PAMIT

Nun
Karya Nun  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Agustus 2016
PAMIT

PAMIT

“Da, bawa jas hujan?”ucapmu, aku menggeleng.

“Mau jas hujanku?”seketika motormu berhenti di depan motorku.

            “Tidak, tidak. Cuma gerimis,”

            Kau diam saja, dan lalu melanjutkan lagi kendaramu. Aku pun melanjutkan kendaraku. Kau harus tahu kalau tidak bisa jadi “iya” untuk perempuan.

            “Allahumma shayyiban nafi’an, terimakasih ya Allah untuk hujan petang ini. Tapi kenapa tidak nanti saja?”ucapku setengah berbisik kepada alam.

            “Berhenti berhenti.. Hujannya tambah besar Da,”

            “Sudah, lanjut saja.. Sudah kepalang basah,”

            “Iya, tapi Da bisa sakit kalau hujan-hujanan. Rumah Da masih jauh. Tidak apa, pakai jas hujanku saja,”

            “Tidak usah,”lalu aku bergegas lagi, dan sebenarnya masih berharap untuk kau bujuk (lagi). Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran perempuan sepertiku. Mengapa harus menunggu untuk dimohon-mohoni? Tidakkah berpikir bahwa orang yang diharap untuk memohon punya wibawa yang cukup tinggi untuk sekedar memohon kepada mahluk serba salah bernama perempuan?

            “Yasudah, terserah Da saja,”ah payah, begitu saja kau sudah putus asa.

            Desa kita sama-sama terpencil, sama-sama paling jauh dari kota, sama-sama melewati banyak persawahan, sama-sama banyak begal kabarnya, menakutkan jika seorang perempuan melaluinya seorang diri. Aku mafhum, sebagai laki-laki naluri menolongmu tentu saja besar. Dan hari ini memang kita pulang terlalu sore.

            “Da, ini rumahku. Sehabis ini, Da lurus saja. Nanti ada pertigaan langsung belok kanan dan lurus. Itu sudah jalan yang biasa Da lewati. Masih nggak mau pakai jas hujanku?” ucapnya persis di depan pintu gerbang rumahnya. Aku melirik sekilas. Sayang, hanya pias cahaya lampu rumahmu yang dapat kulihat dari sela-sela gerbang.

            “Oh, tidak usah repot-repot Shauqy. Terimakasih banyak yaa, mau kubuntuti sampai sini,”

            “Ah,, kau ini. Mana ada repot. Ini kan memang jalan pulangku,”

            “Yasudah, aku pulang dulu yaa.. Sekali lagi terimakasih,”

 Tadi di perempatan jalan, sebelum kita berdua berpisah dengan teman-teman yang lain, cuaca masih ramah sekali. Entah kenapa, ketika di jalan hanya ada kita berdua, alam menyendu tak karuan, membuat sesuatu yang setahun ini kukubur bangkit dari persemayamannya.

            ***

1 massage from Dyah

Uqy, bisa minta tolong bawakan jas hujan? Aku baru pulang les, dan sekarang hujan deras. Aku di depan halte

Reply

Oke. Tunggu sebentar ya, tunggu di depan halte.

            Sesaat kemudian, Syauqy dengan motornya sudah sampai di depan halte. Membawakan jas hujan permintaan Dyah.

            “Dyah, kamu kenapa nggak bawa jas hujan?”itu barangkali basa-basi saja.

            “Iya Qy, aku lupa,” katanya sambil tersenyum, membuat wajahnya merah memukau.

            “Yasudah, hati-hati ya naik sepedanya. Aku pulang ke pesantren dulu,”

            “Iya, Uqy,” motornya melesat pelan, menyisakan pungungnya yang masih kelihatan.

            “Cie cie.. dibawain beneran. Padahal kan gue iseng doang kirim sms ke Uqy.. haha,”kata teman Dyah setelah Uqy berlalu.

            “Ihh.. Dila.. kan aku jadi malu sama Shauqy, huuh..”ucapnya kesal namun juga menyimpan salah tingkah ala perempuan di balik kekesalannya.

            Shauqy Abdillah @shauqyabdi

            Rintik-rintik hujan malam ini...

                       

            Seorang gadis masih berdiri mematung di depan halte itu. Tigapuluh menit yang lalu, rasanya seluruh keringatnya telah terkuras habis hingga menjadikannya kaku dan dingin di tengah hujan yang sudah dingin. Dan tweet 20 menit yang lalu itu menambah lagi kekakuannya. Sedari tadi pula ia mematung melihat romansa di depannya. Ahh seandainya perasaan siapa pada siapa bisa gamblang melangit di atas kepala setiap orang, tentulah seseorang bisa menjagai perasaan orang lain dengan mudah.

                        ***

            ”Menghafal Al-qur’an itu butuh konsentrasi yang tinggi Nak. Butuh kesepian pula. Namun bukan hanya kesepian dari orang banyak yang kumaksud, adalah sepi dari dosa-dosa,”ucap Ustadz Didi.

