Ra

Nun
Karya Nun  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Mei 2016
Ra

            “Apakah kau akan membatalkan rencanamu jika seandainya aku tidak secantik yang kau inginkan?”terdengar suara khas perempuan sedang bertanya. Tanpa memperlihatkan wajahnya.

Belum ada jawaban. Barangkali sedang berpikir. “Kau pergi saja. Terlalu lama aku menunggumu berpikir,”ucap perempuan itu lagi, padahal belum genap enam detik ia menunggu jawaban keluar dari seseorang di seberang meja itu.

“Nak, kau ini ada apa? Dia bahkan baru mau membuka mulutnya. Kenapa sudah kau usir?”tanya seorang renta disampingnya sembari melihat kepergian lelaki itu dengan prihatin.

“Tidak perlu Ayah. Aku tidak butuh orang yang berpikir lama demi menjawab pertanyaan sesederhana itu.”

Diam sejenak. Orang yang selanjutnya masuk. Ruangan kecil yang hampir menyerupai ruang rapat itu terkesan horor. Ada ke-diam-an disana.  Gadis berjilbab panjang itu duduk dibalik kursi santai merah besar yang membuatnya tidak terlihat dari pintu masuk. Posisinya membelakangi meja. Sementara seseorang disampingnya sibuk mengatur-atur proposal yang sedari tadi menumpuk dan kemudian membuangnya ke kardus bekas atas penolakan berkali-kali gadisnya itu.

“Apakah kau menyukai wanita cantik?”

“Tentu saja,”jawab lelaki kesekian itu dengan mantap.

“Aku menolakmu, silakan kau cari perempuan cantikmu itu,”ucap gadis itu jelas tanpa jeda.

Lalu lelaki itu pun keluar. “Nak, bukankah hal yang normal bila laki-laki menyukai perempuan yang cantik?”ucap Ayahnya lagi, berusaha membela kaumnya barangkali.

“Aku bahkan tidak mencari laki-laki yang tampan Ayah. Misiku dan misinya jelas berbeda. Aku tidak menyesal menolaknya.”

Satu proposal terbuang lagi ke dalam kardus tanggung itu.

Orang selanjutnya masuk. “Boleh aku duduk Nona?”katanya dengan percaya diri untuk memulai pembicaraan.

“Kursi disitu hanya ada satu. Apalagi kalau bukan untuk duduk?”jawabannya masih saja datar.

“Baiklah, aku berniat untuk melamarmu. Kudengar kau gadis yang baik,”ucap pemuda itu to the point.

“Darimana kau tahu aku gadis yang baik?”

“Dari caramu mencari pendamping hidup. Kalau Kau bukan gadis baik-baik, mana mungkin mereka semua kau tolak?”

“ucapanmu kontradiktif, aku tidak mengerti.”

“haha.. Barangkali iya. Sekarang daripada melamarmu, aku bahkan lebih tertarik untuk mendengar kau bercerita. Sebenarnya apa yang sudah kau alami hingga membuatmu begitu pemilih? Tidakkah kau takut menjadi perawan tua?”

“Jangan kurang ajar,”

 ***

Sahabat. Kepadanya kau gantungkan semua percayamu. Berarti pula kau gantungkan seluruh resah redupmu, perih hidupmu, bahagiamu, tak terkecuali tanpa enggan kau ceritakan seluruh aibmu. Kabar baiknya, ia mungkin bagian hidupmu yang sejati. Mampu menutupi semuanya, mampu menenangkan resah yang menjalar merambati pikiranmu, dan menjagamu.

“Sya.. Salahkah bila perempuan yang pertama memulai?”

“Maksudmu apa Kejora?”

“Iya, apakah salah kalau perempuan melamar terlebih dahulu lelaki impiannya?”tanya Kejora dengan muka memerah.

“Kejora? Ini Kejora? Sejak kapan Kejoraku menjadi melankolis?”ucap Syaila terkejut.

“Sejak hari itu. Sejak aku bertemu dengan pangeran itu.”

“Pangeran? Apa aku tidak salah dengar? Kau tidak pernah se-cheesy ini,”Syaila masih saja belum percaya.

“Ahh Syaila.. Bukankah cinta bisa mengubah segalanya?”matanya seperti menerawang jauh sesuatu yang melewati dimensi waktu normal.

“Oke oke.. Baiklah sayang, apa yang kau rasakan sekarang?”

“Aku merasa tidak bisa menikmati hidupku tanpa melihat kehadirannya,”

Then? Kau masih berperilaku normal kan?”

