Berita Hitam Tanpa Jeda

novita susilaningrum
Karya novita susilaningrum Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Maret 2016
Berita Hitam Tanpa Jeda

?Kakiku kelu, jari-jari tangan tak bisa kulekukan dengan mudah, otaku mendadak seperti melesat jauh dari konsentrasiku pada hal sebelumnya. ? ini mimpi? meski dalam lubuk hatiku aku berusaha meyakinkan seribu kali bahwa ini benar adanya. Aku mencoba bangun dan bangkit secepat mungkin, tapi aku begitu takut? untuk sadar . Tubuh bergetar, detak jantung semakin tak beraturan, ternyata dahiku pun telah basah oleh bulatan-bulatan peluh dingin yang berbaris disana. Ku pegang dadaku? dengan nafas yang begitu sulit terhembus, perlahan aku yakinkan hati? bahwa ini kejadian nyata hari itu. Desis angin dari sebuah kipas listrik menyibak rambut disamping pipi, begitu halus membelai. Ternyata sudah terlalu lama aku mematung, bahklan otak dan hati seperti? bertarung .

?haloooo..mbaa?mba..halooooo mbaa..?? suara itu terhempas jauh dari pendengaranku , suara dari dalam telepon genggam tak mampu ku membalas. Sesak semakin penat dan begitu mencengangkan. Hai kamu bangun dan bangkit !!! bisikan itu tersentak lantang dari dalam hatiku, ?aku harus apa ? aku harus malakukan apa ?? . Air mata itu mengalir perlahan dengan suara sesegukan nafas kosong tertarik dari kerongkongan dan begitu kuat terdorong dari dada. Aku masih belum mampu bangkit dari atas hamparan sajadah cokelat hijau rumbai emas usai sholat dzuhur kala itu, ku raih kursi merah besi yang tidak jauh sebagai alat penopang tubuhku yang lemah gontai. Dadaku semakin sakit, kembali ku tertunduk lemas didalam sebuah ruang sepi.

Hariku berubah menjadi abu-abu dalam hitungan detik, terus mematung dengan dada yang semakin sesak sempit dengan rintik air mata yang tertahan tidak mampu mengalir seperti seharusnya. Kota yang terpisah begitu jauh hingga hampir sekitar 10 jam perjalanan membuat aku semakin merasa ini begitu berat. Perlahan ku tenangkan hati yang sudah pucat membiru, lalu bangkit pelan menuju sebuah kursi panjang.? Ringtone BBM bersuara bersautan tanpa henti, tangan bergetar lemah ku paksakan membuka pesan berentet yang dikirim kepadaku, ?ping?ping?ping? begitu berulang kali terdengar karena tak kunjung ada kepastian dari sang pemilik handphone, masih saja aku begitu takut men-scrole up pesan yang telah sampai kepadaku.

?Pagi subuh hari baru ku dengar berita itu?, hatiku ingin protes rasanya. Dalam hitungan jam aku dikagetkan kembali? dengan kabar serupa, apa mau_MU Tuhan?, rintihan itu membuat semakin lemah tak berdaya, hingga ku temukan sebuah kekuatan baru untuk menentukan sebuah keputusan, ?aku harus segera pulang hari ini ?. Tiket asal dengan bus besar 57 sit tak ber AC dengan suara besi dan kaca saling berpukulan berdentang mengiringi sepanjang malam perjalanan hingga dini hari, semua begitu jelas ditelinga, mataku masih enggan terpejam. Degup jantung semakin keras terdengar, aku semakin tak mampu menguasai batinku sendiri, hingga berulang kali aku meremas kedua tanganku berbalut seribu perasaan perih yang begitu terasa menyayat. ?

??????????????? Sampailah aku pada sebuah gang menuju rumah tinggalku, melangkah dengan sisa kekuatan yang ku punyai, riuh tangis menyambut langkahku menuju sebuah pintu itu, Beberapa dari yang lain merangkul dengan kuat, tubuhku semakin tak bersahabat, tulang-tulang seakan memisahkan diri satu persatu dan hilang dari tubuhku, ku tengok secarik bendera kuning tertempel bertuliskan dua orang nama yang begitu dekat ?dihatiku. Semua redup dan aku menghilang dalam gelap.

  • view 104