Psycholostory : Phobia atau Takut Biasa?

novie ocktavia
Karya novie ocktavia Kategori Psikologi
dipublikasikan 27 Januari 2016
Psycholostory

Psycholostory


Kategori Acak

630 Hak Cipta Terlindungi
Psycholostory : Phobia atau Takut Biasa?

Hallo semuanya! Kali ini Psycholostory bakal bahas tentang phobia. Yup, ini masih tentang cakupan Psikologi Klinis yang dibahas manis dan praktis. Haha. Sebelumnya kamu pasti pernah dong dengar tentang phobia? Sekarang ini semakin banyak orang membicarakan tentang phobia. Sebagian memang membicarakannya dengan konteks dan pemilihan kata yang tepat. Tapi, masih banyak juga yang asal sebut phobia tanpa tau pasti apa itu phobia. That?s why I write this post! Semoga bermanfaat ya. Check this out ?

Phobia itu apa sih?

Literally, phobia bisa diartikan sebagai rasa takut yang hebat dan tidak masuk akal terhadap suatu objek tertentu, yang sebenarnya tidak wajar atau tidak menimbulkan bahaya. Penderita biasanya sadar kalau ketakutannya itu gak wajar, tapi ya tetep aja sangat-takut-banget. Perasaan ini menetap, biasanya selama 6 bulan atau lebih. Objek phobia setiap penderita bisa berbeda-beda: ketinggian, petir, balon, kapas, hewan tertentu, darah, rambutan, pisang, rambut, gergaji, atau yang lainnya.

Selain memang objeknya gak wajar, phobia beda sama takut biasa, lho. Kalau takut yaudah takut aja gitu, perasaan takut gimana sih, ngerti kan? Hehe. Bedanya, phobia disertai sama gejala-gejala fisik yang lain seperti sakit kepala, sakit punggung, pusing, mual, gatal, atau sakit perut. Contoh: X yang phobia cicak jadi mual plus gatal-gatal (tapi gak tau gatalnya di sebelah mana) setiap kali lihat cicak. See? Jadi, kalau takut biasa ya jangan dibilang phobia dong J

Kenapa sih orang kok bisa sampai phobia?

Phobia digolongkan sebagai gangguan kecemasan atau anxiety disorder, tapi penyebabnya bisa berbeda-beda untuk setiap orang. Kalaupun ada dua orang yang sama-sama phobia katak, sebabnya belum tentu sama. Singkat cerita, ini nih contoh penyebab phobia:

  1. Melebih-lebihkan rasa takut terhadap sesuatu hal.

Contoh: X sebenarnya takut biasa terhadap api, tapi secara sadar atau tidak sadar ia mensugesti dirinya untuk melebih-lebihkan rasa takut secara terus-menerus terhadap api.

  1. Kecemasan yang tidak disadari dipindahkan ke objek netral.

Contoh: X adalah seorang perempuan yang sangat menyayangi Ibunya. Saat X masih kecil, Ibunya dirawat di Rumah Sakit sehingga X merasa cemas ditinggalkan oleh Ibunya. Ketika merasakan kecemasan itu, X melihat seekor katak. Secara tidak sadar, X memindahkan rasa cemas terhadap Ibunya menjadi ketakutan terhadap katak.

  1. Secara tidak sadar memasangkan objek tertentu dengan kejadian yang menakutkan.

Contoh: Seorang anak yang jatuh ke sungai kemudian tenggelam karena tidak bisa berenang menggeneralisasi peristiwa tenggelam itu terhadap air sehingga anak tersebut menjadi phobia terhadap air.

Kapan phobia muncul?

Meskipun kejadian penyebab phobia terjadi saat masa kecil, biasanya phobia muncul untuk pertama kali ketika penderita berusia remaja atau dewasa. Kebanyakan sih di usia remaja. Kenapaaa? Soalnya remaja emosinya kan gak stabil, alias up and down. Ohooo, jadi kalau anak kecil ga bisa phobia? Kalau masih kecil, mungkin bukan phobia. So, jangan suka nakut-nakutin anak kecil sama hal yang gak patut ditakuti, ya! Baca lagi deh di atas, salah satu penyebab phobia kan melebih-lebihkan rasa takut.

Kalau ternyata memang phobia, terus harus gimana?

Paling bener sih datang ke klinik Psikologi buat dapet penanganan dari Psikolog. Penanganannya disesuaikan dengan diagnosa phobia, bisa dikasih terapi atau treatment lain (yang jelas Psikolog ga akan ngasih kamu obat). Berdasarkan pengalaman, salah satu jenis terapinya adalah Cognitive Therapy. Kapan-kapan kita bahas, ya!

So, udah tau kan apa itu phobia? Sekarang ga boleh asal sebut phobia lagi, ya!

?

Picture from here.

  • view 178