SENYUM LARA

Nugroho Tri Wibowo
Karya Nugroho Tri Wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Oktober 2016
SENYUM LARA

Senyum...

Lara....

 

Hujan, seperti biasa awan kelam, halilintar bercumbu dengan mesranya, dingin menghinggapi disekujur tubuh, basah bermain ria tak berbendung.

Kenapa kenangan akan dirinya selalu hadir disaat hujan menghampiri bumi? Apa mungkin aku menyimpan kenangan di balik awan mendung itu.

Sesak rasanya jika harus memaksakan untuk mengenang, sakit tak terbayang.

Memang ini opini cinta yang terkesan indah tapi pada kenyataannya kelam, mungkin lebih kelam dari awan pekat hitam dan halilintar yang memaksakan untuk menghibur dengan suara merdunya dan sesekali sembari memberi cahaya.

Apakah sakit hati bisa menjadikan kita lebih mengerti apa itu kasih dan sayang.

Kasih sayang itu seharusnya dilakukan dengan kasih beserta sayang bukan dengan lara yang teramat lara.

Bukan menjadikan hati sebagai tempat sandaran sesaat ketika sedang tidak bersama hati yang lain.

Bukan menjanjikan Anggrek sebagai hiasan kepala indah malah Lebah hidup yang sedang terancam kau dengan sengaja menaruh diatas kepala.

Cinta itu bukan hanya kau jadikan penghias pengucap salam, sapa, serta sayang di layar handphonemu tapi memang seharusnya kau jadikan penghias didalam kamar dan rumah kecil sederhana yang kau dan aku bangun bersama setelah semua bahkan ribuan malaikat menjadi saksi mengikhlaskan kita untuk saling menjaga.

Tapi nyatanya apa yang kau perbuat sekarang sayang...

Angin berhembus bercabang tak karuan, seolah rinduku berbuah lara.

Apa kau ingin bertanggung jawab akan semua lara ini?

Ahh itu hanya bualanku saja, dan pertanyaan bodoh yang kulontarkan kearah cermin kusam di pojok itu.

Apa kau ingat mawar yang kau beri itu selalu ku genggam erat hingga sampai saat ini dan tidak sempat kusadari duri mawar indah itu sudah memberikan luka yang teramat perih.

Sekarang semuanya telah berlalu, apa kau masih belum sadar sayang....

Nikmat bukan cinta yang kau perjuangkan berada didekapmu, namun cinta yang memperjuangkanmu hancur tak berkeping berantakan terserak sapu jalanan.

Apa bisa kau bayangkan?

Apa kau bisa melihat air mata dan senyum ini ? Sayang ini nampak jelas terlihat...

Ketika semua berakhir, senyum yang lara mengikhlaskan semuanya terjadi...

Terimakasih atas pelajaran cambukan dan madu yang telah kau beri.

Semoga setiap tetes air yang berlinang di pipi ini dapat bercampur dengan ribuan tetes air yang menghampiri dengan lembut dari langit, ciptakan pelangi indah untukku.

Sekali lagi terimakasih sayang....

 

Salam sayang :)

 

 

Jakarta, 13 Oktober 2016 ( Senyum lara ) Nugroho Tri Wibowo