Sepasang kertas putih

Nugroho Tri Wibowo
Karya Nugroho Tri Wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Desember 2016
Sepasang kertas putih

Kita adalah Sepasang kertas putih dalam cerita yang ditulis oleh penulis tua itu. Penulis yang hidupnya selalu sepi dan selalu dilanda kesedihan, yang kita tahu sejak cerita tentang kita mulai ditulis, kita tidak tahu pasti apa yang menyebabkan ia kesepian dan selalu merasa sedih dalam hidupnya. Mungkin kesedihannya disebabkan oleh foto yang kini tergeletak di atas meja kerjanya. Foto seorang wanita berambut lurus yang tengah tersenyum, menggunakan gaun putih seperti dalam pesta ulang tahun dan membawa bunga mawar dengan anggun.

 

Setiap pagi, ketika penulis tua itu terbangun dari tidurnya, ia akan menghampiri foto itu. Ia akan memandangi foto itu lekat-lekat dari ujung rambutnya, kemudian akan berhenti pada senyumnya, hingga akhirnya penulis tua itu akan tersenyum lalu meneteskan air mata. Sesekali, ia juga akan memeluk foto itu seperti seorang ayah memeluk anaknya, atau lebih tepatnya seorang suami memeluk istrinya. Tersenyum lalu meneteskan air mata.

 

Kita tidak pernah mengerti benar, bagaimana sebuah foto bisa membuat seseorang merasa kesepian ataupun bersedih.

 

Merasa iba dengan nasib penulis tua itu, kita berniat untuk menghiburnya agar ia tidak kesepian atau bersedih lagi. Lalu kita membayangkan diri kita sebagai sesosok makhluk yang jenaka seperti badut misalnya, dengan hidung besar berwarna merah, dan muka yang menggemaskan.

Lalu di depannya kita akan membuat sebuah pertunjukan sirkus yang tidak terlalu serius tetapi jenaka. Dan kita membayangkannya ketika penulis tua itu tertidur pulas setelah sebelumnya ia menangis karena foto wanita didalam bingkai itu.

 

Namun, akhirnya kita sadar bahwa kita masih terkurung dalam cerita yang dibuat oleh penulis tua itu. Akupun sedih bukan main karena tidak bisa membantu penulis tua itu, dan kenapa pula penulis itu menciptakan kita sebagai Sepasang kertas putih dan bukan sepasang badut yang jenaka, atau sepasang pesulap lucu dan pemain sirkus.

Andaikan penulis itu bisa secepatnya menyelesaikan kisah kita, mungkin ia akan menulis kita dalam tokoh cerita lain, dan kita berharap itu adalah cerita yang jenaka, dengan tokoh kita sebagai sepasang badut, atau apa saja yang dapat membuat penulis tua itu bahagia.

 

Pada suatu pagi, di hari minggu yang cerah, untuk pertama kalinya kita melihat penulis tua itu tertawa setelah ia berbicara dengan seseorang lewat telepon. Kita berpikir ia mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dari seseorang yang meneleponnya, dan hal itu membuat ia melupakan kesedihannya.

 

”Sayang, hari ini tulisanku dimuat di media nasional yang aku impikan dari sejak awal aku mulai menulis. Dan siang nanti aku akan dikirimi bukti terbitnya, dan seminggu lagi tukang pos akan datang mengetuk pintu rumah kita membawa honor tulisanku. Aku bahagia sekali hari ini sayangku.”

 

Kita melihat ia mengelus foto wanita dalam bingkai, tawanya hilang lalu berganti air mata.

 

”Andai saja kau ada di sini bersamaku, pasti kau akan ikut bahagia. Kau akan meloncat-loncat seperti anak kecil, lalu kau akan mengajakku keluar untuk jalan-jalan dan pasti aku akan mentraktirmu makan di kedai es krim sebrang jalan rumah ini.”

 

Penulis tua itu kembali tenggelam dalam kesedihannya. Kita ikut terseret dalam kesedihan, dan aku melihat matamu berkaca-kaca yang membuat mataku juga ikut berkaca-kaca. Betapa kesedihan selalu berteman air mata.

 

Jam sebelas limabelas, seseorang mengetuk pintu rumahnya, dan ia cepat-cepat menghapus air matanya degan lengan bajunya, lalu bergegas mendekati pintu rumahnya. Di depan pintu ia mendapati seorang tukang pos telah berdiri dan menyodorkan sebuah koran nasional yang memuat tulisannya. Setelah menemukan halaman yang memuat tulisannya, dan menghempaskan lembaran koran lainnya yang ia anggap tidak penting, ia kembali mendekati foto itu.

 

”Lihat, ini dia korannya! Aku sudah menerimanya. Aku bahagia. Kau juga harus ikut bahagia di sana melihatku bahagia. Kau juga harus ikut tertawa seperti aku hari ini.”

 

Ia terus saja berkata dengan nada yang menggebu-gebu dan penuh kegirangan walaupun foto itu tak pernah mengucapkan kata ”selamat” pun kepadanya, hingga akhirnya ia kelelahan dan tertidur di atas meja menindih koran yang memuat tulisannya.

