikin aku stress,”

“Hmm.. Kau tidak boleh belajar hanya ketika mendekati ujian saja,”ucapku sok disiplin, tapi inilah yang diajarkan bapak ibuku dari dulu.

“Ohh.. gitu ya Kak.. Kakak rajin sekali yaa,”ucapmu sembari turun dari sepeda dan menuntun sepedamu menuju parkiran perempuan. Aku dan Kau sekarang bersebelahan menuntun sepeda, tentu saja ustadz-ustadz yang sudah berjaga di depan melotot ke arah kami. Kurang lima menit, hampir saja terlambat. Kupercepat langkahku dan kau pun mengikuti ritmeku.

“Duluan Kak,”

“Hmmm,”

***

Siang, enam tahun yang lalu, jantungku serasa mau copot mendengar pengumuman kelulusan masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Sebenarnya bukan hanya karena diterima di PTN, tapi juga karena studiku akan dibiayai secara keseluruhan oleh pemerintah. Dengan begitu aku tak merepotkan Bapak dan Ibuk yang hanya kerja serabutan dan kadang juga jadi pengangguran musiman karena menunggu masa tanam sawah milik orang yang dikerjakannya.

Beberapa hari setelah pegumuman itu, aku segera berangkat ke Surabaya, tempat pilihanku menimba ilmu. Begini rasanya meninggalkan. Sesesak ini yang harus kutanggung di rongga dada. Sebagai anak laki-laki pertama, rasanya ingin lari saja dari keadaan bernama perpisahan. Aku malu air mataku tak tertahan setetes. Bapak dan Ibuk berbicara lewat harapan yang ada di mata mereka. Barangkali mereka sudah tahu sekali bahwa anaknya pendiam, namun cukup pandai menerjemahkan isyarat.

Rumahku dan rumahmu saling membelakangi. Waktu itu aku melewati rumahmu ketika kau sedang mempersiapkan perlengkapan MOS SMA. Kau fokus sekali sampai tidak melihatku ketika melewatimu.

“Mari Dek Dinda,”Mbakku menyapamu ketika sedang memboncengkanku dengan motornya.

“Eh, Iya Mbak,”dan kau seperti biasa tersenyum.

Oooh, jadi namamu Dinda? Selama ini aku merasa tak perlu mengenal namamu.Dan aku malah melengos setelah tatapan kita tak sengaja bertabrakan. Dan dari kaca spion, kulihat kau tak sekecewa yang kukira.

***

Menjelang sholat Jum’at, lima tahun yang lalu, aku liburan. Libur semester sekaligus libur lebaran. Setahun di Surabaya tidak mengubahku banyak. Kulitku masih saja sawo terlewat matang, dialekku masih saja Jawa ke-pati-patian, aku masih saja tak banyak bicara, dan selalu menyukai pergi dengan sepeda karena hanya itu adanya. Di persimpangan jalan dekat masjid, aku bertemu lagi dengan wajahmu yang juga terlewat ceria itu. Kau diboncengkan ayahmu naik sepeda motor, baru saja pulang dari sekolah. Ahhh.. seragammu. Kau pasti baru saja diterima di sekolah terbaik di kota kita. Batik yang kau pakai itu tanpa kau membanggakannya sudah memiliki auranya sendiri. Selamat.

“Kakk,”jeritmu tanpa suara dari balik kaca helm. Aku masih saja kaku, dan tidak membalas sapaanmu. Lebih kupilih menyapa ayahmu. Sekarang aku iri kepadamu. Dulu memakai seragam itu adalah cita-citaku, tapi harus kurelakan atas berbagai macam alasan yang tertahan di hatiku sendiri. Ahh sudah rezekimu memang.

Pertemuan itu hanya selewat saja.

***

            Empat tahun yang lalu, menjelang Ashar, ingin sekali pulang ke kampung halaman. Tapi situasinya makin rumit dan susah.

            “Ibuk, Tiar tidak pulang lebaran tahun ini,”

            “Kenapa Le?”

            “Anu Buk, tidak apa-apa.. Tiar ada kewajiban di kampus yang tidak memungkinkan buat pulang,”ucapku sambil mellirik dompet yang kosong.

            “Oh, yasudah Le.. Jaga diri baik-baik yaa.. Jangan lupa makan yang teratur.”selanjutnya ganti kupegangi perutku yang tiba-tiba mengiyakan ucapan Ibuk. Dari pagi aku telah mendzoliminya dengan tidak memberikan hak-nya untuk diberi makan.

            “In sya Allah Buk, doakan Tiar ya Buk,,”

            “Siapa lagi yang Ibuk doakan kalau bukan anak-anak Ibuk to Le?”

            ***

            Tiga tahun yang lalu, pada senja berbalut gerimis, aku duduk di tepian danau kampus melihat kenangan-kenangan berjalan di depan mataku. Danau itu laksana layar lebar yang terkembang, menceritakan seluruh ingatanku. Memanggilnya satu-satu.

