Dongeng Ala Perpustakaan : Apa yang disampaikan dari Hati Akan Kembali Ke Hati (

Novita Rully
Karya Novita Rully Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 20 Juni 2016
Dongeng Ala Perpustakaan : Apa yang disampaikan dari Hati Akan Kembali Ke Hati (

 
Perpustakaan Umum Kota Surabaya tempatku bernaung selama hampir tiga (3) tahun. Bukan seperti yang orang katakan, perpustakaan disini jauh terkesan kusam, dengan petugas perpustakaan yang sudah berumur dan perpustakaannya hanya untuk mereka yang  Kutu Buku.  Namun, Perpustakaan Umum Kota Surabaya merubah image sangat nyaman dan jauh dari anggapan itu semua. Petugas Perpustakaan muda dan siap melayani pengunjung untuk memberikan informasi tentang perpustakaan. Perpustakaan Umum Kota Surabaya memiliki beberapa ruangan diantaranya ruang anak, ruang dewasa 1, ruang dewasa 2, ruang Kids Smart, ruang Kartu Tanda Anggota (KTA), dan lain-lain. Saya bertugas di sebuah ruangan yang penuh warna dan mereka menyebutnya ruang anak. Daftar Buku Anak berjejer rapi, dengan beraneka ragam jenis buku dari mulai buku pelajaran sekolah, cerita anak, cerita dongeng, cerita hewan, novel kecil-kecil punya karya (KKPK) dan sebagainya.
Semenjak, Surabaya dicanangkan sebagai Surabaya Kota Literasi giat masyarakat Surabaya untuk membaca semakin meningkat. Pengunjung anak-anak khususnya, mereka ikut menyemarakan kegiatan tantangan membaca, tidak hanya sekedar membaca anak-anak diajak untuk merangkum dan menceritakan kembali isi buku yang telah dibacanya.
Sebelum bertugas di Perpustakaan Rungkut, saya bertugas di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kelurahan Petemon. Lokasinya yang berada di dekat jalan raya dan jauh dari lingkungan masyarakat membuat penikmatnya tidak banyak hanya masyarakat yang sedang berada di kantor Kelurahan Petemon saja yang akan mengurus KTP dan seluk-beluk mengurus surat pemerintahan lainnya. Namun, tak berhenti sampai disitu saya melihat setiap hari disekitar kelurahan selalu ada siswa sekolah Dasar (SD) yang pulang sekolah berjalan di depan kelurahan. Suatu siang, saya berniat menunggu mereka di depan kelurahan saat mereka lewat saya perkenalkan diri dan saya ajak mereka di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kelurahan Petemon. Alhamdulilah, semenjak saat itu pengunjung TBM bukan hanya warga yang mengurus surat di Kelurahan namun anak-anak warga terdekat kelurahan ikut membaca buku, bimbingan belajar dan mengikuti kegiatan di TBM. Salah satu program yang menjadi idola anak-anak adalah kegiatan Potong Kuku Sehatkan Buku yang saya tulis di Koran Surya http://surabaya.tribunnews.com/2012/08/09/potong-kuku-sehatkan-buku. Pengunjung TBM Kelurahan Petemon semakin meningkat, anak-anak asyik berada di TBM, bukan hanya kegiatan potong kuku saja anak-anak juga diajak untuk membaca cepat, merangkum, kegiatan makan siang bersama, mengaji, bimbingan belajar dan berbagai lomba. Saya menulis cerita tentang TBM kelurahan Petemon, dimuat kora Surya http://surabaya.tribunnews.com/2012/07/25/tbm-mengubah-keluhan-menjadi-senyuman diceritakan bahwa, petugas teknis Taman Baca Masyarakat (TBM) di bawah naungan Dinas Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya berkesempatan bertemu pakar TBM asal Jogjakarta, Muhsin Kalida. Pria sangat sederhana yang antusias memberikan wawasan mengenai TBM melalui dua bukunya, Strategi Networking TBM dan Fundraising TBM. Menurut Muhsin Kalida, TBM adalah lembaga yang melayani kebutuhan masyarakat akan formasi mengenai ilmu pengetahuan dalam bentuk bahan bacaan dan bahan pustaka lainnya. Secara Psikologis, orang datang ke TBM diharapkan senyaman duduk di taman bunga, penuh dengan senyuman, karena TBM diharapkan bisa mengubah keluhan menjadi senyuman. Itulah yang diterapkan di TBM tempat kami bertugas di TBM Kelurahan Petemon. Dalam ruangan mungil di depan pelayanan kelurahan, petugas berusaha memberikan senyaman mungkin dengan pelayanan penuh senyuman. Dan alhamdulilah, motto ala Muhsin Kalida, yaitu datang menyenangkan pulang dirindukan, benar-benar terjadi di TBM Kelurahan Petemon. Khususnya pengunjung anak-anak yang setiap harinya selalu berada di TBM Kelurahan Petemon sampai petugas pulang.   Setahun berada di TBM masayarakat saya berpindah di Perpustakaan Rungkut.