 

Saat terbangun lalu ia pergi meninggalkan cerita tentang kita sepasang Kertas putih dan foto yang biasa ia pandangi dengan raut wajah yang kesal.

 

Ia menendang kursi, kaleng bekas minuman, botol-botol bekas air mineral, dan meja kerjanya, hingga foto itu terjatuh dan kacanya pecah setelah menghantam lantai. Lalu ia melemparkan koran yang memuat tulisannya ke lantai dan menginjaknya. Kita begitu waswas kalau penulis tua itu melemparkan tulisan tentang kita yang ada di atas meja kerjanya lalu menginjak-injaknya sebagaimana yang ia lakukan pada koran yang memuat tulisannya.

 

Esok paginya, setelah ia sadar dan mendapati foto wanita itu tergeletak di lantai dengan bingkai yang berantakan, ia mencabut foto itu dari bingkainya lalu mendekapnya erat-erat dengan tanpa henti air matanya terus menetes. Dan kesedihannya semakin menjadi-jadi ketika ia mendapati koran yang memuat tulisannya telah kotor dan rusak olehnya.

 

Kita hanya menjadi penonton dan kembali ikut tenggelam dalam kesedihan. Kita mengutuki kesedihan-kesedihan itu sebagai sesuatu yang lebih menyakitkan dari kehilangan. Dan dalam kesedihan itu, kita berharap pengarang tua itu segera menyelesaikan cerita tentang kita, Sepasang kertas putih dan kembali menulis cerita yang baru dengan tokoh sepasang badut yang jenaka.

 

Kadang-kadang sesuatu yang kita inginkan bisa saja menjadi kenyataan. Terbukti, di suatu pagi yang mendung setelah sekian lama ia tenggelam dalam kesedihan karena selembar foto, penulis tua itu kembali menulis dan melanjutkan cerita tentang kita. Harapan kita agar penulis tua itu menulis cerita yang baru dengan tokoh sepasang badut yang jenaka sedikit demi sedikit akan menuju pada kenyataan. Walaupun apa yang kita harapkan belum tentu menjadi kenyataan.

 

Kita selalu berharap sesuatu yang terbaik untuk penulis tua itu, tetapi kita tak pernah berpikir tentang nasib kita dalam cerita yang sedang ditulisnya. Penulis tua itu menceritakan kau lusu diremas oleh seorang penyair puisi saat kita sedang asyik berdua di sebuah buku usang sambil bercakap-cakap tentang masa depan yang bahagia. Badanmu remuk, dan tubuhmu meluncur ke arah lantai. Aku menyusul tubuhmu yang meluncur tanpa kendali. Aku tak tahu harus melakukan apa saat itu, aku hanya bisa menatapmu. Saat itu aku ingin menyusulmu dan membawamu ke tempat yang jauh dan mengobati lukamu sambil berharap kau utuh lagi, atau membisikan diri pada penyair itu agar aku diremas dan segera menyusulmu, atau melawan penyair itu dengan segenap tenagaku? Tetapi cerita berkehendak lain. Isi kepala pengarang tua itu berbeda dengan isi kepalaku. Dia malah menceritakan aku menangis tersedu-sedu di samping tubuhmu yang lusu tanpa melakukan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar menangis. Saat penyair itu meremasmu, ia malah menceritakan aku hanya diam bergerak tertiup angin. Betapa bodohnya penulis yang selalu bersedih karena selembar foto itu. Kenapa ia tidak menceritakan kalau aku hancur bersamamu diremas penyair itu.

 

Setelah kepergianmu, penulis tua itu menceritakan diriku dikirim kedalam amplop yang sepi dan pergi hilang jauh darimu. Di sana aku semakin tenggelam dalam kesedihan dan menyesal telah meninggalkanmu dan membiarkan penyair itu meremas habis tubuhmu menjadi kertas yang tidak berguna baginya. Sungguh penulis yang bodoh.

 

Penulis tua itu malah meninggalkan cerita tentangku begitu saja. Ia berubah menjadi pemurung dan tubuhnya semakin ceking. Kemudian disusul dengan batuk yang seirama gonggongan anjing, dan ia menghabiskan hari-harinya di atas tempat tidur.

 

Hingga akhirnya penulis tua itu tak pernah beranjak lagi dari tempat tidurnya, yang kemudian disusul dengan bau busuk yang menguar di seluruh ruangan. Suatu sore orang-orang masuk ke kamar itu setelah bersusah-payah mendobrak pintu dan mendapati tubuh ceking penulis tua itu telah dimakan ulat.

 

Sepeninggal penulis tua itu, aku benar-benar kesepian dan selalu berharap ada seseorang yang menemukan cerita ini dan membebaskan aku dari kesedihan. Karena setelah kematian penulis tua itu, tidak ada seorang pun yang datang ke rumah ini, selain seekor anjing borok yang selalu berteduh ketika hujan.

 

Suatu hari tiba-tiba tebersit dalam pikiranku bahwa kisah kita adalah kisah hidup penulis tua itu yang ditulisnya dengan tokoh sepasang kertas putih.  

 

 

 

 

 

  • Jakarta, 27 Desember 2016. Sepasang kertas putih ( Nugroho Tri Wibowo )

  • view 214