            “Ibuk, Tiar lebaran besok akan pergi ke Malaysia Buk,”

            “Ladalah, kamu sudah jauh-jauh sekolah ke Surabaya mau ngapain Le ke Malaysia? Ibuk nggak mau kamu jadi TKI di sana. Pulang Le,”

            “Bukan jadi TKI Buk, Tiar mau presentasi di Malaysia,”

            “Le Le, kalau Cuma pesen trasi kan kamu bisa pulang ke sini. Ibuk pesenkan teman Ibuk yang orang asli Juwana, dijamin enak,”ucap Ibuk bersemangat. Aku terkekeh mendengarnya.

            “Pre-sen-ta-si Buk, bukan pesen trasi. Itu artinya Tiar harus bicara di depan orang banyak untuk menyampaikan ide Tiar tentang suatu hal.”

            “Oalah.. Ya maklumi Ibukmu ini ya Le. Ibukmu ini aslinya pengen sekali kamu di rumah lebaran tahun ini. Tapi ya karena itu sepertinya penting sekali buat kamu, Ibuk sama Bapak nggak papa Le.” Tiba-tiba aku merasakan sesak sekali di dada. Buru-buru ingin kuakhiri percakapan ini.

            “Iyya sudah ya Buk, Tiar tutup teleponnya ya.. Assalamualaykum.”

            “Waalaykumussalam.”

            ***

            Dua tahun yang lalu, di malam pertama lebaran, aku tak sengaja bertemu lagi dengan wajah lama yang hampir kulupakan. Itu kamu.

            “Sugeng Riadi Ibuk, Bapak,”ucapmu waktu menyalami Ibuk dan Bapakku.

            “Mas, sugeng riadi juga,”ucapmu kepadaku, dan aku tak menyangka uluran tanganku kau balas dengan tarikan tanganmu, tanda kau menolak bersentuhan. Baiklah, aku kikuk.

            “Monggo Dik Dinda, dimakan jajanannya. Ya memang begini lho jajanan kami, sederhana,”ucap Ibuku sembari menimang cucunya.

            “Ah Ibuk mah.. Sama saja lah, di rumah saya juga begini kok Bu.”Hmmm, aku tak percaya. Terakhir aku ke rumahmu, meja tamu penuh dengan buah-buahan aneka rupa.

            “Oh iya, Dik Dinda sekarang kelas berapa?”kata Ibu lagi.

            “Hehe.. sudah tidak SMA lagi Buk, sudah kuliah,”ucapmu melempar senyum kepadaku. Ya Tuhan, hampir copot jantungku menerima senyuman yang mendadak ini. Nyatanya gadis kecil yang dulu sok kenal itu sekarang sudah remaja menuju dewasa, dan mungkin cantik.

            “Kuliah di mana?”tanyaku spontan.

            “Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri Depok Kak Tiar,”ucapnya lagi-lagi melunglaikanku. Itu kampus yang kata orang-orang terbaik di Indonesia.

            “Emm.. Buk, Pak, saya mau lanjutin silaturrahim ke rumah tetangga yang lain yaa.. sebentar-sebentar saja biar semuanya rata,”

            “Iya, Dik. Tentu saja. Ini kan lebaran, mumpung di rumah manfaatkan untuk silaturrahim ke semua tetangga, tidak seperti Tiar yang dari tadi kayak menthok, di kandang terus,”ucap Ibu sambil mengurai tawa, aku mati gaya.

            “Saya pamit dulu ya,, Kak Tiar saya duluan,”ucapnya tiba-tiba, sekali lagi.

            “Eh eh.. Iya,”lagi-lagi gagu.

            Aku malu. Sehari ini hanya berkeliling ke satu RT. Sedangkan dia sudah sampai ke RT yang lain.

            ***

            Setahun yang lalu, aku sudah mendapatkan pekerjaanku sebagai akuntan di salah satu perusahaan di Surabaya. Uangnya cukup untuk kugunakan membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, juga mengirimkannya ke kampung. Cukup juga untuk kutabung. Entah apa yang kukagumi dari pekerjaan 25 jam sehari ini, yang membuat mata lelah berkantung-kantung. Rutinitas ini menjadi candu bagiku. Mungkin karena pekerjaan ini tidak membuatku banyak bicara dengan orang lain.

            Aku pulang lagi lebaran. Pulang sebagaimana perantau pulang. Dan entah mengapa lebih bersemangat dari yang lalu-lalu. Ingin segera melewati rumahmu waktu sholat Jum’at, menertawai kecil-kecil matamu yang mengintipku melalui lubang jendela kayu rumahmu. Kau pikir aku tak awas selama ini? Aku juga ingin segera duduk di kursi reot ruang tamuku, sembari pura-pura menonton televisi, nanti ketika sore tiba pasti kau lewat di depan rumahku, bersepeda keliling kampung memboncengkan adikmu. Selalu riang gembira yang kudengar dari ritme bersepedamu. Aku pura-pura menonton TV, sambil awas memasang kuping ketika pedal-pedal itu kau ayuh. Aku juga ingin segera sholat idul fitri. Kau nampaknya hafal seringnya keterlambatanku. Waktu itu kau menengak-nengok ke sekeliling, kupikir sedang mencari apa. Waktu pandangan kita bertemu, kau lalu berhenti dengan tengokanmu. Dan yang paling kunanti adalah hari pertama silaturrahim ke rumah-rumah tetangga. Meski kutahu semua orang juga melakukannya, tapi kau berbeda. Kau punya jam kunjung, aku meyakini bunyinya begini “jangan pergi waktu jam empat sore, aku akan datang” dan kau pasti datang.

