Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 16 November 2017   22:20 WIB
Profesor Nurdin Abdullah, Cermin Intelektual Sejati

I

Di hari orasi ilmiah pengukuhan Profesor Nurdin Abdullah, terlihat banjir pujian. Karangan-karangan bunga yang berisi pujian terlihat menghiasi hari kebahagiaan itu. Karangan bunga kepada Profesor Nurdin Abdullah diantaranya berasal dari Presiden RI, H. Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Pertanian HA Amran Sulaiman, dan Wakapolri Komjen Polisi Syafruddin.

Hari itu, Nurdin Abdullah telah sampai pada capaian yang tinggi dalam karir akademiknya, yakni menjadi Guru Besar. Dia berdiri di depan hadirin dan diantara guru besar menyampaikan pidato ilmiahnya yang, sekali lagi, menuai decak kagum. Dia begitu vokal menyampaikan begitu pentingnya ilmu pengetahuan selama kepemimpinannya sebagai Bupati Bantaeng. Di dalam pidatonya, terdengar begitu mengagumkan: ilmu pengetahuan menjadi alat bagi kesejahteraan sosial.

Orasi ilmiah Profesor Nurdin Abdullah benar-benar mewujudkan sebuah hubungan yang harmonis antara seorang ilmuan di satu sisi dan seorang pemimpin yang keputusan kebijakannya mempengaruhi hajat hidup orang banyak yakni rakyat Bantaeng. Di dalam orasi ilmiahnya, terkandung tanggung jawab keilmuan, moral dan sosial yang saling berkaitan. Selama kepemimpinannya, tanggung jawab itu menggerakkannya untuk mengabdi kepada masyarakat.

Orasi ilmiah pengukuhannya sebagai guru besar di UNHAS memperoleh pengakuan dan pujian dari guru-guru besar yang lainnya. Pujian itu datang dari Profesor Abrar Saleng, Ketua Dewan Profesor Universitas Hasanuddin (UNHAS). Menurutnya, Profesor Nurdin Abdullah berhasil mengaplikasikan ilmunya dalam pembangunan di Bantaeng. Dia benar-benar mampu mewujudkan fungsi dari ilmu pengetahuan sebagai alat bagi kesejahteraan manusia di Daerah Bantaeng. Dengan keberhasilan ini, Prof. Abrar berharap Nurdin Abdullah dapat mengaplikasikan ilmunya di tingkat yang lebih luas, di Provinsi (sindonews).

Pujian juga datang dari Ketua Majelis Wali Amanat Unhas, Prof. Dr. H. Basri Hasanuddin. Dia mengatakan bahwa Profesor Nurdin Abdullah memiliki bakat kepemimpinan dan itu terlihat sejak dia masih kuliah. Dengan demikian, dia meminta seluruh guru besar dan hadirin untuk mendukung dan membantu Nurdin Abdullah melangkah lebih lanjut dalam pengabdian di wilayah yang lebih luas. Dukungan itu memiliki alasan yang kuat. Sebab menurutnya, Bantaeng menjadi kota yang dikenal di tingkat nasional dan internasional berkat kepemimpinan dan pengabdian dari Nurdin Abdullah (fajar)

Dukungan dan juga pujian datang dari Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu. Dengan bangga atas alumninya, dia mengatakan bahwa Nurdin Abdullah adalah seorang ilmuwan dan praktisi. Sang rektor bangga sekali dengan alumninya yang menduduki jabatan strategis dan bisa berkontribusi kepada masyarakatnya.

 

II

Sejak dari awal, ilmu pengetahuan ditujukan untuk menjadi alat bagi kesejahteraan umat manusia. Tugas ilmuwan adalah memikirkan untuk menemukan sebanyak mungkin ilmu pengetahuan dan selanjutnya memanfaatkannya demi menjawab persoalan-persoalan di dalam masyarakat. Tapi persoalannya belakangan, ilmuwan seolah kian jauh dari masyarakat dan segala persoalan dasarnya. Hampir-hampir kita mempercayai bahwa ilmuwan dan ilmu pengetahuannya adalah mahluk asing sendiri yang tidak lagi mau dan tidak punya hubungan secara langsung dengan masyarakat dan segala persoalan yang membebaninya.

Tapi pikiran-pikiran di atas bisa kita tunda sementara bila pandang kita ditebarkan ke bumi Bantaeng. Di tempat ini, sang Bupati justru adalah seorang ilmuwan di bidang pertanian. Sejak terpilih 2008 hingga hari ini – selama dua periode – dia melebur dan melayani masyarakat. Dia pergunakan segala kemampuan keilmuannya (tepatnya kepakarannya sebagai ilmuwan pertanian) untuk menghidupkan kembali sektor pertanian dan bahkan meningkatkannya sehingga membantu peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bantaeng.