“Iya, masih. Tapi maafkan aku Syaila. Aku jadi tidak mau menemanimu membeli makanan ke warung Mbak Ita setiap sore.”

“Ha? Itu dari kapan tahun? Bukankah kau tidak mau menemaniku sejak kita masih kelas sepuluh? Aku ingat sekali waktu itu baru 2 minggu rutinitas itu berjalan,”ucap Syaila membelalak.

“Iya, sekarang kita sudah kelas 12, dan aku tetap tidak mau menemanimu. Kau tahu kenapa?”

Yang ditanya hanya menggeleng lugas.

“Aku hanya mau duduk di depan asrama waktu sore, demi melihatnya pulang.”

“Astaga, Ra. . Kau sudah tidak normal lagi,”

“Apanya yang tidak normal?”

“Itu berlebihan,”

“Benarkah? Aku bahkan berhasil menyembunyikan perasaan ini dua setengah tahun lamanya. Apakah itu berlebihan?”

“Maksudku yang kau lakukan terhadapnya itu berlebihan. Kau tidak perlu seperti itu. Nanti ketika pada akhirnya Kau tidak ditakdirkan bersamanya, bisakah kau menanggung semua kecewa atas semua penantianmu yang terlalu dini ini?”

“Aku tidak yakin mampu menanggungnya. Tapi aku meyakinkan diriku untuk memperjuangkannya.”

“Kau ini Ra. Keras kepala sekali,”ucap Syaila putus asa.

Syaila dan Kejora, dua sahabat yang selalu sependapat. Hari ini untuk pertama kalinya mereka berbeda pemikiran.

“Lalu apa rencanamu?”

“Aku tidak mungkin melamarnya besok ketika kita baru lulus SMA kok Sya... kamu cemas sekali. hhehe”

“Lalu? Sebenarnya siapa laki-laki itu?”

“Aku akan menunggunya. Sampai aku benar-benar telah siap, begitupun dirinya. Soal nama, itu rahasia. Hahaha.. semoga akan sampai pada waktunya aku bisa memberitahumu Sya..”

“Apakah ending bahagia yang kau harapkan?”

“Tentu saja,”

“Bagaimana jika dia tidak pernah tahu perasaanmu yang seperti gunug es itu? Dan Kau tidak dapatkan ending yang Kau harapkan?”

“Mmmm.. belum kupikirkan.. Hahaha” Mereka berdua tertawa dalam kesunyian kamar asrama lantai dua. Semua lampu sudah mati. Hanya di kamar mereka yang nyalanya masih menyilaukan mata jalanan. Besok adalah hari terakhir mereka ada di jenjang SMA, juga di asrama itu. Tiga tahun begitu cepat. Relativitas yang ditawarkan Albert Einsten berlaku juga dalam hal ini.

“Yasudah, pastikan Kau undang aku di hari bahagiamu itu yaa,,,”

            Sejak saat itu, impian Kejora hanya ingin menikah. Hidup bahagia dengan pangeran impiannya itu. happily ever after kalau dongeng bilang. Dia tidak mengambil sekolah di universitas. Padahal otaknya juga tidak pas-pasan. Kalau dia mau, barangkali dia sudah bisa duduk di bangku universitas-universitas begengsi menurut pendapat kebanyakan orang. “Ummi, Kejora ingin melanjutkan ke sekolah desain saja. Ummi lihat kan, Ra berbakat sekali membuat desain baju-baju muslimah. Aku ingin yang lebih applicable Ummi. Universitas nggak punya itu,”katanya suatu siang pada Umminya.

            Syaila sahabatnya yang setia itu, memilih Fakultas Kedokteran sebagai tempat belajar. Syaila yang cantik, Syaila yang hafidzah, Syaila yang baik kepada semua orang, Syaila yang cerdas, tentu tidak ada kesulitan baginya untuk masuk kesana. Ra butiran debu jika dibandingkan dengannya. Hhhh. Kampusnya ada di Solo, di Universitas yang namanya pernah menjadi sejarah besar bagi Indonesia. Diambil dari nama surat perintah Presiden Soekarno kepada Jendral Soeharto untuk mengurus apa-apa hal yang perlu dilakukan saat itu, karena menurut sejarah di textbook presiden sedang tidak dapat melakukan tugas-tugasnya. Selanjutnya dinamai Surat Perintah Sebelas Maret. Syaila sekarang di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

            “Syaila, jangan lupain Ra yaa... Ra sekolah di Jakarta dan Sya di Solo. Ra takut Sya nggak mau punya temen kayak Ra setelah Sya ketemu teman-teman baru.”ucap Ra sedih pada perpisahan di teminal sore itu. Ia segera berangkat ke Jakarta. Membawa buncahan harapan di dadanya dan segala ambisinya.

