#PROSES

Nugroho Tri Wibowo
Karya Nugroho Tri Wibowo Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Desember 2017
#PROSES

#PROSES


Mungkin ini semua hanya karena waktu yang tidak tepat. Karena seharusnya perasaan itu tidak layak disimpan lama-lama, karena perihal perasaan tak selalu sebercanda itu...


Dengan nada menggigil, bibir bergetar. Aku sedang mengingat pertanyaanmu senja itu.

“Yuk, apa yang kamu kenang saat hujan turun?”
“Kenangan” Jawabku lirih.

Senja itu...
Aku memberanikan untuk bertanya padamu.
Aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan itu.
Aku hanya ingin sekedar bertukar cerita dengan waktumu yang singkat itu.
Aku ingin berkeluh tentang semua yang ku lakukan hari itu. Sayang~
Aku ingin seperti pasangan lain, bisa memiliki cukup waktu, walau hanya sekedar saling bertukar cerita, berbagi canda hingga kecupan bersama. tapi kali ini aku tak pernah mendengarkan secuilpun lagi ceritamu tentang harimu. Kita jauh.

Aku pernah berfikir, Selama kau jauh apa kau merindukan ku?
Atau mungkin juga sama, merindukanku tapi tidak ingin kasih mu tau.

Terbit dan tenggelamnya mentari membawa dirimu lebih dekat dengan ku. Kita begitu dekat, kita bertatap namun kau tak terlihat.

Apa aku sudah merasakan hal biasa untuk tidak menunggumu seperti ini.
Begitu banyak waktu yang ku buang sia-sia sayang.
Waktu dimana menunggu tidak semudah yang orang lain rasakan.
Aku menunggumu yang jauh
Menunggumu yang tanpa kabar
Menunggumu walau hanya sekedar bertatap
Menunggumu mengerti bahwa semua ini tidak menguntungkan untukku, tidak.
Karena mungkin kamu tidak merasakan darimana proses awal menunggu yang begitu jauh dari pandang mata, jauh dari hati.

Aku selalu mengartikan menunggu itu selalu menyenangkan.
Nyatanya ini selalu membuatku bosan dan jenuh. Memang.
Kita jauh...
Dan mungkin aku tidak yakin kamu lebih bosan dari yang ku rasakan disini.

Lantas saat ini aku lebih memilih untuk menikmati sepi, atau menjadi pencandu sunyi.


~


Menjatuhkan kemudian mempertahankan apakah selalu sebercanda ini.

Aku sudah berusaha untuk menyimpannya saja, tapi maaf aku tidak bisa.
Begini saja, singkat kukatakan aku mencintaimu.
Aku tidak bisa berhenti, kamu tidak sendiri, ada kasihmu yang sudah bersama denganmu. Aku juga wanita seperti dirinya, tentunya aku tahu bagaimana rasanya bila ada yang menginginkan kekasihku. Tapi sayang, aku tidak bisa memilih kepada siapa hatiku harus kujatuhkan, untuk seorang yang kini denganku atau untukmu yang entah proses macam apa selama bertahun-tahun hatiku menjatuhkan rasa padamu yang jauh.
Bagiku, mencintaimu adalah proses paling indah yang tidak pernah ku pahami bagaimana bisa terjadi.
Aku pikir ini hanya proses sementara yang akan berakhir secepatnya, tapi lagi-lagi aku hanya wanita bisa, aku tidak punya kendali penuh atas hatiku. Maka kunikmati waktu-waktu bersamamu, kunikmati segala kebahagianku yang bersumber darimu, senyummu dan canda tawamu, kesedihanmu dan amarahmu, lelahanmu dan semangatmu. Yang aku tahu hanya aku bahagia jika didekatmu, meskipun hanya didekatmu, tidak dihatimu.

Jika nanti aku menjadi orang yang sangat menyebalkan, tidak menyenangkan, masihkah kau bersamaku?
Kita tidak tahu proses di depan, tergantung dalam ketidak mampuan membaca pikiran dan perasaanmu.


~


Apakah proses mencintai selalu menarik.

Tentang sayang, cinta, kebahagiaan, dan pengorbanan. Sampai sekarang aku tidak pernah mengerti secara utuh tentang itu semua. Aku hanya mencoba untuk terus memahaminya.
Mencintai dalam satu paket, kelebihan dan kekurangan. Bukankah tidak ada manusia yang hanya memiliki sisi baik, pun sebaliknya.
Menerima cinta secara utuh, menempatkan sesuai porsi masing-masing, adalah sesuatu yang selalu aku coba lakukan. Aku sadar betul bahwa aku jauh dari kategori baik, itu mengapa aku tidak terlalu banyak menuntut hal baik darimu.
Mencintai seluruh proses hidupmu. Baik sebelum ataupun sesudah bersamaku. Aku percaya proses mengenal cinta adalah proses seumur hidup paling menyenagkan, menurutku.

