Lha Wong Jodoh Itu Tak Tertukar Kok Nduk.

novita susilaningrum
Karya novita susilaningrum Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Februari 2016
Lha Wong Jodoh Itu Tak Tertukar Kok Nduk.

?Sejatinya rasa suka tak usah diumbar,

wis disimpan saja karo ndongo (Disimpan saja sambil berdo?a).

Semakin diumbar itu akan berubah jadi hambar?

?

?Fokusku mendadak buyar dan memaksaku mencerna ucapan mba Uut sore itu.

?

?Kowe lagi jatuh cinta karo sopo to cah ayu ?? (kamu lagi jatuh cinta sama siapa si cantik?)

?

Detak nadiku melonjak naik, suhu badanku terasa panas , bibirku kaku dan beban berat seolah menimpa kepalaku. Suasana dingin dilereng merapi tepatnya di desa Cangkriman mendadak berubah seperti di gurun pasir tanpa oasis.

?

Kenapa mba Uut menembaku dengan pertanyaan sedemikian rumit ?, sementara aku sendiri tak paham dengan hatiku?.

?

?Wis to nduk ora usah terlalu okeh mikir, (udah lah sayang gak usah terlalu banyak mikir)

Jalani sing wis dadi dalanmu lan kekarepanmu, (jalani yang sudah jadi takdir dan kemauanmu).

Biar Gusti Allah yang akan menunjukan jalanya?.

?

Belum aku menyanggah pertanyaan dari mba Uut sebelumnya, sudah datang lagi sederet pernyataan panjang, namun kali ini membuat hatiku terasa mendapat oasis di gurun pasir, sedikit melegakan.

Sambil ku lihat mba Uut yang berjalan kesana kemari menyiapkan masakan ke ruang makan yang masih berada dekat dengan dapur, kami terus bercakap-cakap walau aku sendiri masih sangat dibuat pusing dengan hatiku, yang kala itu juga memang tak jelas aku akan menyandarkan hatiku pada siapa. Hanya percakapan biasa dan tidak terlalu penting, tapi mendadak itu menjadi penting saat mba Uut mengucapkan kata ?jodoh?.

?

?Jodoh, Rizky dan maut itu adalah ketentuan pasti cah ayu, jatuh cinta adalah fitrah dan menikah adalah penyempurna bagi agamamu?

?

Hemmmm?.aku sangat tertarik dengan kalimat kali ini, walau sebenernya aku sudah paham akan hal tersebut, namun kali ini terasa memiliki tantangan tersendiri, tanganku yang sedang mengelap tumpukan piring-piring dan gelas serta perabotan dapur lainya terhenti seketika, dan mucul sebuah pertanyaan dalam benaku.

?Mba Uut lalu apakah jodoh boleh aku minta??, sahutku tegas dan penuh harap dengan secarik selendang batik di tangan yang aku gunakan untuk mengelap perabotan dapur.

?

?Wahhhh?..tentu saja boleh?, sahut mba Uut dengan nada yang tak kalah semangat lebih tinggi dari nadaku sebelumnya.

Aku menjadi semakin tertarik dengan perbincangan saat itu di lereng gunung yang dingin dan berubah menjadi gurun pasir tak beroasis yang kini telah kembali menjadi lereng dingin sebagaimana mestinya.

?kamu tentu boleh meminta jodohmu siapa, mau yang seperti apa sesuai keinginanmu cah ayu, yang perlu cah ayu lakukan sekarang adalah terus memperbaiki diri, menjaga diri, mengendalikan hati, bersabar dan berikhtiar sampai pada saatnya nanti, namun cah ayu juga harus tau, bahwa ketentuan Gusti Allah lah yang mutlak, keinginanmu belum tentu sesuai dengan ketentuan Gusti Allah, tapi juga ojo cilik ati (jangan kecewa dan menyerah), lha wong jodoh itu tidak pernah tertukar kok nduk, karena qodar Allah selalu yang terbaik untuk umatNya,?.

?

Aku mengangguk-angguk sambil terus berfikir dan bertekad melakukan nasihat mba Uut sampai pada saatnya akan ada yang mendampingiku dalam ikatan halal dan kali ini akan membiarkan cinta itu menyendiri di dalam ruang yang bernama hati.

?