“Ra, Ra harus janji pada Syaila, untuk tidak berlebihan menyimpan perasaan pada orang itu. Siapa pula orang itu yang seenaknya sendiri merajai pikiran dan hati Ra? Ra punya Allah kan? Ra tidak boleh melebihkan persaan Ra kepada orang itu dibandingkan perasaan Ra untuk Allah,”Syaila mengucapkannya sambil terus menahan bendungan air yang sedari tadi ingin pecah dari matanya yang indah itu.

“Ra janji Sya... Ra mau belajar desain sungguh-sungguh. Ra mau berdakwah lewat desain-desain yang Ra buat,”Ra ikut sesenggukan dalam pelukan Syaila. Tidak pernah ada air mata setulus itu jika pemiliknya tidak benar-benar menyimpan kesedihan yang mendalam tentang kepergian masing-masing. Ra dan Syaila tidak hanya bersahabat melalui kedekatan fisik mereka, hati keduanya terpaut satu sama lain. Saling menguatkan ketika salah satu merasa jengah.

“Ra. .telfon Sya kalau Ra butuh cerita atau apapun,”ucapnya melepas Sya. Antara mereka saling berbalas dalam lambaian tangan yang bisu. Ra benar-benar jauh sekarang. Sejauh aspal yang membentang diantara mereka. 

 “Apa Kau punya sahabat?”tanya laki-laki itu tanpa ragu.

***

Ruangan itu, sebenarnya tidak sekosong yang terbayangkan. Masih ada vas bunga berisikan mawar merah yang masih segar. Ia barangkali adalah pertanda. Pertanda sulitnya penaklukan. Terhadap mawar itu, untuk sampai pada vas didepannya, dan mungkin terhadap gadis dibalik kursi merah itu. Masih ada pula foto-foto berjejeran di dinding warna pink yang entah mengapa warnanya bercampur dengan banyak coretan-coretan tak beraturan. Bukan coretan anak kecil yang menggemaskan, cenderung seperti coretan seorang pemarah. Lelaki itu bergidik ngeri. Sedari tadi ia menunggui  gadis itu bicara, sambil terus mengamati dimensi ruang yang menampung tubuhnya. Sudah sejam ia menunggu. Lelaki tua yang ia panggil Ayah itu juga diam saja. Seperti memendam harapan yang begitu mendalam.

“Aku punya. Mungkin juga tidak punya,”

“Perempuan plin-plan,”gumamnya lirih.

“Apa Kau bilang?”

“Tidak, tidak. Aku memujimu atas konsep dualisme yang kau miliki.. lewat jawabanmu itu.hehe”

“Aku tidak suka bergurau,”

“Wah, sayang sekali. Pasti rumah tangga kita akan sepi kalau untuk bergurau saja kau tak bisa melakukannya. Hmmm”

“Memangnya siapa yang mau menjadi istrimu?”

“Kau. Kau menahanku lebih lama disini daripada semua lelaki sebelumku. Iya kan Ayah?”ucapnya dengan senyum simpul yang tak pernah dilihat gadis kaku itu spanjang pembicaraan.

“Dia Ayahku. Bukan Ayahmu. Tak usah kau panggil seperti itu,”

“Apa salahnya. Sekarang atau besok sama saja. Aku akan memanggilnya Ayah juga,”

Ayahnya diam, namun ada secercah senyum dari kerut-kerut di wajahnya. Ia benar-benar menyimpan pengharapan.

****

“Assalamualaykum, Syailakuu... kaifa khaluq?”

“Waalaykumussalam, Ra. Alhamdulillah.. Ana bi khair.. Ra kemana saja? Syaila telfon tidak pernah aktif?”

“Maafkan Aku Sya.. pekerjaanku ternyata berat dan menyenangkan. Hehe.. siang malam aku membuat desain-desain yang kuimpikan akan kulahirkan dari tanganku,”suara di seberang masih riang. Seriang empat tahun yang lalu. Ahh Kejora. Kau ini memang pelupa.empat tahun yang lalu kau janji akan berkabar setiap saat. Empat tahun kemudian baru kau telfon sahabatmu itu.

“Ra pasti sekarang sudah lebi dewasa kan?”

“Tentu saja Syaila, dewasa yang kekanak-kanakan. Kau mengerti kan? Haha”

“Kau ini. Masih sama saja ternyata.”

