Dalam diam

Nugroho Tri Wibowo
Karya Nugroho Tri Wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Mei 2017
Dalam diam

Aku pernah mencoba dengan dia yang salah. Aku pernah gagal menjelajahi labirin hatinya sampai kehilangan arah.
Tapi bukankah setiap pagi selalu menawarkan kesempatan baru? Bukankah setiap orang berhak atas perjalanan yang lebih menjanjikan untuk dijalani kembali? Bukankah senja selalu menutup hari dengan keindahan?
Demimu, aku rela menunggu. Demimu, aku bersabar memantaskan diri.

Untukmu yang sedang berjuang menahan diri
Apa kabar dirimu? Jika bisa, rasanya ingin kutawarkan tempat duduk di sisiku khusus untukmu. Ingin kupandang wajahmu lekat-lekat lalu bertanya,
“Beratkah hari-harimu belakangan ini? Cukup menyenangkan kah rutinitas yang sedang kau jalani? Atau kau masih berkutat dengan teori dan buku yang membuatmu terjaga sampai larut pagi?”
Harapanku, semoga kamu dan kehidupanmu di sana berjalan tanpa gangguan yang berarti. Doaku tak putus-putus untukmu kukirim dari sini.

Seandainya sekarang kita sudah bisa berjumpa, ingin kuceritakan semua rasa yang sudah sekian lama mengendap di udara. Melihat kuatnya hasratku bercerita, tampaknya kelak pertemuan kita akan lebih mirip reuni dua sahabat lama dibanding pertemuan dua orang yang sedang jatuh cinta.
Sampai hari itu tiba, kumohon sabarkanlah hatimu, yakinlah ia akan segera ada di hadapan mata.

Padamu, yang kuyakini telah ditakdirkan namun tetap perlu diperjuangkan.
Kamu memang telah ditakdirkan, namun tetap butuh diperjuangkan.
Kita adalah dua manusia yang sebenarnya berjuang di tempat dan keadaan yang sama, hanya saja dari dua tempat berbeda, Kau berjuang menjaga mata, aku di sini mencoba sekuat tenaga membentengi hati sampai kau tiba.

Maka Sayang, jangan pula kau keluhkan keterbatasanmu. Memang benar, aku sering diejek tidak laki-laki karena tak kunjung menyampaikan perasaanku. Tak jarang juga aku diberi label “jomblo abadi” sebab hidupku nihil wanita yang mendampingi. Sesekali merasa tak nyaman itu wajar, tapi aku tidak pernah menyalahkan orang-orang di sekitarku dan mengutuk keadaan. Mereka hanya belum paham apa yang sesungguhnya sedang aku perjuangkan.
Bukan penjelasan panjang lebar yang bisa menyelamatkan. Orang-orang itu hanya butuh melihat kegigihan dan keyakinanku.

Bahwa semua perasaan yang belum kita luapkan ini akan menemui muaranya. Menjumpai akhir yang kita tunggu sebagai pesta perayaan.
Jika menahan diri untuk tidak membuka hati pada sembarang orang adalah puasa, berjumpa denganmu jadi momen berbuka yang telah ditunggu sekian lama.

Saat pertemuan itu terjadi, kita akan saling menatap dengan penuh isyarat. Mata kita bertaut merayakan keindahan bahagia. Kita dua orang yang sama-sama keras kepala berjuang demi akhir yang sebenarnya belum bisa diperkirakan. Kita sepasang cinta yang dipertemukan tanpa proses pendekatan, kau dan aku sepasang manusia yang lekat tanpa pernah harus berpelukan.
Tak perlu khawatir Sayang seburuk apapun dirimu tangan ini akan tetap terbuka. Dulu aku pun pernah jadi versi brengsek dari seorang manusia.

Datanglah padaku dengan apa adanya, kau tak perlu harus sangat cantik, atau punya kesabaran tanpa batasan demi menjadikanku pasangan. Sungguh, versi ideal macam itu tak begitu penting di mataku.
Aku pun tak akan repot bertanya berapa banyak hati yang sempat kau lewati sebelum diriku. Buat apa? Toh tanpa mereka, kau yang sebaik hari ini juga tak akan ada, walau kadang cemburu, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk berdamai dengan masa lalumu.
Bagiku, cukuplah kamu yang muncul di depan pintu sembari berkata,
“Aku sudah selesai dengan diriku. Sekarang aku ingin menjalani hidup bersamamu.”, kata-kata sederhana macam ini sudah cukup menghangatkan hati.

Aku juga bukan manusia sempurna, dulu aku sempat menjelma jadi versi brengsek seorang manusia. Aku pernah menyakiti orang-orang yang menyayangiku tanpa syarat, aku pernah melakukan kebodohan dengan menyerahkan hati pada orang yang salah. Dalam beberapa kesempatan, air mataku sempat menetes karena menangisi kehilangan yang teramat hilang.

Kau bisa menemukan tweets di twitterku yang penuh kata-kata puitis nan galau. Jika menggali postingan lama blog-ku akan kau temukan aku yang sempat mencintai orang lain sedaalam itu. Tak perlu cemburu. Aku yang kini sudah selesai dengan romantisme picisan semacam itu.

Mungkin gagal dan sakit memang membentuk kita jadi penyintas yang rela mengakrabi sepi. Atau bisa jadi, rasa lelah karena terus-menerus gagal menjadikan kita malas membuka hati demi dia yang tidak pasti.

Setiap rasa sepi dan sendiri itu menyeruak, selalu ingatlah kau tak sendiri, kita sejatinya sedang bergumul di satu garis emosi.
Saat kau peluk gulingmu erat-erat, aku pun sedang sibuk berharap bisa tidur nyaman di atas bahumu cepat-cepat.

Jarimu berteriak butuh genggaman. Pinggangku menjerit ingin direngkuh saat menyeberang jalan. Kita berharap segera saling menemukan.
Tapi bukankah hal-hal baik selalu membutuhkan waktu tunggu? Antre dokter saja kita rela menanti berjam-jam. Memalukan ‘kan jika cinta justru kita harap datang tanpa proses panjang?

Bersabarlah, hingga kita bertemu di masa yang paling tepat, sebelum tiba waktunya kita ditakdirkan untuk saling menemukan, kau dan aku hanya harus menambah tabungan ketabahan.
Hidup terlalu singkat untuk terus-menerus mengeluhkan kesepian. Hatimu terlalu berharga jika diisi dengan kesibukan untuk mengurusi cinta yang hanya sementara.

Setiap kau merasa sendiri dan tak ada yang mendampingi, ingatlah padaku. Seseorang yang belum pernah kau temui. Manusia keras kepala yang kata orang punya imajinasi liar dan gila karena rela mati-matian menjaga diri agar pantas menyandingmu yang entah kapan datangnya.
Tidakkah fakta ini harusnya membuatmu merasa punya rekan?
Aku mendampingimu dalam diam. Selang sedetik pun kau tak pernah sendirian.

Salam sayang jauh dariku,
Seseorang yang tak pernah lelah berjuang memantaskan diri untukmu.
Dalam diam doa ini selalu ada untukmu sayang.

 untukmu yang entah siapa....

 

 

 

 

Jakarta, 27 Mei 2017 - Dalam diam ( Nugroho tri wibowo )
Untuk wanita penikmat bunga dari pria pengagum senja