Perpustakaan Rungkut merupakan perpustakaan induk, kegiatan di Perpustakaan sangat banyak Petugas Teknis Perpustakaan setiap bulan diberikan pengarahan dan tambahan ilmu diantaranya, pelatihan membaca cepat, pelatihan merangkum, pelatihan mendongeng, pelatihan presentasi, pelatihan menulis dan lain-lain. Ibu ARINI PAKISTYANINGSIH, SH, MM. selaku Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan selalu memberikan inovasi kepada petugas teknis perpustakaan sehingga mendapatkan tambahan ilmu sebagai penyegaran dan di terapkan saat berada di tempat tugas masing-masing. Kehadiran Bapak Sastria Dharma memberikan semangat luar biasa kepada kami, semangatnya yang luar biasa bersinergi dengan Ibu Arini membuat kami yakin Perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat akan selalu menjadi tempat singgah mendapatkan ilmu.
Pengalaman baru buat saya yaitu pelatihan mendongeng yang diberikan oleh Kak Nit-Nit, Pendongeng yang luar biasa dapat mengajak peserta yang mengikuti acara terperangah hanyut dalam cerita dongeng yang dibacakannya. Kita diajarkan bagaimana cara mendongeng yang baik yang mengajak anak-anak khususnya larut dalam  dongeng yang diceritakan. Tambahan ilmu yang diberikan Badan Arsip dan Perpustakaan melalui Pelatihan-pelatihan tak pernah saya lewatkan, akhirnya tiba waktunya praktek mendongeng satu persatu ada perasaan malu. Namun, ketka melihat anak-anak yang mendengarkan dongeng yang ingin dibacakan memberikan semangat yang luar biasa. Setiap dongeng menyimpan pesan moral yang ingin disampaikan dengan cara yang unik agar diterima oleh anak-anak. Saya berpikir, apa yang dilakukan dengan hati akan sampai dihati. Mendongeng dengan cara yang saya bisa, memberikan hiburan dengan membuat anak-anak tersenyum itu luar biasa.