Jika aku hanya mencintaimu karena kelebihanmu, maka kelak jika sudah habis segala kelebihanmu, aku akan meninggalkanmu? Tidak! aku tidak ingin seperti itu. Aku mencintai segala macam proses hidupmu. Suatu saat, ketika kelebihan-kelebihan kita tidak dalam perbedaan yang jauh, mungkin itu bukanlah masalah. Itu jika kita berdua sama-sama bersepakat untuk berjalan beriringan, berproses bersama, dengan segala apa yang ada di depan.

Tak ada perjalanan yang mudah, tapi selama kita melewati bersama, yakinlah kita bisa sampai pada tujuan yang kita tentukan bersama. Proses menyenangkan untuk hal yang lebih baik.

Semoga kamu memberi jalan padaku untuk mencintaimu secara utuh dan seluruh proses dalam hidupmu. Dan tak ada lagi proses kehidupan yang sendiri, yang ada hanya proses kehidupan bersama, kita berdua. Proses bersama yang tiada henti untuk saling menjaga agar tetap dalam jalan yang kita inginkan, jalan untuk menjadi lebih baik. Sayang.


~


Semua itu ?
Namun nyatanya saat ini yang sedang ku jalani adalah proses melupakanmu.

Melupakan menurutku lebih menyakitkan daripada hanya sekedar mencintai dalam diam, karena melupakan adalah pekerjaan tolak menolak antara hati dan kenyataan. 

Kadang hati selalu berusaha menolak kenyataan, bahwa memang sudah waktunya untuk melupakan yang artinya melepaskan, merelakan, mengorbankan, meninggalkan semuanya. 

Itu mengapa orang-orang menulis, memotret, merekam video demi menyimpan sesuatu. untuk mengingat! untuk mencoba tidak kehilangan sesuatu yang berharga.

Banyak orang berkata jangan pernah bilang melupakan dan berusaha melupakan karena akan semakin sulit menjalaninya jika kita tau itu adalah proses melupakan. Akhirnya saat semua orang mengatakan bahwa aku harus melupakan dirinya, disaat semua orang memberi banyak alasan bahwa ini sudah saatnya aku melupakan seseorang yang tidak mempedulikan diriku dan perasaanku sedikit pun. Aku mulai menyadari sesuatu yang hilang.

Aku selalu berusaha menutupi kenyataan dengan alasan rasa dalam hatiku untuk tetap menunggu dirinya, untuk tetap berjuang demi dirinya, berusaha untuk mendapat kesempatan. Namun sekeras apapun kita berusaha jika tidak ada timbal balik rasa, maka semua usaha yang kita lalukan akan tetap menjadi sia.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk melupakanmu. Hari ini, saat ini aku akan melepaskan, merelakan lebih tepatnya. Aku berharap agar suatu hari nanti kamu dapat mengetahui bahwa perasaan ini nyata dan sulit berjuang untuk melepaskan.
Perasaan yang tidak pernah sebercanda dalam fikirmu selama ini.

Namun aku melepaskan bukan berarti melupakan pula segala kenangan harapan tentangmu, namun menyimpan dengan baik menjadi ingatan yang indah.

Terimakasih telah mengisi ruang dihati, senyummu, candamu, kecupmu, pelukmu adalah satu yang indah. Meskipun aku hanya merasa dari jauh namun aku mengetahui semua itu sebagian yang nyata tentang dirimu.

Aku pernah melihat tali sepatumu terlepas, tapi bodohnya aku tidak pernah mengikatkanya kembali.
Atau mungkin kebodohanku membelaku.
Mungkin kelak kamu dengan sengaja akan melepasnya.
Dan untuk ke esokannya bukan aku lagi yang mengikatkannya.

Karena pada akhirnya proses yang dapat menyatukan juga memisahkan. Saat ini kau dengannya, aku dengan dia. Akhir yang entah seperti apa. Banyak harap semoga kita bersatu.

2017 akan berlalu, 2018 segera datang, apa ada yang kurang ?
Jatuh hati? Kita bisa apa? Tuhan yang memilih, kita hanyalah korban, kecewa itu proses, dan bahagia itu harus.
Salam untuk harimu, semoga ia menyenangkan.










PROSES - Nugroho tri wibowo - Ayuk fanika
Surabaya, 31 Desember 2017.