Keduanya saling melewatkan satu sama lain. peristiwa yang seharusnya terbagi, tidak pernah terambat melalui saluran kabel telepon. Ra tidak tahu kalau Syaila semakin cantik karena pribadinya yang semakin dewasa. Ia primadona setiap orang. Bahkan perempuan pun tidak segan memujinya. Keywordnya masih sama. “Semua orang pasti menyukainya”. Syaila juga tidak tahu kalau Ra semakin berbakat. Ra, desainer yang mapan. Sudah banyak desain yang ia garap dengan sangat apik. Tak hanya itu, ia bahkan bersedia menjadi santri tahfidz yang 10 tahun lalu pernah ia jalani pula. Bedanya, dulu ia kabur karena tidak betah berada di lingkungan pesantren yang menurutnya kuno. Hafalan yang ia jaga barangkali tidak sesempurna milik Syaila. Namun  Syaila adalah salah satu sumber inspirasinya dalam menghafal. Sekarang 10 juz sudah di tangannya.

“Sya... Sya kapan wisuda?”

“Ra lama sekali menghilang. Sya mau wisuda bulan depan.”

“Ciee Bu dokter.. Sya undang Ra nggak ke wisuda bulan depan?”

“Iya dong Ra. Ra harus datang. Bisa nggak bisa mau nggak mau”

“Idiih... serem banget bu dokterkuu...”

“Hahhahaha”

Tawa mereka lepas dari sudut bumi yang berbeda. Mungkin hanya berbeda sekian koma bujur saja, namun kebahagiaan suara-suara mereka yang menguar di udara membuat bumi mereka serasa buncah oleh bahagia.

“Oh iya.. Ra ada desain bagus untuk dipakai Syaila waktu wisuda besok. Syaila harus mau yaa...”

“Uhh..mmm..”suara di seberang terdengar ragu-ragu.

“Tenang aja Sya, Ra bikin yang syar’i kook... Nggak ketat, nggak tembus pandang, dan nggak alay. Sesederhana selera Syaila, cocok deh”suaranya masih saja terdengar seperti ABG bawel.

“Hehe.. baiklah Ra. Sya percayakan kepada Ra,”

“Nah.. gitu dong.. Udahan dulu ya Sya.. Ra masih ada agenda selanjutnya niih.. Assalamualaykum”

“Iya Ra. Makasih yaa... Waalaykumussalam,”

Ra masih begitu. Syaila pun masih begitu. Tidak ada yang berbeda dengan watak dasar mereka. Ra tetap saja rempong, dan Syaila tetap saja tenang. Barangkali keduanya seperti hujan dan danau. Hujan yang berisik, terburu-buru sekali untuk jatuh sehingga mereka harus datang beramai-ramai, membuat setiap orang memasang kuda-kuda perlindungan terhadapnya. Dan danau, danau dengan tenang menadahi serbuan ramai-ramai hujan yang bahkan tidak memekakan dirinya sedikitpun. Tetap tenang, kecuali pada rintik-rintik yang timbul karena keduanya berbenturan.

***

]Ali...

Ini puisi pertamaku untukmu

Ditulis ketika aku sedang mengerjakan gaun pengantin pertamaku, asal kau tahu ini adalah proyek akhirku untuk bisa lulus

Untuk siapa lagi kalau bukan untukmu dan untukku

Maafkan aku yang tidak bisa berpuisi

Aku hampir saja menyamakanmu dengan perca-perca itu

Berusaha membuat perumpaan, yang akhirnya hanya membuatku malu dan mengutuki bodohnya diksi yang kupakai

Atau bahkan gunting-gunting itu, yang seringkali melukaiku. Tapi kau tidak begitu kan? Aku yakin Ali laki-laki yang baik.

Ketika setelah empat tahun ini aku menghapusmu dengan penghapus yang kubuat sendiri

Merasai bahwa memikirkanmu berarti megharuskanku memiliki keberanian itu

Aku takut sekali ,aku tidak seberani itu, maka kuputuskan menghapusmu untuk sementara

Kuputuskan bahwa aku hanya akan hadir di depanmu sebagai putri yang anggun, sekalipun tidak jelita

Menjadi kebanggan ibumu,sama seperti ia banga kepadamu

Menjadi bintang yang menerangi langitmu, sekalipun aku tahu langitmu tak hanya menyimpan tempat untuk satu bintang. Bahkan aku ragu tentang ruang langit yang kau punya

 Ketika kau membaca ini, mengertilah bahwa saat ini penulisnya tengah menghimpun seluruh amunisi yang ia miliki untuk datang; melamarmu

Orang-orang mungkin akan mengataiku gadis gila. Peduli apa aku terhadap mereka.