            Untuk kali pertama, lebaran tahun lalu aku berniat datang ke rumahmu dulu. Jam setengah empat sore rencananya. Baru selangkah dari pintu rumah, aku sudah mendapatimu berdiri menujuku. Baiklah, gempa bumi di hatiku, entah berapa skala richter.

            “Ehh..kok,”

            “Ehh Kak Tiar, mau ke mana Kak?”

            “Rumahmu, eh. Maksudku ke rumah-rumah depan,”

            “Oooh.. mohon maaf lahir batin ya Kakk, Ibuk sama Bapak di rumah kaan?”

            “E,, iyaa iya, di rumah kokk..Yuk masuk dulu,”

            “Katanya mau pergi Kak?”

            “Mmm..bisa nanti,”

            Untuk kali pertama. “Gimana Dik kuliahnya?”

            “Ehh, baik Kak. Lancar alhamdulillah. Kakak gimana?”

            “Masih sendiri. Eh, gimana apanya?”

            “Mmm..gimana kerjanya di sana?”

            “Ohh itu.. Hehe, Ahamdulillah lancar juga,”

            ***

            Tahun ini, aku tidak ingin terdahului lagi. Sudah kupatutkan bajuku berkali-kali. Aku akan ke rumahmu pagi ini juga. Bersilaturrahim layaknya teman lama. Aku tidak pernah ke sini sepagi ini, dan ternyata sudah banyak sandal berjejer rapi di teras rumahmu. Ragu-ragu, ingin mundur balik, tapi tidak. Aku harus lebih berani darimu.

            Lantai pertama yang kuinjak masih menenangkanku. Lantai kedua, aku mulai gemetaran. Lantai ketiga, aku sudah hampir ada di depan pintu, rasanya ingin ke kamar kecil. Lantai ke empat, aku benar-benar sudah di depan pintu, hanya tinggal mengucapkan salam. Langkahku di lantai selanjutnya sungguh berat. Aku masih terus berbaik sangka bahwa tamu yang ramai ini adalah tamu biasa. Langkah selanjutnya, aku sudah mulai khawatir, jangan-jangan memang tamu penting. Langkah selanjutnya,..

            “Ehh, Dek Tiar.. Sini-sini Dek, lagi ada acara nih kebetulan,”kata orangtua yang menyambutku. Langkah selanjutnya, “Ikut duduk yuuk,, Dinda mau dilamar orang, jauh-jauh dari Jakarta di hari pertama lebaran”, dan aku ingin pulang saja.

            Jadi, selama ini apa?

            Ketika sudah sepenuh purnama aku menyungguhi perasaanku, nyatanya Tuhan inginkan malam ke-16 datang.

            Ketika telah sederas hujan aliran kasih di hatiku, nyatanya Tuhan menyudahinya dengan pelangi pada hidupmu.

            Ketika telah sekuat karang aku berusaha meneguhkan pendirianku, nyatanya memang tak ada hak atas karang untuk memiliki ombak.

            Dik Dinda, perasaanku selalu sederhana, sesederhana aku tidak mampu berkata padamu.            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    9 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang bisa mewakili mereka yang sulit bersuara. Jika hal itu urusan cinta jangan sampai engkau terlambat mengungkapkannya atau jika tidak pujaan hatimu bisa diembat oleh orang lain. Seolah tulisan ini mengingatkan siapa pun untuk memperoleh seseorang yang kita sukai kita harus bertindak di luar yang biasa lakukan, risiko yang mau tidak mau harus kita ambil.

    Karya kreator Nun ini mempunyai judul yang menarik dengan awal dan akhir yang puitis dan dalam. Walau alur perpindahan waktu yang menandai pertumbuhan kedua tokoh terbilang kurang mulus, rasa penasaran akankah si pria pemalu mendapatkan gadis idamannya atau tidak sukses membawa pembaca hingga ke akhir kisah. Akhir cerita pun memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi pembaca.


  • Tee 
    Tee 
    9 bulan yang lalu.
    Sekian lama ndak mampir ke sini dan sekali mampir di bikin jatuh cinta sama cerpen kak nun. Lagi.

  • Harmawati 
    Harmawati 
    9 bulan yang lalu.
    Huwaa, kereeeen

  • Dinan 
    Dinan 
    9 bulan yang lalu.
    Asyik sekali nih cerpen... Suka sekali.
    Cara bertuturnya lembut dan puitis serta endingnya tdk happy ending. Saya kurang suka cerpen yang terlalu happy ending. Hehehe...

    Selamat datang Nun... Ditunggu cerpen berikutnya.

    Salam kenal.

  • meilinda dwi pertiwi
    meilinda dwi pertiwi
    9 bulan yang lalu.
    Sukaaa!