Psycholostory : Self Disclosure

novie ocktavia
Karya novie ocktavia Kategori Psikologi
dipublikasikan 27 Januari 2016
Psycholostory

Psycholostory


Kategori Acak

633 Hak Cipta Terlindungi
Psycholostory : Self Disclosure

Psycholostory #19 : Self-Disclosure

Sebagai individu yang hidup di dunia sosial, kita adalah mahkluk sosial yang tidak pernah terlepas dari hubungan komunikasi dengan orang lain, bahasa kerennya adalah komunikasi interpersonal. Kita melakukan komunikasi dengan banyak orang setiap harinya, baik melalui telepon, pesan singkat, atau bahkan berbicara secara langsung. Tahukah kamu, ada satu hal yang penting dalam komunikasi, yaitu pengungkapan diri atau self-disclosure. Apa itu?

Pembahasan tentang self-disclosure ini datang dari ilmu Psikologi Sosial, sebuah cabang ilmu Psikologi yang mempelajari interaksi individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan individu, dengan menekankan pada fungsi serta kondisi psikologis yang terjadi.

Tidak semua komunikasi bisa dikategorikan self-disclosure. Judy C. Pearson (1983) dari Ohio University dalam jurnalnya yang berjudul ?Interpersonal Communication ? Clarity, Confidence, and Concern? mengatakan bahwa self disclosure adalah sebuah bentuk komunikasi dimana seseorang menyampaikan informasi yang akurat tentang dirinya terhadap orang lain secara sukarela dan didasari oleh adanya niat. Informasi tersebut merupakan informasi-informasi personal yang terkait dengan dirinya yang tidak akan didapatkan oleh orang lain dari sumber lain. Bergerak dari informasi yang memiliki resiko rendah seperti ?Saya takut petir?, sampai dengan informasi dengan resiko tinggi seperti ?Saya berasal dari keluarga broken home.?

Coba lihat dari definisinya, setidaknya ada tiga hal yang jadi fokus dari self-disclosure, yaitu (1) informasi yang disampaikan haruslah akurat, jadi kalau kamu menyampaikan suatu tentang dirimu tapi kamu bohong, itu bukan self-disclosure, (2) self-disclosure harus dilakukan secara sukarela tanpa perintah atau paksaan, jadi kalau kamu sedang berada dalam situasi interview dimana kamu diminta untuk menyampaikan banyak hal tentang dirimu, itu bukan self-disclosure, (3) self-disclosure didasari adanya niat untuk menyampaikan suatu informasi tentang dirimu terhadap orang lain.

Apakah semua orang bisa melakukan self-disclosure? Tentu! Semua orang bisa melakukan hal ini. Tapi, beberapa mungkin merasa kesulitan untuk melakukannya karena merasa malu, ragu, atau sulit menaruh kepercayaan kepada orang lain.

So, gimana caranya supaya kita bisa melakukan self-disclosure? The very first things yang harus kamu lakukan adalah menerima dirimu seutuhnya, termasuk menerima kekurangan dan kelebihan yang ada dalam dirimu. Selain itu, penerimaan diri juga berarti menerima dan memaafkan masa lalu. Kalau kamu aja gak bisa menerima dirimu, gimana bisa kamu menyampaikan informasi personal tentang dirimu secara sukarela terhadap orang lain?

Self-disclosure ini berhubungan sama tingkat kepercayaan kita kepada orang lain, lho! Pertanyaannya apa yang duluan? Percaya dulu sama orang baru bisa self-disclosure, atau self-disclosure dulu baru bisa percaya sama orang lain? Intinya, dua-duanya saling berpengaruh. Kamu bisa percaya sama orang lain karena kamu ngerasa diterima sama orang itu saat kamu lagi self-disclosure, atau kamu bisa self-disclosure ke orang lain karena ngerasa percaya. Yah ini sama aja kayak pertanyaan mana yang duluan antara ayam atau telur. Hahaha.

Penting nih, self-disclosure bisa membuat hubunganmu dengan orang lain menjadi lebih berkualitas. Mengapa? Karena informasi dan opini yang dibagi tidak hanya seputar masalah yang itu-itu saja, tapi juga masalah lain yang lebih membuat komunikasi menjadi lebih terbuka.

Gimana? Is there any question? Happy self-disclosing!

?

Picture from here

  • view 133