RINDU

Nugroho Tri Wibowo
Karya Nugroho Tri Wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Januari 2017
RINDU

Namun semuanya memang tidak mudah, ketika rindu hanya dapat dipendam, tanpa berani mengungkap terlebih bertatap.

Pagi ini kulihat embun masih tegar menampak di kaca jendela kamar. Semalam hujan telah meninggalkan sisa embun sendiri. Hujan berkata, besok pagi dia akan kembali menemani embun. Namun, hingga embun menghilang sekalipun hujan tak kunjung datang menghampiri.

Berbeda denganku, setiap hari aku masih saja berdiri di depan pintu kenangan. Berharap pintu itu terbuka kembali dan aku bisa mengulang kenangan itu kembali. Namun hingga saat ini pun pintu tak kunjung terbuka. Aku memberontak, mengutuk diriku sendiri yang masih saja mengharap berkumpul dengan kenangan. Menanti sesuatu yang tidak pasti. Seseorang yang selalu ada dalam hela nafas. Sulit untuk berhenti mengingat senyum itu, senyum yang teramat lara. Seakan menyatu dalam darah yang dialirkan hati menuju otakku.

Tentu aku marah pada diriku sendiri. Aku marah pada hati dan pikiranku yang membiarkan rindu tinggal berlama-lama dalam diri.

Saat hati ingin mengusir rindu, namun pikiran enggan melepas rindu, saat pikiran akan melepas rindu, hati malah tak tega melepasnya. Akan terus seperti itu, hingga titik jenuh pun masih menjadi misteri.

Terkadang aku malu pada embun yang seolah menertawakanku setiap pagi. Seakan kudengar embun berkata "Mengapa masih kau sembunyikan rindu dibawah selimutmu? Bangunlah manis, langit begitu cerah hari ini. Kau bisa menitipkan rindu pada kicau burung."

Seketika kurasa ada sedikit semangat mengalir dalam rindu ini. Aku bangkit dan menarik rindu, lalu kutitipkan ia pada kicau burung. Berharap kicau burung akan mengantarnya pada orang yang kurindu.

Namun, sepertinya kicau burung membawa kabar luka. Kulihat dari kejauhan, wajahnya merunduk, murung, tak berbelas menghampiriku. Dia masih menggenggam erat rindu yang kutitip. Aku tak bisa menahan rasa penasaranku. Aku bertanya pada kicau burung, "Wahai kicau burung, mengapa wajahmu begitu murung? Mengapa rindu masih bersamamu?"

Kicau burung pun tiba-tiba menangis, di sela tangisnya kicau burung berkata bahwa orang yang kurindu tidak menginginkan rindu. Dia telah membuang rindu dari hidupnya dan dia juga telah membuang kunci dari pintu kenangan yang kutunggu selama ini.

Aku tak akan pernah bisa lagi bermain bersama kenangan. Bernostalgia dengan daun kering yang jatuh ditiup angin sewaktu senja. Hanya ada rindu di sini. Rindu yang harus kupeluk erat di setiap rinduku.

Haruskah kusalahkan rindu ?

Atau rasa rinduku saja yang teramat berlebih padamu ?

Harusnya aku belajar banyak pada embun yang tak lagi menanti hujan. Embun yang enggan berlama-lama menunggu hujan yang tak pasti. Dan kini kubiarkan rindu menetap dalam jiwaku. Hingga rindu melebur lalu hilang.

Tidak aku.
Tidak kamu.
Tidak waktu.
Tidak rindu....





Jakarta, 18 Januari 2017. RINDU ( Nugroho tri wibowo )