Untuk melihat intelektualitas kepakarannya sebagai ilmuan di bidang pertanian dan kebijakan dari kepemimpinannya, ada baiknya kita lihat dan kutip beberapa teks dari orasi ilmiah pengukuhan dia sebagai guru besar di Universitas Hasanuddin Makassar kemarin. Kita akan melihat betapa harmonisnya antara kebijakan politiknya dengan pengetahuannya tentang lingkungan.

III

Sebagai ilmuan, Nurdin Abdullah meyakini kebenaran ilmu pengetahuan. Dia bekerja dengan prinsip-prinsip kebenaran ilmu pengetahuan. Sebagai pemimpin politik, dia harus mengambil keputusan penting untuk kebaikan rakyatnya. Tetapi justru perpaduan ini – sebagai ilmuan dan pemimpin – menjadikannya mempertimbangkan aspek-aspek kebijakannya sampai sejahumana tetap sejalan dengan prinsip kebenaran dari ilmu pengetahuan. Kebijakan politik dia demi kesejahteraan rakyat Bantaeng tetap mempertimbangkan keseimbangan dan kebaikan alam.

Di dalam teks orasi ilmiahnya, terlihat kepeduliannya atas pertumbuhan ekonomi di satu sisi dan kepentingan alam di si lain. Dia mengutip dari Kementerian LHK.

“Pemanfaatan ruang di Indonesia senantiasa menampilkan dua sisi yang saling berhadapan yaitu antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas lingkungan hidup. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dekade terakhir memperlihatkan pencapaian yang relatif baik, dibandingkan negara-negara lain. Namun di sisi lain, indeks kualitas lingkunga hidup (IKLH) selama 3 tahun terakhir justru menunjukkan penurunan”.

Pertimbangan ini lahir dari pengetahuannya sebagai seorang ilmuan yang mendalami bidang pertanian. Dia mempelajari tentang lingkungan hidup. Itu sebabnya dia peka terhadap persoalan lingkungan. Dia sadar bahwa sebagai seorang pemimpin, persoalan kesejahteraan adalah hal yang penting, tapi dia tidak ingin mengorbankan alam yang memberi kehidupan. Di dalam teks yang lain, jelas terbaca:

“Peningkatan populasi dan perubahan pola hidup manusia yang cenderung konsumtif akan berdampak terhadap meningkatnya kebutuhan manusia akan sumber daya alam. Hal ini mengakibatkan penggunaan lahan cenderung melampaui kemampuan lahan yang menyebabkan terjadinya degradasi lahan”.

Kepekaan dari kepakarannya atas persoalan lingkungan ini mewarnai kebijakan-kebijakan politik Profesor Nurdin Abdullah selama memimpin Daerah Bantaeng. Di dalam teks orasi ilmiahnya yang berjudul “Integrasi Pembangunan Wilayah Hulu dan Hilir sebagai Strategi Konservasi Tanah dan Air Guna Peningkatan Kesejahteraan Rakyat”, seluruh kebijakan politiknya mempertimbangkan kebaikan-kebaikan bagi alam.

IV

Di dalam orasi ilmiah itu, Profesor Nurdin Abdullah memanfaatkan strategi-strategi ilmu pengetahuan yang dikuasainya (sebagai profesor di bidang pertanian) demi kesejahteraan masyarakat di Bantaeng. Di tangannya, ilmu pengetahuan kembali pada tujuan awalnya: alat bagi kebaikan manusia dan alam. Perihal ini, misalnya terlihat dari teks orasi ilmiahnya:

“Langkah awal yang saya praktekkan adalah melakukan Penataan Ruang secara transparansi untuk memberikan kepastian pemanfaatan ruang dan Penyusunan Rencana Pengembangan Terpadu Wilayah Hulu dan Hilir secara sinergis lintas sektoral”.

Bisa dilihat bahwa Nurdin Abdullah benar-benar penuh perencanaan dan begitu matang dalam kebijakan-kebijakannya. Kepakarannya tentang tata ruang lingkungan alam benar-benar membantunya dalam merumuskan kebijakannya di Bantaeng. Segera setelah pemetaan itu, dalam orasi ilmiahnya, dia menindaklanjuti dengan berbagai program seperti “pembangunan hutan desa, pengembangan agroforestry, peningkatan pengelolaan sumber daya air yang berdaya guna, pembangunan waduk baru dan embung, dan pemberdayaan petani melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), dan pengembangan ekowisata di wilayah hulu dan pesisir pantai. Strategi ini bertujuan untuk mewujudkan pembangunan prasarana wilayah yang terkoneksi antara Hilir (perkotaan) dan hulu (perdesaan) secara sinergitas dan selaras melalui program lintas sektoral” (teks orasi ilmiah). 

Karya : Nugroho Ali