Perjalanan mendongeng ketika itu awalnya hanya untuk wisata buku di dalam perpustakaan rungkut, tetapi lambat laun kegiatan mendongeng terus berkembang. Alhamdulilah, saya mendapatkan kesempatan untuk mengisi acara bersama mobil perpustakaan keliling di sekolah TK, PAUD, SD Negeri, SD Swasta, acara Dinas Kesehatan, Yayasan Kangker Indonesia, acara Pertunjukan Rakyat yang ceritanya dan saya tulis dan dimuat oleh Koran Surya dan bisa di baca dalam web http://surabaya.tribunnews.com/2014/02/19/pertunjukan-untuk-rakyat  ,  Mendongeng saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudoyono di Puskesmas yang saya tulis dan dimuat Koran Surya http://surabaya.tribunnews.com/2014/01/04/mendongeng-bareng-sby,Mendongeng bersama MENTERI Kesehatan Dr Nafsiah Mboi SpA MPH, saya tulis dan dimuat dalam di Koran Surya http://surabaya.tribunnews.com/2014/02/10/saat-menkes-singgah-pucang-sewu dan pernah mendapatkan kesempatan mendongeng untuk lomba Surabaya sebagai Kota Layak Anak di Taman Flora yang saya tulis dan dimuat dalam koran Surya http://surabaya.tribunnews.com/2013/12/09/kota-layak-anak. Alhamdulilah, sekarang semua petugas perpustakaan kota Surabaya sudah dapat mendongeng dengan percaya diri (PD) berkat pelatihan yang diberikan dan sungguh sangat bermanfaat sekali untuk anak-anak. Bukan hanya Buku yang diperkenalkan kepada anak-anak melainkan mereka dapat mengambil hikmah yang diperoleh dari isi dongeng yang mereka ceritakan. Mendongeng memiliki banyak keuntungan bagi anak-anak, seperti merekatkan hubungan orangtua dengan anak selain membantu mengoptimalkan perkembangan psikologis dan kecerdasan anak secara emosional. Mendongeng juga membangkitkan minat baca anak, membangun kecerdasan emosional anak dan membentuk rasa empati anak.
Perpustakaan adalah tempat memperoleh ilmu sepanjang hayat. Perpustakaan dibuat nyaman agar pengunjung khususnya anak-anak lebih nyaman, dengan segala fasilitas yang ada. Misalnya perpustakaan Taman Flora. Anak-anak bukan hanya membaca buku secara gratis, tapi juga bermain edukasi seperti permainan warna, puzzle, catur, dan lain-lain. Keberadaan perpustakaan juga memberi wawasan kepada anak-anak melalui media mendongeng.
Mendongeng merupakan kegiatan yang biasanya disertai dengan kunjungan atau wisata buku yang dilakukan di perpustakaan. Mendongeng merupakan cara awal memperkenalkan anak-anak pada buku dengan harapan mereka gemar membaca. Masyarakat Surabaya khususnya anak-anak merasa nyaman dengan keberadaan perpustakaan di sekitar mereka. Misalnya Taman Bacaan Masyarakat di kelurahan, RW, taman, sekolah dasar, rumah sakit, dan sebagainya. Dengan demikian minat baca warga Surabaya diharapkan kian bertambah. Anak-anak usia dini saat ini di kenalkan untuk mencintai buku sehingga saat dewasa pengetahuan mereka lebih luas dan menciptakan generasi luar biasa. @novitarully
BIODATA :
Novita Rully Anggraeny, S.Hum, M.Pd. lahir di Malang pada 04 November 1988. Masa pendidikannya ia lalui di sekolah- sekolah umum : SDN Sentul 06 Blitar, SLTP N 4 Blitar, SMA Negeri 1 Blitar. Minat bacanya mulai tumbuh pada masa-masa SMA, dan makin terasah  ketika ia kuliah di S-1 Sastra Indonesia – Universitas Airlangga (2006) dan S-2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – Universitas Muhammadiyah Surabaya (2012).
Sedari duduk di bangku sekolah, ia suka membaca buku, menulis dan berorganisasi, mengikuti disamping kegiatan formal belajar. Meski ia belum mempunyai pengalaman menulis yang banyak, namun ia suka menulis sejak di bangku sekolah mengikuti Eksrakurikuler membuat majalah sekolah dan majalah kampus. Sekarang, ia aktif mendongeng, menjadi pengiat literasi di Surabaya dan staff pengajar. Sebagai media diskusi yang produktif penulis membuka komukasi lewat e-mail di Novita.rully11@gmail.com.

  • view 266