Adab Sebelum Ilmu

Nun
Karya Nun  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Juni 2016
Adab Sebelum Ilmu

                Teringat beberapa peristiwa yang sambil lalu terlupakan, tapi akhirnya kuputuskan untuk memikirkan ulang. Tidak jauh-jauh dari kampus tempatku dan mungkin juga kamu belajar. Seorang guru baru saja bercerita kepadaku mengenai kekesalannya terhadap tingkah salah satu mahasiswanya. (sepertinya memang benar-benar kesal sih, air mukanya berubah ketika topik sebelumnya tergantikan dengan topik ini, tentang mahasiswanya). Suatu siang, di pertemuan terakhir semester ini, mahasiswa kelasnya mengajak beliau untuk berfoto bersama. Memang sudah menjadi kebiasaan bersama dalam melakukan hal ini, beliau tidak menolak. Tapi pada sudut matanya yang lain, beliau mendapati satu mahasiswanya keluar kelas tanpa pamit atau apapun. “Dia kira saya tidak melihat, tapi saya bahkan tahu detail bagaimana ia berjalan waktu itu,”ungkapnya. Ya, sikap mahasiswanya itu mungkin tidak berpengaruh apapun pada beliau. Ditinggalkan seperti itu tidak lantas membuat kemuliaannya sebagai seorang guru terkotori, justru dialah yang merugi untuk tindakannya itu.

                Makan malam kami ternyata tidak hanya nasi goreng yang masih hangat, tapi juga curhatan sejujurnya seorang ustadz sekaligus seorang dosen. Guru kami dalam kurun waktu setahun ini. Tiba-tiba pikiranku flashback ke hal yang barangkali relatif sama dengan apa yang beliau ceritakan. Aku ada di FEBUI. Fakultas yang kata orang, “paling sial jadi menteri”. Pertama kali duduk menimba ilmu disini, ke-kagok-anku barangkali bukan karena: aku anak daerah, dan tidak mengerti seperti apa kota besar. Kucoba telisik lagi, ternyata bukan itu. Ya, memang bukan. Di kampung, dari sekolah SD sampai SMA, juga dari TPQ sampai madrasah diniyyah, kami selalu diajarkan bagaimana menghormati guru. Kami tidak membalas ketika guru sedang marah atas kesalahan yang memang kami lakukan, kami takut untuk berbicara melawan perintah guru kami, dan bahkan aku sendiri selalu merasa gemetaran ketika tiba di kelas setelah guru kami duduk di kursinya. Sekolot itu ya? Barangkali memang kolot, tapi mari coba bandingkan dengan lingkungan belajarku saat ini.

                Mari benar-benar bicara sejujurnya. Jika aku dulu gemetaran ketika harus berangkat lebih akhir daripada guru/ustadzku, kini aku mendapati mahasiswa-mahasiswa yang datang jam 08.30 atau bahkan jam 09.00 meskipun sudah sangat tahu bahwa kelas diadakan jam 08.00. Lebih hebatnya lagi, kebanyakan dari mereka nyelonong duduk tanpa meminta izin. Atau, ketika dosen menjelaskan, dan kita dengan semaunya (lagi-lagi) nyelonong keluar kelas dan (lagi-lagi) tanpa izin. Atau lagi, seperti kasus Ustadzku, yang mahasiswanya nyelonong keluar sebelum dosen belum keluar, tanpa izin. Alasannya mungkin adalah: tidak butuh izin dari dosen, “Yang penting lu ngerti materinya apa, dan dosen ngomong apa, selesai semua urusan. Lu bisa ngerjain UAS dan lulus”. Lagi-lagi, mungkin menurutmu aku berpikir terlalu ruwet.

                Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita hanya butuh ilmu dan tidak butuh menghormati guru/dosen kita? Beliau kembali mengisahkan tentang seorang sahabat sekaligus gurunya. Ada seorang pemuda yang saat itu sedang dilanda kegamangan yang luar biasa dalam hidupnya. Masalah bertubi-tubi, utang dimana-mana, “complicated dah pokoknya”. Apa yang ia lakukan? Ia datang kepada salah seorang pengasuh pondok pesantren dengan tujuan: minta didoakan. Singkat cerita, orang itu datang ke tempat Kyai tersebut. Pagi-pagi sekali. “Kyai, boleh saya minta waktu Kyai sebentar?” jawabannya “Nanti ya Nang, pagi ini saya lagi ada urusan. Tunggu sampai Ashar nggak papa kan?” Ditunggulah sesuai permintaan gurunya itu. Setibanya ashar, pemuda itu ternyata masih menunggu. Ia bertemu lagi selepas ashar. “Gimana Kyai? Apakah Kyai sudah ada waktu?” jawabannya “Hoalaahh.. ternyata ini, masih ada agenda ngajari anak-anak ngaji. Jam 9 malem aja yaa..”. Ditunggu lah lagi, sampai ketika jam 11 malam, gurunya akan menutup pintu rumah dan ternyata pemuda itu didapatinya masih duduk di ruang tamu. “Yasudah, karena sudah malam besok aja ya Nang,”. Pemuda itu pulang, setelah seharian menunggu. Singkatnya, keesokan harinya pemuda itu datang lagi, dan hal yang sama seperti hari kemarin berulang lagi. Sampai pada momen ketika gurunya akan menutup pintu pada pukul 11 malam “Lhhaahh.. Kamu masih disini? Hoalaah.. ada perlu apa sampai mau menunggu begini?”. “Begini Kyai, saya mau minta di..” “Hmmm... Yayaya.. bawa ini Nang (menyerahkan sebungkus korek api)” “Hah? Buat apa Kyai?” “Buat ngganjel matamu supaya ndak tidur waktu jam 03.00 pagi. Sholat, minta sama Allah. Sudah, sana pulang.”

                Barangkali kalau kita yang diperlakukan seperti itu, keesokan harinya kita tidak akan datang lagi karena merasa dikecewakan atas penantian yang tidak membuahkan apa-apa, padahal kondisinya sudah sangat sekarat. Namun, pemuda itu, yang kemudian hari ini namanya kita kenal sebagai Ustadz Yusuf Mansur, melakukannya lagi: menunggu seperti kemarin. Namun itulah yang diakuinya sebagai muasal keberkahan hidupnya sampai hari ini.

                Poin pentingnya adalah pada “adab” maupun “etika”. Ada istilah “adab sebelum ilmu” dan “etika sebelum profesi” yang tepat sekali digunakan untuk menjadikan sebagian orang merasa tertohok. Dulu, aku pernah belajar ketika di madrasah diniyyah (entah apa nama peajarannya, agak lupa) yang di bab-bab awalnya bukan tentang ilmu yang sesungguhnya, namun justru lebih banyak membahas tentang ilmu “beradab” terhadap guru. Sebegitu signifikannya adab terhadap guru.

                Ilmu bisa didapat dimanapun. Namun keberkahan berbakti terhadap guru, hanya akan kita dapati ketika kita memiliki adab yang benar dalam memperlakukan guru kita. Tentang etika sebelum profesi, apapun profesi yang kemudian akan kita geluti, utamakanlah etika terlebih dahulu. Orang tidak sukses karena kemampuan dalam profesinya, namun karena people skill yang dimilikinya, salah satunya ya hal sekecil adab terhadap guru itu. Dan untuk memiliki “etika” itu perlu diasah sesegera dan sesering muungkin.

                Maka teman-teman, saya tekankan bahwa dalam belajar, ilmu adalah nomor dua, dan nomor satu-nya adalah tentang bagaimana kita “beradab” terhadap guru kita. (Semoga setelah tulisan ini, kelas-kelas terisi penuh sebelum dosen datang dan duduk di tempatnya hhhh).

               

Depok, 23 Mei 2016 00:58

Untuk pertama kalinya merasa beruntung menjadi Jawa tulen yang setiap hari dicekoki hal-hal bermuara adab dan etika. Terimakasih Pak Deddi dan Bu Harteen untuk pelajaran tentang etika malam ini. Terimakasih Mbah Uti di kampung, teladan nyaris sempurna soal sopan santun.

  • view 98