            “Memangnya apa korelasinya?” tantangku.

            “Tentu saja ada. Al-qur’an itu adalah Nur, cahaya. Dan cahaya tak mampu menembus ruang yang berdebu. Hati manusia itu sebening kaca, bisa kotor oleh debu-debu dosa. Kalau debunya makin tebal, makin bebal juga kaca hati kita untuk dimasuki cahaya. Dimasuki Al-qur’an. Jatuhnya, ayat-ayat Allah yang mulia itu tidak mau nempel di hati dan ingatan kita,”

            “Oh iya Ustadz?”tanya Rifqa.

            “Tentu saja. Nanti kalian juga mungkin akan merasakan, waktu dimana menghafal satu ayat sungguh menjadi hal yang berat. Tidak nempel-nempel, tidak masuk-masuk. Ya itu ketika dosa kita mulai menumpuk, hati dalam kondisi tidak sehat,”

            “Lalu, kita teh harus ngapain Ustadz, kalau sudah begitu?”Nisa ikut menimpali.

            “Apalagi kalau bukan istighfar? Minta ampun sama Allah, pemilik Nur itu. Deketin lagi Allah, minta supaya diri kita dibersihkan lagi dari segala debu yang mengotori hati,”pungkasnya sambil mempersilakan santri-santri barunya menyantap martabak kacang yang masih hangat.

            “Semangat ya, semua permulaan memang sulit. Tapi kita ini keluarga baru yang harus bisa saling menguatkan,”pungkas Ustadz Didi dengan senyum simpulnya, menyertai minggu awal ikhtiar kami menjadi hafidzah. Aku hanya tersenyum saja.

***

Perkenalkan, aku Ghilda. Sebelum kau tahu bahwa duniaku sekarang sudah berbeda, kau juga harus tahu perbedaan itu karena niatanku untuk berhijrah menjadi keluarga Allah di bumi, putri sholihah yang menentramkan hati ayah bundaku.

            Sekarang aku mahasiswa biasa. Merantau untuk menimba ilmu di ibukota. Berharap mendewasa seiring usia. Dua tahun yang lalu juga siswa biasa. Ikut nyantri Kyai sembari meyelesaikan studi di SMU. Menjadi barisan terdepan penentang aktivis pacaran. Tapi mau bagaimana lagi, aku masih saja gadis lugu yang labil dan gampang jatuh cinta. Tak terhitung berapa kali aku pernah patah hati oleh perasaan-perasaan yang kubetulkan sendiri.

            “Ghilda, kamu udah murojaah belum to? Hafalanmu yang kemarin kocar-kacir. Ustadzah nggak mau nyimak kalau masih gini terus. Yang lain maju ayo,”ucap Ustadzah agak marah.

            “Ustadzah, sekali lagi doong.. Janji lancar deeh..”aku memelas.

            “Mana ada, orang daritadi kamu muter-muter di ayat itu terus.. Ganti aja yang lain, sana kalau kamu mau belajar,” sindirnya.

            Huff.. Kuis banyak, PR asistensi tidak kalah banyak, presentasi tugas kelompok, tugas menjelang UAS yang tidak mau kalah, dan lagi deadline artikel untuk organisasi.

            “Ahhhhh... aku pengen nikah ajaa...”kata Rifqa kalau sesekali sedang merasakan kondisiku sekarang. Aku pun sempat berpikir demikian. Hehe. Kalau sudah pening begini, aku lebih memilih menyendiri di pojok kamar.

            “Teh, ucapan ustadzah jangan diambil hati. Biasanya kan juga gitu,”kata Nisa menenangkanku.

            ”Makasih ya Nisa,”

***

            “Kalian adalah keluarga Allah.. Jangan takut Allah meninggalkan kalian. Mana mungkin orang yang memuliakan al-qur’an malah Allah hinakan di bumi?”

            Belakangan aku merasa menjadi penghafal al-qur’an sangat merepotkan. Aku tidak bisa belajar sebanyak orang-orang yang IPK-nya 4, lebih terbatas dalam berorganisasi karena terhimpit hafalan dan setoran, dan melelahkan tentu saja.

            “Apa yang kalian takutkan? Nilai? Itu mudah saja bagi Allah, lihatlah bagaimana Allah mendatangkan Yahya kepad Zakariyya, bagaimana Allah menghendaki Isa atas Maryam, dan bagaimana Musa menjadi pemenang atas Fir’aun ayahnya,”

            Selalu, nilai-nilai ketauhidan dimasukkan ke dalam alam bawah sadar kami setiap pagi. Merefresh semangat yang mulai cacat, memberi obat untuk hati yang mulai sekarat. Hingga yang kami butuhkan hanyalah menjadi kesayangan Allah, bukan lagi IPK 4, kalaupun dapat anggap saja itu bonus dari Allah.

***

            Libur telah tiba.

