Kepada : Bapak

Anisa K. Putri
Karya Anisa K. Putri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 September 2016
Kepada : Bapak

Kepada : Bapak

 

Saat kau yakin itu perasaan cinta, ungkapkanlah

Seseorang berhak tahu segala yang disebut “kebenaran”

Kau harus mengatakannya

Bahkan jika kau sudah tahu

segalanya sudah terlambat

 

Udara dingin sekali. November yang terlalu dingin. Bunga-bunga kamboja berwana putih perpaduan kuning jatuh dari rantingnya, beberapa jatuh tepat di atas tanah bergunduk. Salah satunya di tanah bergunduk yang ada dihadapanku ini. Rumput dan ilalang tumbuh sembarang di atasnya, dan tanpa permisi padaku kamboja itu rebah dengan  nyaman di atasnya.

***

Kita memang tidak pernah banyak bicara seperti kebanyakan yang lain.  Kita hanya berbincang sesekali, seperti saat hujan sedang turun sederas-derasnya, atau saat  wanita itu sedang tidak ingin bicara padamu. Kalau keadaan sudah sangat sepi begitu, akulah yang menjadi perhatianmu. Sore ini kita berdua disini, menghadap ke arah televisi kau duduk di atas kursi yang bersisian dengan meja makan sementara aku duduk memegang buku di lantai semen yang dingin dan kasar, tak jauh darimu. Dengan dehaman sedikit dari tenggorokanmu yang kering karena si asap rokok sialan itu, kau mulai berbicara padaku.

“Willy, abis ini kamu mau lanjut kemana?”,  tanyanya sesaat setelah hembusan asap rokok itu mengepul di udara. Aku tahu kemana arah bicaranya. Ini tentang sekolahku.

 “Aku mungkin mau daftar universitas dulu, Pak. Aku mau kuliah Sastra, baru itu yang aku pikirin.”

Kedua mataku belum beranjak dari halaman yang tengah kubaca. Kemudian ada hening sebentar. Bapak belum lagi bersuara. Mungkin ia sedang berpikir sendiri, berhitung sendiri di dalam kepalanya. Bagaimana mungkin ia yang hanya seorang pemecah batu sanggup menyekolahkan anaknya hingga sarjana? Pun istrinya hanya seorang buruh cuci upahan yang penghasilannya hanya cukup untuk makan dan dapur saja. Kepalanya mungkin dipenuhi kepulan asap yang lebih pekat daripada asap rokok yang setiap hari dihisapnya.

“Kamu nggak pengen kerja aja gitu? Kan bisa nabung dulu, mapan dulu, baru kuliah. Bapak juga nggak punya uang buat nyekolahin kamu tinggi-tinggi.”

Mendengar kata ‘kerja’ disebut, aku memalingkan wajahku ke arahnya. Kali ini Bapak menyeruput kopi hitamnya. Pandanganku terarah ke arah lehernya. Satu dua tegukan membuat jakunnya naik turun. Setelahnya ia kembali menyuruh matanya untuk melihat entah acara apa yang sedang ditayangkan di layar televisi. Aku masih menatap separuh wajahnya dari tempatku duduk sekarang. Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya. Seisi kamarku memanggil dan aku datang mengadu padanya.

 ***

Bukan aku tidak memikirkan semua ini. Bukan aku tidak sadar dengan keadaan yang kami jalani. Hidup dengan enam orang anak di rumah yang sederhana dan kondisi yang nyaris kekurangan pasti cukup sering membuat ibuku menangis dalam setiap sujudnya. Kondisi yang sama pun pasti pernah membuat Bapak nyaris putus asa. Tapi aku selalu yakin pada satu hal : Bapak tidak pernah ingin menyerah meski hanya sekali pun untuk membesarkan aku dan kelima kakakku. Baginya, kami berenam harus punya kehidupan yang jauh lebih baik darinya. Apapun pilihan kami tidaklah menjadi masalah, Bapak dan Ibu selalu memberi kami kebebasan untuk memilih. Yang diajarkan Bapak pada kami bukanlah apa-apa yang harus kami pilih, tapi bagaimana kami bertanggung jawab atas apa yang kami pilih. Dan tentang percakapan singkat kami di ruang tengah tadi, aku sudah menentukan pilihan.

