Nasihat Sahabat Maya" Inspirasi"

novita susilaningrum
Karya novita susilaningrum Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 April 2016
Nasihat Sahabat Maya

“Tapi bukankah yang gak asyik menurut kita, belum tentu gak asyik juga menurut Tuhan?”, sebuah kalimat yang membuatku berfikir 100 kali lipat tentang sebuah tugas baru yang aku selalu keluhkan tiga minggu lalu. Salah seorang sahabat/kakak/guru di dunia maya yang memiliki ribuan pengalaman luar biasa salah satunya tentang dunia pendidikan membuat  aku memberanikan diri mengungkap “galau” hati yang sempat membuatku menjadi malas-malasan befikir dan enggan melakukan rutinitasku. Gaya santai dengan pembawaan ramah dengan otak luar biasa namun juga terkadang sulit ditebak adalah yang bisa kusimpulkan tentang “Beliau” dari beberapa obrolan  singkat melalui dunia maya,  Sambil dek-dekan nulisnya dan mengucap kata maaf ,takut ada beberapa dugaan karakter tentang beliau yang kurang berkenan, heeee (Nyengir….pissss). Intinya nasihat pahit dan getir beliau di dunia pendidikan sangatlah  aku butuhkan untuk membuka otaku yang tertutup oleh lapisan-lapisan keegoisan yang merasa sudah berada dalam zona nyaman dalam bekerja.

Tahun ini aku mendapat sebuah tugas mengurus sebuah Izin operasional Sekolah Menengah Atas di lembaga tempat aku mengajar, jenuh dan membuat uring-uringan bukan main ketika selembar SK terpampang didepan mataku tentang tugas tersebut. Dugaanku benar, bukan  hal yang mudah ketika harus menyelesaikan sebuah tugas yang berhubungan dengan para pejabat dengan khas seragam coklat . Blank…..entah harus memulai dari mana dan bagaimana ?. Proposal bukanlah hal yang sulit untuk aku buat dalam hitungan jam, namun lampiran-lampiran persyaratan rumit perijinan sekolah masih menjadi ceklis panjang sebagai persyaratan sebuah proposal  permohonan izin pendirian sebuah sekolah, surat domisisli, surat rekomendasi dari lurah dan camat, persetujuan warga, tanda tangan 100 warga sekitar sekolah,  logo sekolah, denah lokasi, permohonan survey kelayakan sekolah dan bla bla bla,  belum lagi persyaratan  intern sebagai sekolah swasta yang sumber dananya hanya dari yayasan, ditambah para pejabat pengurusan ijin yang kadang begitu sulit ditemui dan berbelit-belit , Hadeeehhh….pusing , penat dan sulit bernafas rasanya.

Tiga minggu awal aku masih tak bisa berdamai dengan tugas baru ini, aku lebih nyaman mengajar  dari pada mengurus sebuah izin pendirian sekolah yang begitu  rumit dibanding perubahan –perubahan kurikulum yang sebenarnya hanya bolak-balik pada itu itu saja juga draf RPP dan administrasi keguruan lainya yang selalu berganti-ganti, tapi paling tidak aku tidak harus sampai dibuat manyun dengan orang-orang asing yang aku temui untuk sebuah proposal yang kadang mendapat revisi bahwa "lampiran ini belum dan itu belum,  tidak begini dan tidak begitu", tanpa diberikan contoh jadi dari para pemrotes kerja kerasku.

Saat ini proposalku sudah bisa dikatakan mencapai tingkat akhir sebelum sampai kembali ke tingkat Dinas Pendidikan untuk memperoleh ijin resminya, dan  2 minggu terkahir dibulan ini saya merasa bersahabat dengan tugas baru itu, saya menikmati dengan ritme kerja baru dalam rutinitasku di sela-sela tugas utamaku mengajar para bocah lincah yang aku sebut dengan sahabat kecil, ternyata menyenangkan meskipun  kadang juga cukup membuat jengkel ulah para pihak-pihak yang bersangkutan dalam proses meloloskan izin pendirian sekolah tersebut, tapi mungkin itulah salah satu seni  bekerja.  “kita harus selalu siap untuk apapun dan dimanapun”  kembali nasihat itu menguatkan tekadku dan percaya bahwa sebuah hasil manis muncul melalui proses panjang, bukan proses instan.

Terimakasih untuk nasihat luar biasa , tetap selalu membutuhkan bimbingan untuk sampai pada sebuah kata “goal”, satu nasihat lagi yang menjadi bekal semangatku adalah “kita tidak pernah tahu apa peran dan takdir kita di dunia ini, hingga setelah semua kita jalani selama beberapa waktu, barulah tiba kesempatan untuk “memilih” akan ada dimana dan menjadi apakah kita?”, jadi  jalanilah, pelajarilah dan lakukanlah dari hati.