            Aku mengagumi hujan. Rerintiknya turun bersama malaikat-malaikat pembagi rezeki. Berkah bagi setiap orang. Aku terkadang heran kepada para pengumpat hujan, tentang cuciannya yang tidak kering, perjalanannya terganggu, ataupun hal temeh lainnya. Hmm.. “Qalilammaa tasykurun,” memang sedikit sekali orang yang bersyukur.

            “Sudah sampai rumah, Da?”. “Sudah, alhamdulillah.” “Alhamdulillah, maaf tidak bisa mengantarmu sampai rumah. Ayah melarangku.” “Tidak apa, aku paham.” “Istirahat yang cukup. Aku takut Ghilda sakit.”

            Allah, dia mengkhawatirkanku untuk yang pertama kalinya. Walau bagaimanapun kututupi, aku tidak bisa berbohong bahwa pesan terakhirnya ku timang-timang penuh rasa tak percaya. Setelah setahun terpisah oleh kampus, aku sudah jatuh cinta berkali-kali pada banyak orang yang karismatik di perantauan. Rasa suka itu “datang dan pergi”. Melelahkan. Untuk kemudian aku harus tersadar bahwa hatiku: sedang tidak baik-baik saja, disindir Ustadz dan Ustadzah, lalu kembali on the track.

            Tadi, kita hanya bertemu untuk temu kangen alumni pesantren angkatan 2012, itu saja. Dan aku, tentu saja masih tidak bisa mengikhlaskan kejadian di depan halte tiga tahun yang lalu.

Apakah kau selalu bisa menaklukkan wanita dengan hujan? Atau bahkan mungkin kau adalah pawang hujan yang kata orang-orang bisa menurun-nundakan hujan seinginmu? Aku sampai harus menyumpah serapahi diriku sendiri, kenapa bisa aku sebodoh ini disini?  Terhujani oleh semesta, yang aku curiga: berkonspirasi denganmu. 

            Sejak jas hujanmu itu untuk Dyah,sejak tweetmu setahun yang lalu itu, sejak itu aku pun meyadari bahwa aku cemburu, dan aku ingin menghapusmu sama seperti rintik-rintik hujan itu menghapus bintang-bintang yang bersemayam di langit. Mungkin bukan menghapus, hanya menutupi. Lihatlah sekarang, kukira aku sudah menghapusmu, namun salah.. Sekarang aku membenci pulang kampung. Membenci setiap momen berkumpul, di mana ada dirimu.

***

            “Innalladziina.. innalladziina yaktumuuna.. ehm.. Innalladziina yaktubuuna kitaaba.. Uhh..Alladziina,”kututup Al-qur’an dengan paksa. Aku menangis sejadi-jadinya. Bukan hanya di ayat ini aku gagu. Di ayat sebelumnya yang tergolong awal dan sering ku murojaah, pun iya.

“Kemana hafalanku ya Allah?”

            Tetiba aku merasakan takut menjalari seluruh persendianku. Sejauh ini? Benarkah sudah sejauh ini antara aku dan al-qur’an?

            “Da, tidak usah cemas kalau kamu lambat menghafal. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat kamu hafal ayat, tapi seberapa cepat kamu melupakan ayat. Tanamkan itu baik-baik agar menghafalmu bukan tergolong nafsu yang ditiupkan setan kepadamu,”kata Ustadzah tempo hari, dan terngiang-ngiang di telingaku.

            “Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?”gugupku sendirian di kamar. Ku ambil air wudhu, lalu sholat. Entah sholat apa, aku hanya ingin Allah mengembalikan hafalanku.

            “Arghhh... Semua gangguan ini harus kusingkirkan,” aku hanya bisa memegangi kepalaku di pojokan kamar. Memikirkan lagi kalimatku yang baru saja. Ahh Ghilda.. apa yang harus kau singkirkan? Kau tidak memiliki sepeserpun barang pemberian Shauqy yang bisa kau buang. Ahh iya, obrolan terakhir itu harus dimusnahkan untuk sekarang dan selanjutnya.

            Shauqy, aku minta maaf. Tapi sebaiknya kita tidak perlu bertemu atau berhubungan lagi. Berkat perasaan ini, aku sukses menghancurkan diriku sendiri. Aku pamit.

Salam, Ghilda

            Sent to Shauqy. Beberapa menit kemudian,

            Maafkan aku Ghilda,kalau seburuk itu kondisimu sekarang. Tapi aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Perasaan yang mana? Dan pamit untuk apa?

            Ahh,, benar juga. Kita tidak pernah merasa saling singgah, untuk apa salah satu mengatakan pamit?

            ***

            Dan libur telah usai, aku akan kembali ke pesantren dan kampusku, menjalani hari-hariku setelah pamit yang bertepuk sebelah itu.

 

 

 


  • SAM FIRDAUS
    SAM FIRDAUS
    1 tahun yang lalu.
    pesan agama yang dikemas secara apik.
    saya suka dengan materi murojaah dan konspirasi hujannya.
    ditambah pesan bahwa terkadang wanita memang suka baper, ya

    • Lihat 2 Respon