Aku tidak merasa merendahkan harga diriku, ini adalah bukti; aku berani atas semua konsekuensi yang mungkin.

Semoga aku tidak terlambat, dan pada dirimu kuanggap keadaanmu ceteris paribus haha

Aduuh... penggaris besi ini melukai tanganku, juga jarum yang itu

Tak apa, aku masih tahan; selama bukan kau yang menyakitiku

Baiklah, sudah dulu yaa...bukan karena setelah empat tahun ini aku tidak ingin mengatakan apapun, aku hanya bingung akan menuliskan apa. Terlalu panjang untuk bisa terwakili oleh surat receh seperti ini. Hehe

Dari yang sempat menunda mengagumimu,

Ra.

 ***

            Aku, bagaimanapun hanya bisa menjadi penonton dari kisah epic gadis ini. Aku pernah mencoba masuk, namun urung. Dan pada akhirnya aku tetap termasuk kedalamnya. Ahh sial... Gadis yang membawa sekotak benda di tangannya itu, datang di waktu yang tepat. Benar-benar tepat. Ketika aku telah diakui lulus dari kampus ini.

            Aku melihatnya dari kejauhan, tak berani lama-lama. Hanya untuk memastikan benarkah ia datang kesini. Benarkah ia yang datang? Ataukah aku hanya merindui keberadaanya? Ternyata benar,  Ia masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Riang dan bersemangat. Bedanya dulu ia dekil dan jorok. Tapi sekarang ia tumbuh menjadi muslimah yang anggun. Hingga aku sungkan mengamatinya lama-lama. Aku ingat sekali, waktu itu ia sedang pilek dan tidak enak badan. Lalu tugas bahasa indonesia membuat puisi yang menurutku menyebalkan itu, membuatnya harus maju membacakan puisi miliknya. Dia sangat berbakat dalam hal itu, maka aku tahu semangatnya masih menggebu walau sedang sakit.

            Ibu, tak usah repot mengambilkanku bulan.

            Nanti kasihan teman Kejora, ia tak bisa melihat bulan lagi

            Tak usah pula Ibu memujiku putrimu yang paling cantik

            Aku tahu kalau aku satu-satunya putri yang kau punya

            Tak usah ibu banggakan putrimu ini didepan orang-orang

            Menjadi kebanggaanmu sendiri, aku sudah cukup

            Ibu,

            Puisinya terhenti. Aku sedang bermain-main dengan imajinasiku, menggambar apa yang tidak peru pada buku catatanku. Aku tahu nilai kerapian catatanku pasti 6 karena ini.  Entah kenapa, Setelah kulihat, ingusnya ternyata mendadak keluar dari hidungnya yang sedari tadi memerah karena flu. Ya Tuhan, kau memalukan sekali. teman-teman menertawaimu, dan aku tidak tega. Kuberikan tisuku padamu. Dan kau, anak yang baru saja lulus SD, menangis di depan kelas karena penampilanmu yang gagal. Teman-teman tambah geli melihatmu, tawanya menjadi-jadi. Harusnya kau pertimbangkan dulu keadaanmu, kalau memang tidak bisa tidak usah dipaksakan. Lagipula semua orang juga tahu kemampuanmu itu. heehhh...aku sebal dan kasihan kepadamu.

            Esok harinya aku melihatmu lagi, mengira-ngira masihkah raut sedih itu diwajahmu. Samasekali. Kau bahagia seperti biasanya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa di hari kemarin. Ketika itulah aku menyadari bahwa kau orang yang mudah melupakan. Kalau aku jadi kau, barangkali seminggu di kamar aku mengurung diri. tapi itu pun tidak mungkin, karena aku tidak akan maju membacakan puisi seperti kau yang konyol itu. hhhh

            “Cyva, terimakasih ya tisunya kemarin. Ummiku menitipkan ini untuk Cyva. Cyva pasti suka,”ucapmu menghampiriku sebelum jam pulang sekolah. Kau memberiku sekotak kue brownies. Kesukaanku. Ahh... Ummimu pengertian sekali. Hal lain yang kusadari, kau amat dekat dan menyayangi keluargamu. Hal setemeh itu kau ceritakan pula pada mereka.

            “Ehh.. ehh,”aku kaku,mungkin tidak biasa berbicara.

            “Ehh ehhh apa? Ini untuk Cyva..”

            “Ehh.. sampaikan terimakasih untuk Ummimu Kejora. Aku senang sekali menerima pemberiannya,”ucapku akhirnya. Hahhh... hanya untuk mengatakan itu, di depan gadis kecil yang kerudungnya sudah carut marut itu, aku gagap. Aku jadi berusaha mengingat-ingat lagi, sudah berapa kali aku bicara selama masuk Madrasah Tsanawiyah ini. 