Keputusanku untuk segera berkuliah bukan tanpa pemikiran yang matang. Aku sudah memikirkannya bahkan sejak usiaku baru genap tiga belas. Aku tidak buta dengan apa yang kulihat di rumah. Aku tidak tuli dengan suara-suara itu. Suara-suara pembagian jatah. Bapak dan Ibu harus membayar iuran  sekolah si nomor tiga dan si nomor empat, si nomor lima berhutang pada teman sekelasnya dengan jumlah yang mencengangkan, dan masih banyak lagi suara-suara. Dan saat seseorang mengobrol denganku tentang apa itu sarjana dan seisi dunianya, aku tertantang. Waktu itu umurku baru genap tiga belas, tapi sudah mantap keinginanku untuk berkenalan dengan sesuatu yang mengaku bernama ‘mimpi.’ Mimpi membuatku jatuh hati. Ia indah sekali. Aku tidak ragu melakukan apapun demi bisa lebih dekat dengan si mimpi. Aku ingin kami lebih dekat. Dekat hingga tak lagi berjarak. Sejak hari itu, Ibu tak pernah lagi menemukanku pulang sekolah di jam yang tepat. Dan di usia belasan ini, kerja kelompok akan selalu jadi alasan paling diterima dibandingkan kerja paruh waktu. Setidaknya Ibu memercayaiku. Bapak? Jangan tanyakan. Kau atau siapapun tidak akan pernah menebak dengan tepat batas yang dibuat Bapak tentang Perhatian dan Kebebasan.

***

Ini salah satu kenangan terbaik masa kecilku dengan Bapak. Dua belas jam terbaik yang pernah kami ciptakan berdua, tentu saja masih dalam radar sepengetahuan Ibu. Iya kami, aku dan Bapak, pernah punya sesuatu yang hanya bisa kami kenang sendiri. Sesuatu yang hingga saat ini masih kukenang, kembali kuputar dalam kepala, lalu kutangisi sampai pagi.

Bapak pernah menjadi seorang supir angkutan kota. Berkat kebaikan pemilik angkutan kota itu, Bapak diijinkan untuk membawa mobil itu ke rumah kami. Tentu dengan maksud agar mobil bisa lebih sering dicuci (karena kami punya sumur yang berair banyak), pak bos juga mengijinkan jika mobil itu dipakai kami untuk keperluan keluarga yang sangat mendesak. Sungguh benar-benar baik pikirku. Karena hari ini Minggu, Bapak mengajakku untuk ikut dengannya mencari penumpang. Itu artinya aku dan Bapak akan berkeliling dengan mobil seharian!  Aku yang saat itu masih kelas dua sekolah dasar luar biasa girangnya. Seharian kami lalu lalang di atas mobil dengan membawa penumpang dan Bapak mulai bercerita seluas-luasnya tentang dunia dan hidup padaku. Hari itu, aku punya Bapak. Yang mengenalkanku pada sesuatu yang bernama ‘hidup’ itu Bapak.

***

Aku masih disini memegang pusaranya. Angin mulai berdamai, tidak seribut tadi. Angin menghangat, tak lagi sedingin tadi. Raga Bapak ada di bawah sana, tepat dua meter dalamnya. Entah telentang, tengkurap atau bagaimana yang jelas ia ada disana. Raganya di tanah, tapi cintanya tertinggal disini. Di hatiku. Raga yang paling kuat itu tak pernah lagi kutemui sejak perantauanku beberapa tahun silam. Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku punya cinta untuknya. Cinta yang sangat besar dari seorang anak kepada Bapak. Cinta yang memang tak sebesar milik Ibu untuk Bapak. Bagaimanapun juga ini harus dikatakan, sebab ini cinta. Sebab cinta tak kenal jarak. Sebab cinta tetap harus dikatakan meski kita sadar terlambat. Sebab cinta kita sehidup sesurga, Pak. Cinta keluarga kita, Sehidup Sesurga.

 

Untuk Bapak yang sudah pergi, dan

Untuk Ibu yang kuharapkan tak terburu-buru pergi

#SehidupSesurga

 

                                                                                                                                                                  Lampung,

Menjelang Adha 2016      

  • view 192