Tadi Pagi Kita Bertemu

Nun
Karya Nun  Kategori Puisi
dipublikasikan 14 Desember 2016
Tadi Pagi Kita Bertemu

Tadi pagi kita bertemu. Di antara jejeran sandal jepit surau yang rapi dan siap pakai. Kau mencari milikmu yang kurang satu, aku pun begitu. Pernahkah kau berpikir, di antara semua orang yang ada di surau, mengapa hanya milik kita yang tak lengkap dan maka dari itu masing-masing kita kebingungan mencari-carinya? Aku tak percaya kebetulan Tuan, itu takdir.

Tadi pagi kita bertemu. Satu sandal kita yang hilang ada dan berdekatan. Mengambilnya berarti menemuimu. Yaa.. kudapati dirimu takjub untuk sekejap. Selama ini kita sering sekali dekat secara satuan jarak, namun jauh dalam ruang pandang. Sepuluh langkah saja seharusnya kau bisa sambangi kelasku, pun aku terhadapmu. Tapi tidak pernah terjadi. Sekarang ratusan kilo jarak memisah, kita bertemu di tempat yang belum pernah kusambangi. Di antara jejeran sandal jepit surau ini.

Tadi pagi kita bertemu. Apa salahnya sekedar bertanya kabar? Sebagai laki-laki, barangkali kau merasa perlu mengawali. Kau ulum senyum yang jarang itu, membuat kikuk setengah mati. Aku harus bagaimana ini? Kau hujankan kekikukan itu, lagi, dengan bertanya “mengapa ada di sini?” dan aku hanya tersenyum. Bagiku senyum adalah jawaban terbaik untuk setiap pertanyaanmu. Aku sudah kehilangan rasionalitasku.

Tadi pagi kita bertemu. Kau duduk dan menceritakan semua sibukmu. Aku pun mendengarkannya dengan hati-hati, merekam baik-baik, berharap semoga ingatanku tak mengecewakan. Lalu kau bertanya, bagaimana denganku. Aku diam saja tak ingin bercerita. Bagiku mendengarkanmu lebih menarik.

Tadi pagi kita bertemu. Di surau yang tak pernah kukenal sebelumnya. Mencari-cari sandal jepit yang hilang. Menemukannya sekaligus menemukanmu, yang kurindukan.

 

Tadi pagi kita bertemu. Tentu saja tak pernah di dunia nyata. Hanya pada mimpi-mimpi yang membuat kejutku tak berperikan ketika bangun. Selamat pagi kenyataan.

 

Depok, 29 November 2016

 

  • view 304