Beda Kita

Nun
Karya Nun  Kategori Puisi
dipublikasikan 16 Desember 2016
Beda Kita

Sampai sekarang,

Aku masih terus berpikir

Apakah langit itu ada?

Atau ia hanya ruang kosong?

Yang sesekali terlihat memutih,

Sesekali terlihat menggelap,

Oleh awan

Kemudian awan dengan segala pergerakan, meninggalkannya

Mungkin kemudian hanya bersisa ruang kosong

 

Aku senang mencari pojok pada ketinggian bangunan

Membuat mataku bebas tanpa batas pandang

Ku pikir aku telah menguasai langit di mataku

Ahh, ternyata hanya bagian itu

Baik, aku mengalah pada langit atas keluasannya megalahkan ujung pandangku

 

Sampai saat ini, aku masih juga berpikir

Bumi itu bulat

Bagaimana sebenarnya posisiku ketika diamati dari ruang angkasa,

Apakah sedang lurus, atau sedang miring, atau terbalik dan tertahan gravitasi

Ahh, aku tak pernah paham fisika,

Bahkan kalau pun yang katamu sesederhana fisika kuantum

 

Apa maksudmu?

Tanyamu demikian

Mmm.. maksudku hanya menegaskan perbedaan

Sebut kata bunga

Di kepalamu pasti akan muncul taman dengan segala wangi dan warna warni kembang,

Bermain mata dengan para kumbang,

Meski aku tak tahu apakah kembang pernah memandang kumbang yang hinggap kepadanya

Seperti aku memandang langit, seperti aku memandangmu

Bunga di kepalaku bukan yang itu, Tuan..

Yang kulihat adalah annuitas, perpetuity, valuasi, constant growth, atau apalah segala riba itu

 

Bagaimana lah ini,

Apakah kau melihat langit juga sekarang?

Aku tak pernah percaya syair para picisan

Kita tak akan benar-benar memandang langit yang sama,

Sebelum kita duduk berdua, bersepakat tentang ke mana harus melihat

 

Kemarin,

Aku melihatmu duduk bersisian,

Di bangku panjang sekolah,

Bersama perempuan itu,

Tak bisakah kau temukan yang lebih baik dariku?

Huhh.. Aku kesal.. Soal selera pun kita berbeda

Tuan,

Waktu itu dari kejauhan aku memandangmu

Ada kau di mataku, ada dia di matamu

Lalu kutepuk-tepuk pipiku,

Apakah memang sejauh itu aku dan dirimu?

 

Depok, 16 Desember 2016

Di pojok perpustakaan pusat,

Di bawah bentang awan hitam yang berarak, bergerak

Tak sampai jadi hujan, dari langit, pun mata

 

 

 

  • view 159