Survei Indo Barometer: Masyarakat Condong Memilih Prof Andalan

The Professor
Karya The Professor Kategori Politik
dipublikasikan 17 November 2017
Survei Indo Barometer: Masyarakat Condong Memilih Prof Andalan

Hasil Survei Indo Barometer Mayoritas Masyarakat Sulawesi Selatan Condong Memilih Prof Andalan

Cerita-cerita manis tentang keberhasilan Profesor Andalan, Nurdin Abdullah, terus jadi perbincangan yang tak habis-habisnya. Ia jadi buah bibir yang terus merekah di bumi Sulawesi Selatan. Bupati andalan. Profesor andalan. Penyulap Bantaeng. Perpaduan ilmuan dan pemimpin. Semua itu terus terdengar dan seakan membayangi hingga (semoga ditakdirkan) menjadi pelayan bagi rakyat Sulawesi Selatan.

Belum seminggu kebahagiaan dari acara pengukuhannya sebagai Guru Besar di Universitas Hasanuddin yang dibanjiri dengan ucapan pujian dan kekaguman dari orang-orang mulai dari Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan pejabat negara lainnya. Belum seminggu kebahagiaan dari orasi ilmiah yang berhasil membuat tiga guru besar Unhas lainnya berdecak kagum atas wujud pengabdiannya atas Bantaeng dengan ilmu pengetahuannya. Cerita kebahagian yang lain lagi kembali menghampiri bumi Sulawesi Selatan.

Cerita kali ini datang dari Lembaga Survei Indo Barometer. Lembaga survei yang dipimpin Muhammad Qodari ini baru saja merilis hasil survei tentang pasangan bakal calon gubernur Sulawesi di Pemilu Gubernur Sulawesi Selatan 2018 di Hotel Clarion, Jalan AP Pettarani, Makassar (sulsel.pojoksatu).

Survei yang berlangsung selama 4 hari yang dimulai sejak tanggal 6 sampai 11 Nopember 2017 lalu menyebut nama pasangan dari Nurdin Abdullah – Andi Sudirman Sulaiman sebagai tertinggi mengungguli beberapa pasangan lainnya. Ada empat pasangan yang dibuat sebagai simulasi dalam riset ini: (1) Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS); (2) Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka); (3) Nurdin Halid-Abd. Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz); dan (4) Agus Arifin Numang-Aliyah Mustika Ilham (Agus AN-Aliyah).

Presentase keunggulan pasangan NA-ASS mencapai 26,0 persen. Itu angka yang cukup tinggi meninggalkan ketiga pasangan lainnya yang bertahan di angka 16,8 persen (pasangan IYL-Cakka), 11,6 persen (pasangan NH-Aziz), dan 5,4 persen (pasangan Agus AN-Aliyah). Sedangkan angka tidak menjawab atau menjawab tidak tahu masih sangat tinggi yakni 37 persen.

Indo Barometer menyebutkan bahwa naiknya secara tajam tingkat elektabilitas Profesor Nurdin Abdullah terjadi sejak Andi Sudirman Sulaiman terpilih mendampingi Nurdin Abdullah. Duet keduanya dianggap sebagai pasangan yang ideal dengan keistimewaan masing-masing yang melekat pada kedua pribadi ini. Misalnya, Nurdin Abdullah dianggap sebagai sosok atau figur birokrasi dan sekaligus akademisi teruji. Sedangkan pasangannya, ASS dipersepsi sebagai figur profesional dan sebagai anak muda yang cerdas (sulsel.pojoksatu).

Membaca Keunggulan Sang Profesor

Keunggulan ini tentu saja belum bisa dibaca sebagai indikasi kemenangan. Rentang waktu menuju pemilu masih terlalu lama. Seperti diakui oleh M. Qadari sendiri bahwa segala kemungkinan perubahan bisa saja terjadi. Alasan ini diperkuat oleh fakta bahwa angka yang tidak menjawab atau tidak tahu berada pada kisaran 37 persen. Angka itu memberi tanda bahwa semua pasangan calon masih terbuka untuk memperoleh keunggulan di beberapa survei berikutnya.

