Menyerahkan Kebahagiaan

novie ocktavia
Karya novie ocktavia Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 08 Februari 2016
Analgesic Through A Story (Analgestory)

Analgesic Through A Story (Analgestory)


Kategori Acak

741 Hak Cipta Terlindungi
Menyerahkan Kebahagiaan

Entah mengapa, hari ini senja datang lebih lambat daripada biasanya. Ah bukan! Tentu ini ulah relativitas. Menunggu memang seringkali menjadikan segalanya terasa lebih lambat, bukan? Sejak siang tadi, aku tak henti memandang ke arah jendela. Berharap semburat warna keemasan di langit sana akan datang lebih cepat. Tapi, mendung sore ini tampak datang bergulung-gulung, disertai petir yang nyata mengabarkan pada kita bahwa langit sungguh masih ada. Bagaimanapun juga, terimakasih telah datang kembali ke terasku.

Ini gerimis, masuklah! Akan kusiapkan untukmu secangkir teh hijau hangat. Atau, jika kamu tak suka, akan kuganti dengan cokelat atau kopi hangat seperti biasanya. Selain itu, tentu aku juga telah menyiapkan untukmu sebuah cerita tentang bahagia untukmu sore ini. Kuulangi sekali lagi, cerita tentang bahagia. Bukan cerita bahagia. Jadi, jangan dulu beranggapan bahwa sore ini tak akan ada luka yang akan kita coba untuk sembuhkan. Tetap ada.

Berbicara tentang bahagia, kita seringkali terusik untuk menyerahkan urusan kebahagiaan kita kepada orang lain. Maksudku, kita seringkali menjadikan orang lain atau sesuatu yang lain yang ada di luar diri kita sebagai sumber kebahagiaan kita. Hingga kita menjadi lupa bahwa nyatanya kebahagiaan itu berada dalam diri kita sendiri, kita hanya perlu menghadirkannya.

(Si)apa sumber kebahagiaanmu? Dulu, aku memang menganggap bahwa kebahagiaan adalah akibat dari sebab-sebab yang aku lakukan untuk orang lain atau untuk diriku sendiri. Misalnya, aku harus menjadi juara kelas dulu agar bisa membahagiakan orangtuaku, aku harus menjadi adik yang baik dulu agar bisa membahagiakan kakakku, atau aku harus mencapai ini dan itu dulu agar aku bisa membahagiakan diriku sendiri. Ternyata, rasanya melelahkan jika hidup hanyalah dihabiskan untuk mencari-cari atau menemukan bahagia. Nyatanya, bahagia harus kita ciptakan sendiri!

Meski mungkin ada kebahagiaan orang lain yang terletak pada diri kita dan begitupun sebaliknya, kita tetap tidak bisa menjadikan orang lain atau kondisi-kondisi lain di luar diri kita sebagai sumber kebahagiaan. Sederhananya, kita tidak pantas menyerahkan perwujudan kebahagiaan kita di bawah tanggungjawab orang lain.

Kamu tahu mengapa kecewa itu ada? Salah satunya adalah karena kita, dengan sengaja atau tidak, menyerahkan kebahagiaan kita menjadi tanggungjawab orang lain atau sumber lain. Bayangkan jika sumber kebahagiaan kita adalah uang, mungkin kita akan meronta dan menggerutu tidak bahagia jika tak ada selembar pun uang di dompet kita. Bayangkan juga jika sumber kebahagiaan kita adalah orang lain, orang yang kepadanyalah kita menitipkan hati. Lalu, ketika orang itu pergi, kita lantas berputar dengan kecewa, menganggap ia tidak menepati janji atau bahkan memaki-maki karena ia dianggap gagal memberikan kebahagiaan. Padahal, kesalahannya adalah karena kita berekspektasi.

Aku tak bisa menjaminkan apa-apa soal kebahagiaanmu. Begitupun sebaliknya, kamu tak bisa menjamin kebahagiaanku. Bukankah kita juga tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi dengan diri kita di waktu yang akan datang? Kalau begitu, mengapa kita lancang menjanjikan kebahagiaan bagi orang lain?

Mulai sekarang, kita mungkin tidak lagi perlu mencari-cari kebahagiaan. Jika kita paham kuncinya, kebahagiaan akan datang sendiri tanpa harus kita berlelah mencari. Adalah mengganti cara pandang dan bersyukur, dua hal yang perlu kita upayakan agar bisa menghadirkan kebahagiaan. Dunia begitu berpotensi untuk mengecewakan kita. Tapi, sabar dan syukur adalah penawarnya.

Pulanglah, hari sudah malam. Aku tak ingin kamu tersesat karena tak banyak lampu yang terpasang di jalanan menujuku. Tapi, tentu saja akan ada sesuatu yang menghantarkanmu kembali esok pagi. Rindu misalnya.

  • view 281