Permintaan Maaf Kepada Masa Lalu

Anisa K. Putri
Karya Anisa K. Putri Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 11 April 2016
Permintaan Maaf Kepada Masa Lalu

Kepada Masa Lalu,

 

Gemuruh di dadaku semalam semacam pertanda bahwa aku harus melakukan ini. Bisikan-bisikan angin di sepertiga malam tadi tak ubahnya remahan hidayah yang hendak membawaku hijrah.

Ini tentangmu, Masa Lalu. Kau yang selama ini masih bersemayam nyaman di pikiranku, memenuhi rongga kepalaku dengan kabut rindu. Terakhir kali kita bergumul dalam kata-kata, aku berkeras hati sekaligus berkeras kepala untuk mempertahankanmu. Tak rela kepingan-kepingan bahagia yang pernah kita punya pupus dikalahkan waktu. Aku begitu sangat ingin menyediakan ruang abadi untuk cerita panjang kita. Tapi itu dulu.

Setelah selama ini aku hanya menunggu, diam-diam masih meminta ijin pada Raja Semesta untuk merapal separagraf doa untukmu, dengan malu-malu kusebut namamu, menyebut semua kebaikanmu demi meyakinkan Raja Semesta bahwa kita pantas bersama, tapi semua itu kini mulai tampak sia-sia. Aku mengalami keletihan luar biasa, dimana kenyataan berteriak keras di wajahku... kau sudah berbeda. Kau sudah memilih hati lain untuk dibahagiakan, dan hati yang beruntung itu bukan hatiku.

Aku sudah tidak bisa lagi berkeras hati seperti dulu, Masa Lalu. Memastikanmu sudah bahagia, bergandengan tangan dengan Masa Kini yang akan jadi Masa Depanmu akhirnya menyadarkanku. Meski kaki dan hatiku ini masih berpijak padamu, tapi sesuatu mengharuskan kepala dan pikiranku berada disini, di masa ini. Bukan di tempatmu, Masa Lalu.

Aku ingin minta maaf padamu, aku harus pamit. Meninggalkanmu sangat jauh tanpa pernah kembali lagi. Tanpa harus membuatmu percaya, kau pasti sudah tahu untuk siapa puisi-puisi itu kuciptakan, untuk siapa lagu-lagu itu kulantunkan. Semua itu masih milikmu, selalu milikmu. Hanya saja itu tidak akan bergaung lagi di semesta ini, sebab kita sudah berpisah. Sebab tidak ada lagi kesamaan-kesamaan yang kita sebut pertanda bahwa kita adalah satu.

Rinduku padamu masih hidup, meskipun dengan helaan harapan yang putus-putus. Aku tak lagi berharap kau mendengarnya. Sebab rindu itu sudah kukirim ke dimensi lain dimana kau tidak akan pernah menemukannya dan berkesempatan untuk membalas rinduku. Semua ini demi Masa Depanmu yang masih suci itu.

 

Jika beruntung dan memang mungkin, sampai bertemu di reinkarnasi rinduku beberapa masa lagi.

 

  • view 395