Tetapi survei ini juga bisa dibaca sebagai indikasi awal bahwa nama Profesor Nurdin Abdullah mampu bersaing bahkan mengungguli nama-nama besar seperti Nurdin Halid. Survei ini menegaskan bahwa sang profesor andalan ini namanya telah dikenal. Sosok dan prestasinya yang menjadi pemberitaan media-media (surat kabar, televisi, media online dan media lainnya) telah tersebar di masyarakat Sulawesi Selatan.

Kerinduan pada pemimpin-pemimpin yang punya prestasi tinggi, intelek, sederhana dan bersedia dengan komitmen politiknya untuk melayani rakyat adalah idaman masyarakat Sulawesi Selatan (dan masyarakat pada umumnya). Pada sosok Nurdin Abdullah, sang profesor andalan yang akan maju di Pilgub Sulsel 2018, mereka menemukan karakter itu. Bantaeng bukanlah daerah fiktif yang hanya bisa ditemui dalam dongeng-dongeng. Bantaeng adalah satu daerah tertinggal di Sulawesi. Dan Bantaeng kini menjelma sebagai daerah yang cantik yang menarik banyak orang-orang untuk berkunjung. Kerja-kerja nyata (bukan pencitraan saja) selama di Bantaeng telah menggugah masyarakat untuk mulai melirik sang profesor.

Bagi rival-rival yang akan maju di Pilgub Sulsel, keunggulan sementara dari Nurdin Abdulah ini terbaca sebagai sinyal bahwa nama sang profesor ini patut diperhitungkan. Nama kebesaran yang mulai terdengar di mana-mana benar-benar bukan sekedar permainan media. Masyarakat Sulsel barangkali cukup mampu membedakan mana pemimpin yang sekedar dicitrakan media dan mana pemimpin yang sungguh-sungguh menghasilkan wujud nyata dari kerja-kerjanya. Dan pahlawan Bantaeng ini telah membuktikan keberhasilannya melalui kerja nyata.

Bila ada publik yang ragu tentang kerjanya, sang profesor mungkin tersenyum dan bilang: datanglah ke Bantaeng. Lihat dan rasakan dari dekat. Kesimpulan-kesimpulan dari apa yang kamu alami sendiri lebih meyakinkan dari sekedar apa yang kamu peroleh dari orang lain.

  • view 240

  • Dinan 
    Dinan 
    10 bulan yang lalu.
    Saya org Sulsel dan setahun terakhir saya tinggal di Bantaeng, pernah bertemu dgn NA 2 kali.

    Saya tak berpihak ke salah satu calon, Demi Allah.
    Menurut saya, Bantaeng belum baik seperti yg diberitakan. Masih lumayan banyak org miskin, masih banyak pengangguran. Memang, di poros kota Bantaeng sudah lumayan bagus, tapi di pelosok cukup memprihatinkan.

    Sosok NA memang punya kapasitas untuk jadi pemimpin: sederhana, intelek, dan berwibawa. Akan tetapi, bukti konkritnya belum bisa menggugah saya untuk bersimpati pada beliau.

    Masih banyak kab/kota yg lebih baik dari Bantaeng, seperti: Maros, Pare-Pare dan Enrekang. Saya juga heran kenapa Bantaeng begitu dielukan.

    Saya yang menetap setahun di Bantaeng belum terlalu merasakan prestasi Beliau. Mungkin saja, karena saya kurang bergaul. Hahaha...

    Saya alumni UNHAS, seharusnya saya memilih cagub dan cawagub yg satu almamater, tapi, lagi-lagi, saya belum merasa WAH pada pasangan ini. Entahlah...

    Salam Dari Bantaeng,
    Dinan