Pesan Mba Tiyas, Satu Tahun Sebelum Dia Pulang

novita susilaningrum
Karya novita susilaningrum Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Pesan Mba Tiyas, Satu Tahun Sebelum Dia Pulang

??????????????? ?Dede, sama tante Novi tu de, kalau gak sama bunda Nanik tu?, ucap mba Tiyas sambil mengarahkan dede Ibra kepangkuanku yang tak jauh darinya, sesekali pangeran kecil lincah itu duduk dipangkuanku dan mba Nanik, dan terkadang berjalan kesana ? kemari mengikuti arah bola yang sedang di giring oleh om Bhayu sang gelandang tengah dalam tim nya.

??????????????? Ayoooooo?om, tendang om?tendang bolanya, teriak dede Ibra dari pinggir lapangan dengan tangan menempel di pipi kanan-dan kiri seolah-olah suara mungilnya itu terdengar sampai ketengah lapangan, ?hahahaaha?kami tertawa lucu melihat aksi dede Ibra sang suporter cilik berusi 2,5 tahun yang begitu antusias.

??????????????? Kabut sore menghiasi lapangan hijau kala itu, desir angin menambah aroma dingin sejuk pada tubuh . Puluhan pasang mata tertuju pada satu benda bernama ?BOLA?, suasana semakin memanas ketika tak satupun gol yang diciptakan oleh kedua tim. Lagi-lagi dede Ibra dengan tingkah lucunya pun berulah, dia ingin menjadi hakim garis hanya karena meliat salah satu hakim garis memangil namanya, cukup membuatku menarik nafas panjang gemes.

??????????????? Priiiittttttttt?..peluit panjang terdengar dari tengah lapangan dan menandakan pertandingan telah usai, skor berakhir dengan 2 sama, Om Bhayu terkapar dipinggir lapangan dengan pose terlentang menghadap langit yang terlihat begitu pasrah, entah itu ungkapan kecewa atau lelah, bahkan mungkin keduanya.

??????????????? Usai menyalami si gelandang tengah tampan itu aku dan mba Nanik memutuskan untuk segera pulang, kabut yang begitu dekat dengan mata dan seakan dapat aku sentuh membuat nyali kita sedikit menciut untuk berlama-lama disana. Sebuah pertemuan singkat pada nuansa hari Raya Idul Fitri tahun 2014 silam tepatnya 4 hari setelah lebaran.

??????????????? Aku, mba Nanik dan mba Tiyas adalah saudara sepupu atau 3 cicit yang dibesarkan bersama seperti anak ayam yang tak terpisahkan. Kami selalu bersama dalam hal apapun bahkan baju lebaran kami hampir selalu sama setiap tahunya, hingga kami memiliki sebuah misi ?Barang siapa diantara kita menikah semua wajib hadir tanpa terkecuali?, sebuah ikrar yang terdengar begitu sakral dan selalu tertanam dalam hati.

??????????????? Tahun 2012 mba Tiyas menikah, pria tampan hitam manis dari kota Malang meminang saudara sepupu tertua kami. Tangan kami saling bertumpuk, saling menatap dan menitikan air mata sebagai tanda bahagia kala itu, mba Tiyas begitu cantik dengan kebaya putih dan hijab serta mahkota perak dikepalanya. Misi kami terlaksana saat itu,kami hadir ditengah-tengah mendampingi mba Tiyas.?

??????????????? 3 Tahun mba Tiyas menjalani suka duka sebagai seorang istri dan seorang ibu muda di keluarga kecilnya, berbagi kabar hanya kami terima melalui pesan singkat atau BBM. Hari ulang tahun pangeran kecil kami sebentar lagi. Kakung adalah orang yang paling semangat membicarakan syukuran kecil-kecilan cucu pertamanya ini.

??????????????? Beberapa hari itu mba Tiyas terlihat tidak sehat, mungkin terlalu lelah atau masuk angin. 2 hari mba Tiyas terkapar di atas tempat tidur, tak kunjung sembuh, kakung memutuskan untuk membawanya ke RS. Semua tertegun kaku, melihat mba Tiyas penuh dengan alat-alat kedokteran yang menempel di tubuhnya di dalam sebuah ruangan bertulisan IGD. Semua tercengang ditemani setitik demi setitik air mata menetes tak terasa. Sesekali aku menengok kearah si Pangeran kecil kami yang tersenyum polos dengan gigi kelincinya.

??????????????? Tubuh kami semakin gemetar, bibir menempel begitu kuat dan hanya hati yang mampu berseru mewakili lantunan doa saat itu.

??????????????? ?jangan ada yang menangis di depan Ibra ya..? pesan kakung pada kami semua di depan ruang IGD sambil nada pelan memastikan bawa tidak terdengar oleh de Ibra.

??????????????? Satu-persatu bergantian masuk ke ruang IGD untuk membacakan Ayat-ayat Allah di sebelah mba Tiyas, tak kuat rasanya, hanya derai air mata yang menguasai jiwa kami. Kami ikhlas atas takdir_Mu sang maha pemberi kehidupan setelah kematian.

??????????????? ?mba?..mbaa?..mbaaa Tiyasssssss? tangis pecah di lorong sebuah rumah sakit. satu dan yang lain saling berpelukan menguatkan serta meyakinkan sebuah hal yang kami tidak inginkan terjadi. Berbalik kami menutupi diri dari pandangan de Ibra yang berada digendongan kakung saat itu , kami saling beristighfar menahan lelehan air mata demi pangeran kecil kami . aku masih tersadar dan tertuju kepada de Ibra yang seakan tak ada kuasa aku mendekatinya saat itu, ku dengar dengar lirih saat de Ibra bertanya kepada kakungnya, ?kakung..itu tante pada kenapa kok peluk-pelukan??, ?tante lagi pada main bisik-bisikan? jawab kakung, kini lelehan air mata itu tak bisa lagi ku bendung, pecah bersautan satu dan yang lainya. Mba Tiyas telah pergi , mba Tiyas telah pulang pada rumah abadi.

??????????????? Sebuah penjelasan dokter mengatakan bahwa mba Tiyas mengalami sesak nafas dikarenakan salah satu organ tubuhnya terletak tidak sesuai seperti manusia pada umumnya, paru-parunya pun bocor, kami semua mengetahuinya begitu terlambat, rasa bersalah pun hanya sebuah penyesalan yang tidak akan pernah memperbaiki sebuah keadaan, ?berusaha ikhlas adalah jalan terbaiknya.

? ? ? ? ?Mba Tiyas kembali ke dekapan Allah satu bulan sebelum pangeran kecil kami tepat berusia 3 tahun. Ibra Rasendriya Handoko, sebuah nama indah buah hati mba Tiyas yang akan selalu kami jaga. Tidurlah dengan tenang diatas sana mba Tiyas ku sayang.

??????????????? 4 hari setelah perayaan Idul Fitri tahun 2014 silam adalah pertemuan terakhir kami dilapangan bola sore itu,

? ? ? ? ? ?Dede, sama Tante Novi tu, Dede sama bunda Nanik tu?, sambil mengarahkan de Ibra ke Arah kami, adalah seperti sebuah pesan dari mba Tiyas untuk kami.

?

?

?

?

?

  • view 102