6 Surga Yang Tak Dirindukan

Novita Rully
Karya Novita Rully Kategori Buku
dipublikasikan 07 Juni 2016
6 Surga Yang Tak Dirindukan

MELIHAT gempita di media sosial setelah menonton Film Surga yang Tak Dirindukan (2015) membuat saya bergejolak ingin melihat langsung film yang mengambil lokasi syuting di Yogyakarta ini. Didukung pemain utama Fedy Nuril (Pras), Laudya Cytntia Bella (Arini), dan Raline Syah (Meirose), juga diramaikan Kemal Palevi, Tanta Ginting, dan Zaskia Adya Mecca. Diangkat dari novel best seller dengan judul sama karya Asma Nadia

Ketika antre membeli tiket film Surga Yang Tak Dirindukan dari kejauhan tampak orang berbondong-bondong keluar studio 3. Hampir sebagian penonton saat itu perempuan dan sebagian mata mereka sembab tak terkecuali ada yang menutup sebagian muka dengan tisu. Situasi seperti itu membuat saya semakin tak sabar menontonnya. Awalnya penonton diajak lebih dekat mengenal sosok Arini, pendongeng yang aktif di sebuah panti asuhan. Pras, lelaki yang kuat dan baik hati tetapi masa lalunya ketika melihat sang ibu bunuh diri di depan matanya, membuatnya mengalami traumatik mendalam.
Pras bertemu dengan Citra Arini di panti. Dari Kejauhan Pras melihat Arini mendongeng madani, "surga hanyalah tempat untuk orang-orang yang bersyukur dan ikhlas." Kata-kata yang membuat Pras jatuh hati dan memutuskan meminang Arini. Sungguh, apa yang sudah mendapatkan ridho orangtua dan Allah SWT segala hal akan dimudahkan, dipertemukan dan ini yang dinamakan jodoh. Arini dan Pras hidup bahagia dan memiliki putri kecil Nadia (Sandrinna Michelle)
Mereka menuju surga pernikahan seperti halnya surganya istri ada di suami, surganya suami ada di ibunya. Namun, Arini tergores karena kebaikan sang suami. Ia tak pernah menyangka usai melepas suaminya untuk bekerja, di kantong saku suaminya terdapat struk obat atas nama bayi Muhammad Akbar. Ternyata itu putra wanita cantik bernama Meirose (Raline Shah) yang dinikahi Pras. Wanita mana yang rela membagi cinta suaminya dengan wanita lain? Betapa pedih, marah dan kecewanya Arini.
Sang sutradara Kuntz Agus terbilang sukses menguras air mata. Para pemain menyuguhkan kekuatan cerita tanpa menambah dramatisasi yang berlebihan atau mengurangi pesan yang ingin disampaikan. Selain cerita yang kuat, film ini juga menawarkan pesona budaya dan alam Yogyakarta sebagai latar cerita yang dibalut sinematografi elegan.
Asma Nadia cukup piawai dalam mengolah cerita sekaligus makna di baliknya. Isu poligami dengan segala kontroversinya diungkap dalam sisi berbeda, sehingga mampu membuka cakrawala pola pikir penontonnya. Nilai agama yang dibawakan pun tak terkesan menggurui. Surga Yang Tak Dirindukan setidaknya sanggup memboyong kembali penonton yang jarang ke bioskop untuk menonton dan pulang membawa air mata serperti yang saya alami.
 

  • view 351