Nelayan Sebagai Ujung Tombak Penggerak Ekonomi Kerakyatan

Novira Kharamyna
Karya Novira Kharamyna Kategori Politik
dipublikasikan 20 September 2016
Nelayan Sebagai Ujung Tombak Penggerak Ekonomi Kerakyatan

Indonesia sebagai Negara Maritim telah diakui keberadaannya oleh dunia dan juga pernah mengalami masa kejayaannya di masa kerajaaan Sriwijaya dan Majapahit, oleh karenanya sektor kelautan dan perikanan merupakan sektor yang berpengaruh sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan ditujukan sebesar-besar untuk kesejahteraan rakyat.

Ekonomi kerakyatan itu sendiri membutuhkan penguatan di mana salah satunya dengan pemberdayaan sumber daya manusia secara layak sebagai pelaku di sektor kemaritiman. Pelaku kemaritiman yang berkontribusi besar adalah nelayan, sebagai salah satu sumber daya manusia yang sudah sejak dulu menjadi profesi rakyat pesisir Indonesia dan secara turun-temurun menjadi lapangan pekerjaan yang sangat diandalkan.

Nelayan sebagai pelaku utama dapat kita rasakan perannya selama ini dengan tersedianya bahan pangan bergizi bagi masyarakat, bahan baku untuk kegiatan usaha di sektor hilir dan turut serta dalam menjaga dan menegakkan kedaulatan bangsa di laut.

Peran serta nelayan di dalam pembangunan perekonomian Indonesia ini patut didorong dan difasilitasi oleh pemerintah agar nelayan dapat berperan aktif dalam program pembangunan ekonomi kerakyatan yang berpihak pada mereka (Ditjen Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, 2014).

Nelayan di Pantai Selatan dapat kita jadikan sebagai contohnya, salah satu pantai yang dapat diakui keindahan dan keaenakaragaman biota lautnya adalah Pantai di Desa Sawarna yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Pantai di Desa Sawarna diantaranya adalah Pantai Ciantir, Pantai Tanjung Layar dan Karang Taraje, yang berpasir putih dan halus.

Sawarna memiliki nelayan aktif yang berjumlah 300 orang yang terdiri dari nelayan pancing dan nelayan jaring, namun organisasi nelayan mereka sudah vakum dan beralih menjadi organisasi paguyuban wisata. Pak Ade Sudrajat yang merupakan ketua organisasi nelayan selama 15 tahun mengakui bahwa aktivitas nelayan menurun karena mereka berkompetisi dengan perusahaan swasta dalam menjaring hasil laut.

Kapal besar milik swasta yang lalu lalang di laut ini memang menjadi kompetitor terberat bagi nelayan, teknologi yang lebih unggul dan daya muat kapal yang lebih besar sangat menekan penghasilan nelayan, seperti nelayan yang kami temui sesaat setelah mereka melabuhkan kapal kecilnya, mereka hanya mendapat hasil tangkapan yang tidak seberapa dan jika diuangkan hanya sebesar 50 ribu rupiah. Profesi sebagai nelayan pun teralihkan dengan dijadikanya Desa Sawarna sebagai objek wisata yang incomenya lebih menjanjikan.

Saya yakin sekarang ini pemerintah memang sangat gencar dalam mendukung sektor kemaritiman, tapi semoga pantai selatan seperti Sawarna ini bisa menjadi contoh agar mereka yang mata pencaharian utamanya sebagai  nelayan tidak tergantikan karena fasilitas dan sosialisasi yang kurang dari pemerintah.

  • view 216