            “Ummi juga bilang, nama Cyva cantik. Ummi kira Cyva perempuan seperti Kejora, haha”riangnya sambil berlalu meninggalkanku.

            Aku ikut tertawa juga. Terimakasih Kejora, untuk tawa yang kau ajarkan waktu itu.

***

            Lamat-lamat kuperhatikan langkahmu dari jauh, ingin menyapamu. Tapi takut kau sudah lupa denganku. Sampai SMA kita masih satu sekolah, tapi kau menjadi orang yang sangat populer, dan aku tetap begitu saja. Karena itulah aku enggan menyapamu. 

            “Sya.. Ra sudah digedung wisuda Syaila. Syaila dimana? Syaila pakai gaun yang seminggu lalu Ra paketkan ke Solokan?”ucapnya lewat telepon.

            “Ra.. Sya lagi mau keluar niih.. Nanti setelah prosesi wisudanya selesai, Syaila akan keluar menemui Ra. Iya, Syaila pakai kok.. cantik sekali gaunnya”

            “Sebenarnya tergantung pemakainya sih ya,, hehe. Baiklah, Ra tunggu di dekat taman yaa.. dekat pintu keluar gedung wisuda,”

            “Oke deh Ra,”

            Sebelum Ra berangkat, Ia tahu kalau Ali juga wisuda bersama Syaila. Baginya itu kebahagiaan yang berlipat.

            Ali, ini surat keduaku.

Hari ini aku tahu, adalah hari bahagiamu, selamat atas wisudamu yaa. Selamat menjadi engineer yang handal ..

            Mungkin juga hari ini adalah pembuktian atas keberanianku..

Aku sudah izin pada Ummi, katanya “Mana mungkin Ra melamar laki-laki yang belum mapan dan jelas baru selesai wisuda”

Tidak apa, kataku pada Ummi. Bukankah Ummi dan Ayah dulu juga menikah muda? Dan sekarang masih bahagia,

            “Ra yang melamar?” ummi masih ragu

            Iya Ummi...

            Aku barangkali masih bingung dengan apa yang akan kuperbuat ini... hhh

            Aku selalu begini ya Al..

            Aku bahkan belum menyiapkan sesuatu apabila nanti terjadi penolakan darimu..

            Tepatnya aku tidak ingin memikirkannya...

            Ini sudah enam setengah tahun, Aku tidak bisa menunggu lagi..

            Baju yang kubuat ini, kubuat dengan tanganku sendiri, eh bahkan dengan hati

            Sepasang, karya tugas akhirku yang sempat kuceritakan pada surat sebelumnya..

            Kubungkus dengan kotak warna pink, bersama dua surat ini.

            Semoga kita berjodoh J

            Ra, dengan penuh keberanian.

***

“Lalu apa yang terjadi waktu itu?”tanya lelaki itu lagi.

“Aku tidak tahu. Aku pergi”isak gadis itu mulai terdengar, lirih.

            Pembicaraan mereka mengalir begitu saja. Setengah jam yang lalu, gadis itu masih sangat kesal krena sikap sok asik lelaki di seberang meja itu. Entah mantra macam apa yang membuat lelaki itu mampu membuat gadis berjilbab panjang didepannya bicara lebih banyak dari sebelumnya.

 ***]]]]

            Beribu mahasiswa keluar dengan wajah bahagia. Kecuali aku yang biasa saja. Bagiku keramaian selalu memekakan pendengaranku. Membuatku tak mampu mendengar suara-suara hati yang barangkali mampu kuterima dalam keheningan.

            Gadis itu, tetap berdiri di tempatnya. Melihat adegan singkat seorang pemuda yang membawa kawan-kawan mahasiswa dan keluarganya, semacam berorasi mengumandangkan perasaannya terhadap perempuan yang juga sedang memakai toga bersama orangtuanya kala itu. Membawa banyak bunga, dan seperti kebanyakan adegan mainstream di film-film negeri ini, sepanduk besar bertuliskan “will you marry me?” sudah terpampang jelas bahkan dari radius tempatku berdiri. Hahh.. Tidak kreatif.

            Wajah yang nampak malu-malu, menurutku adalah bahasa penerimaan yang perempuan itu miliki. Baiklah, Mission complited.

            Dan, gadis yang masih terpatung beberapa meter dari tempat adegan itu berlangsung, memutuskan untuk berjalan mundur, cepat. Aku menduga: tatapannya kosong. Dan jalan cepatnya semakin mendekatiku. Brakkkk... “Maafkan aku, aku tidak sengaja,”ucapnya yang tidak sengaja menabrakku. Aku tahu dia tidak melihat jalan.

            “Iya, tidak masalah. Ada yang bia kulakukan untukmu?”aku berkata seolah ia tak pernah mengenalku.

            “Tidak,”ucapnya sambil berusaha bangun. Maafkan aku yang tidak bisa membantumu berdiri. Menyentuhmu berarti merendahkanmu.

            “Terimakasih,”ucapnya ingin segera pergi. Aku bahkan tidak megerti kau berterimakasih untuk apa.

“Kotaknya?”teriakku.

            “Ambil saja untukmu. Atau buang saja,”ucapnya terus berjalan tanpa menoleh lagi ke arahku.

            “Ra...”semoga dia menyadari panggilanku, pertanda aku mengenalnya. Tidak juga. Dia tetap saja berjalan tanpa mengindahkan panggilanku.

***              

            “Syaila....”ucap Ra bahagia melihat iring-iringan wisudawan dari kejauhan.

            Untuk sepersekian detik, ia mulai menyadari apa yang terjadi. Ada Ali disana, dan Syaila. Dengan spanduk “Will you marry me” yang dibawakan teman-teman Ali. Ia berjalan mundur dan segera berlari sekuat yang ia bisa. Menabrak apapun yang menghalangi pelariannya itu.

            Sesegera mungkin ia mencari angkutan umum yang bersedia membawanya pergi menjauh. Benar-benar jauh. Kalau perlu membawa juga hatinya yang sudah berceceran. Gaun terbaik yang ia pakai, mendadak lusuh dan memudar karena sang empunya menerjunkan kristal-kristal bening tanpa suara, dari matanya. Aduhai, betapa nelangsa seseorang yang harpannya terlalu dalam, terlalu jauh. Hingga membuatnya terjerembab sangat dalam, atau pula tersesat sangat jauh.

Ummi, Ra pamit mau ke Jogja.

     Maafkan Ra yang tidak pulang dulu,

     Ra mau mendirikan butik busana muslim disana, di tempat Ayah.

     Doakan Ra Mi,

     Putri yang katamu tercantik, tapi entahlah

     Ra.

     Sent. Ayah dan Umminya bercerai karena suatu alasan. Ra berangkat dengan tangan kosong, namun tenaganya ter-multiplier effect berkali-kali lipat. Ia tak ingin patah dengan konyol. Ra masih sama, ia bahkan belum memikirkan apa yang pertama harus ia lakukan ketika sudah sampai disana. Yang ia tahu, keperluannya saat itu hanya menjauh, sejauh orang-orang itu tak mampu lagi menemukannnya.

***          

            “Ra.. Ini sudah dua tahun semenjak peristiwa itu. Dan kau hanya bersembunyi disini, berkedok mengurus butikmu itu,”ucap laki-laki itu tidak tahan. Sedari tadi ia hanya mendengarkan gadis itu berisak seperti dukanya selama ini tertumpah ruah di kursi itu.

            “Aku tahu, setelah kau pergi semuanya memang terjadi. Syaila dan Ali memang menikah beberapa bulan kemudian. Kau bukannya menerim undangannya pula?”

            “Siapa Kau?”perempuan itu sedikit marah, namun tetap menjaga wibawanya. Tak sedikitpun kursi itu bergeser.

            “Sudah kuduga, kau pasti melupakanku,”

            “Siapa?”

            “Ini tisu untukmu, hapuslah dulu air matamu itu. Setahuku dulu kau juga begini. Hanya beda obyek yang kau hapus saja. Ingus. Haha. Dan ini kotak yang waktu itu kau jatuhkan, mungkin sebagai ganti sekotak brownies yang Ummimu berikan dulu. Aku mengembalikannya, dan sekaligus membalas suratnya.”

            Laki-laki itu kemudian berlalu begitu saja. Membuka pintu ruangan yang sedari tadi rapat tertutup, dan keluar. Untuk beberapa degup kemudian, Kejora teringat.

            “Cyva?”

            Ahh.. ia memutar kursi pada waktu yang terlambat. Kotak itu, kotak yang dua tahun lalu ia persiapkan dengan sempurna.

            Assalamualaykum Kejora,

            Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Hatimu masih remuk kan? Bodohnya kau, menyimpan remukmu itu sendirian. Bahkan Ummimu yang dulu kau ceritai tentang ingusmu tidak kau beritahu juga. Syaila mencarimu, dia mampir ke rumahku untuk menitipkan surat undangan pernikahannya dengan Ali. Ah, barangkali kau seperti Fatimah putri Rasululullah yang konon memendam perasaanya sejak kecil kepada Ali. Tapi Ali bukan Ali bin Abi Thalib yang memendam perasaan yang sama. Aku jahat ya berkata seperti ini? Ah sudahlah aku tidak boleh membiarkanmu mengingat peistiwa itu lagi.

            Kejora, ketika kau memendam perasaanmu dan sempat menundanya kepada Ali selama enam setengah tahun, dan tidak ada yang tahu bahkan Syailamu itu sekalipun, aku bahkan mampu melakukannya lebih lama. Semenjak brownies buatan Ummimu itu kau antarkan dengan tawa riangmu yang aku tidak pernah punya.

            Aku kagum kepadamu yang bisa menghapus Ali untuk empat tahun setelah hijrahmu ke Jakarta. Aku bahkan ingin kau melakukannya lagi, saat ini. Aku iri, bahwa surat pertamamu untuk Ali. Dan kau berbohong soal diksimu yang carut marut, aku tahu. Tentang menjadi kebanggaan ibunya, senangkah kau jika ibuku lebih bangga memilikimu daripada ibunya? Aku juga tidak rela, jika kau hanya menjadi bintang diantara banyak bintang di langit Ali. Aku bisa memberimu langitku, dan kau jadi satu-satunya rembulan disana.

            Kejora, kau memang sudah menghimpun seluruh amunisimu untuk menyampaikan semuanya kepada Ali. Dan sekarang, semoga tidak ada lagi hasrat untuk itu. Aku mencarimu setelah kepergianmu kala itu. Aku pulang ke kampung kita, untuk di pagi hari membuka jendela, dan berharap  menemukanmu menyapu pelataran rumahmu, sama seperti beberapa tahun yang lalu. Tapi aku hanya mendapati Ummimu. Aku enggan bertanya tentang keberadaanmu; takut dikira mengharapkanmu. Padahal barangkali iya.

            Apa benar lukamu masih basah? Hingga kau begitu pemilih. Kudengar Ayahmu sampai mengadakan sayembara. Siapa saja boleh mendaftarkan proposalnya; untuk melamarmu.Tapi semuanya kau tolak. Apakah aku termasuk yang tertolak?

            Maaf atas segala ketidakberdayaanku untuk mengatakan ini secara langsung. Surat keduamu untuk Ali sungguh menyakitkanku. Bukan karena aku tahu kau sangat memimpikan Ali, tapi karena pada akhirnya kau harus terluka. Dan aku tetap tak bisa berbuat apa-apa. Tentang kalimat terakhirmu “semoga kita berjodoh” kuharap juga seperti itu. Bukan dengan Ali, denganku saja.

            Pikirkanlah dulu, kirimkan lagi kotaknya jika kau menerimaku.

            Aku Cyva, lelaki pendiam yang Ummimu bilang bernama cantik, tetanggamu juga. 

 

           p.s: this shortstory has also been posted on www.uniknunik.wordpress.com


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Cerita pendek tentang romansa dalam balutan yang memukau. Alur dibuat maju mundur sehingga berhasil membuat pembaca penasaran sehingga membaca hingga baris terakhir. Penulis juga piawai menempatkan fragmen kisah secara acak. Cerpen ini menghadirkan banyak spektrum mengambil rentang waktu panjang seiring dengan masa kuliah Kejora dan Syaila. Perjalanan cinta keduanya, terutama Kejora, mengalami pendewasaan dengan sendirinya. Akhir kisah, yang bisa dibilang indah, menjadi tidak terkesan lebay mengingat penantian panjang yang dialami oleh Kejora dan kekecewaan yang ia alami sebelum akhirnya bertemu lagi dengan pria yang selama ini mengaguminya, Cyva. Betapa jodoh sebenarnya sangat dekat dan akan kembali betapa pun Kejora menanti dan mengharapkan Ali, yang justru berjodoh dengan sahabatnya, Sya.. Luar biasa, Nunik!

  • Oshima 
    Oshima 
    9 bulan yang lalu.
    Keren

  • Nur Aini  Amalia
    Nur Aini  Amalia
    1 tahun yang lalu.
    ???????????? sedih tapi endingnya bahagia ????

  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    Nice . . . .

  • Lupy Agustina
    Lupy Agustina
    1 tahun yang lalu.
    "Aku enggan bertanya tentang keberadaanmu; takut dikira mengharapkanmu. Padahal barangkali iya."
    Sweet. :')